
"Jangan suka semena-mena sama orang. Daritadi kami memojokkan juga ada alasannya dan bukti kuatnya. Kalau memang kalian atau siapa pun pelayan itu tak merasa bersalah maka tak perlu takut untuk membuka CCTV di toko ini. Apa lagi beralasan rusak" ucap Arnold yang kemudian berjalan maju dengan pelan.
Melihat Arnold berjalan pelan kearahnya dengan mata menatap tajam Inge membuat pelayan itu mundur seketika. Tatapan Arnold itu bak mata pisau yang siap menguliti dan mencacah tubuhnya menjadi bagian kecil.
Mama Anisa dan Nenek Hulim tersenyum sinis melihat ketakutan Inge dan beberapa orang disana. Jangan harap mereka bisa mengusik ketiga orang itu jika sudah bersatu. Walau Nenek Hulim dan Mama Anisa sudah tua bahkan kekuatannya sedikit menurun karena usia dan Arnold masih lah anak kecil namun jangan pernah remehkan mereka.
"Cepat tunjukkan CCTV toko ini atau saya akan membuat pegawai anda ini masuk IGD" titahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Inge.
"Duh... Jangan nglawak, anak kecil kaya kamu bisa apa sih? Saya tendang aja nih pakai kaki saya juga nantinya jatuh dan nangis kamu" ucap Inge meledek sambil tertawa sumbang.
Walaupun rasa takut mendominasi namun Inge berusaha untuk tak memperlihatkannya. Bahkan ia menantang Arnold dengan wajah angkuhnya untuk menyembunyikan rasa takutnya. Tanpa aba-aba...
Dugh...
Arrghhhhh....
Arnold menendang tulang kering Inge membuat gadis itu memekik kesakitan. Bahkan rekan-rekannya disana juga langsung menatap ngilu kejadian tadi. Arnold merasa tertantang karena ditantang oleh Inge. Apalagi ini menyangkut saudaranya.
"Cepat perlihatkan rekaman CCTV itu atau saya patahkan tangan karyawanmu itu" titah Nenek Hulim dengan nada sinisnya.
Mama Anisa juga langsung menggendong Arnold agar anak itu nantinya tak diserang balik oleh Inge dan yang lainnya. Ia juga tak mau jika Arnold sampai kelepasan menghajar Inge dan membuat keributan di toko tas itu.
__ADS_1
Akhirnya dengan langkah ragu pemilik toko mengambil ponsel yang disimpannya di saku kemudian mencoba mengotak-atiknya sebentar. Namun Nenek Hulim dengan sigap merebut ponsel itu kemudian melihat rekaman CCTV nya bersama dengan Mama Anisa. Nenek Hulim yakin jika nanti sudah di otak-atik pasti akan ada sesuatu yang disembunyikan.
"Lihat bagian ini... Beruntung ini CCTV bisa sekalian merekam suaranya. Dia mengatai cucu saya buat beli popok aja daripada tas. Anda pikir kami sesulit itu untuk beli popok hingga harus mengorbankan kesukaan kami beli tas" sentak Nenek Hulim tak terima.
Plak... Plak...
"Ini untuk kamu yang sudah memarahi cucu-cucu saya" ucap Nenek Hulim setelah menampar Inge.
"Kami akan memviralkan kasus ini agar toko dengan pelayanan tak baik ini sepi pembeli terus bangkrut. Lagi pula kalau salah kok ya dibela sih" sindirnya.
Inge memegang kedua pipi nya yang terasa kebas karena mendapatkan tamparan maut dari Nenek Hulim. Bahkan ketiganya langsung pergi setelah Nenek Hulim berhasil memindahkan rekaman CCTV itu ke ponselnya. Walaupun dia harus memasukkan kode-kode rumit namun itu bukan lah sesuatu yang sulit baginya yanv sudah wara-wiri di dunia bisnis.
Ketiganya melenggang keluar dari toko tanpa jadi membeli tas yang sudah mereka kumpulkan di meja kasir. Bahkan pemilik toko dan semua karyawan disana terlihat terdiam membatu karena tindakan tiba-tiba dan ucapan dari Nenek Hulim itu.
Melihat Nenek Hulim, Mama Anisa, dan Arnold keluar dari toko itu, semuanya langsung beranjak pergi. Alan dan Fikri sudah ditenangkan sedangkan Andre langsung mengambil alih Arnold ke dalam gendongannya. Badan Arnold sedikit hangat lagi karena mungkin bocah kecil itu terlalu memaksakan untuk berani melawan.
"Badan Arnold sedikit hangat nih, bund" ucap Andre dengan berjalan sedikit cepat.
"Bawa ke rumah sakit aja" saran Mama Anisa.
Mereka menganggukkan kepalanya dengan cepat. Memang benar jika setelah kejadian tadi berdebat dengan Inge terus digendong oleh Mama Anisa ternyata membuat Arnold menjadi pendiam lagi. Saat mereka sedikit panik dengan berjalan kearah pintu keluar mall, tiba-tiba saja mereka dicegah oleh beberapa satpam dan pemilik toko juga karyawannya.
__ADS_1
Mama Anisa dan Nenek Hulim menghela nafasnya kasar karena mendapatkan gangguan seperti ini lagi. Disaat keadaan darurat malah ada orang-orang yang ingin mencari masalah dengan mereka.
"Jangan pergi dulu. Setelah menyebabkan kekacauan dan kerugian di toko saya langsung dengan seenaknya mau pergi. Tanggungjawab dan ganti rugi" sentak pemilik toko itu.
Pemilik toko itu seakan lupa sedang berhadapan dengan siapa. Bahkan dengan beraninya ia berteriak sambil menunjuk-nunjuk kearah Mama Anisa. Keributan ini sontak saja membuat beberapa pengunjung mall berkerumun ingin tahu.
"Ndre, bawa Arnold segera ke rumah sakit. Biar ini jadi urusan mama" ucap Mama Anisa yang sudah geram.
Ia juga tak ingin jika nanti anak-anak kecil yang dibawanya akan ketakutan melihat aksinya yang mungkin akan brutal menghadapi orang-orang didepannya ini. Andre menganggukkan kepalanya kemudian akan segera melangkahkan kakinya keluar namun Arnold mencegahnya.
"Jangan pergi, pa. Disini aja, kita harus bantu nenek melawan mereka. Arnold nggak papa kok" ucap Arnold dengan senyum tipisnya.
Andre bingung harus menuruti siapa kali ini namun melihat tatapan anaknya yang memintanya tetap disini akhirnya membuatnya menuruti keinginan Arnold. Namun Papa Nilam dan Nadia langsung menggiring yang lainnya agar pergi dari sana agar telinga mereka tak tercemari oleh kata-kata kasar.
"Kalau kamu nggak kuat, langsung bilang sama papa" ucap Mama Anisa pada cucunya.
Arnold hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Lagi pula menurutnya ini adalah terapi baginya agar bisa segera terbebas dari trauma yang membelenggunya.
"Maksud anda apa? Tanggungjawab dan ganti rugi apa yang kalian inginkan?" tanya Mama Anisa dengan sinis.
"Kalian harus membayar semua tas yang sudah kalian ambil dari etalase. Enak saja sudah dibawa ke kasir tapi tak mau bayar. Kalau tak mampu ya nggak usah masuk ke toko kami dan pura-pura beli dong" seru pemilik toko itu dengan sinis.
__ADS_1
Mama Anisa dan Nenek Hulim kini paham dengan maksud pemilik toko itu yang membawa satpam juga berteriak seperti ini. Pasti dia ingin menarik simpati pengunjung mall agar membelanya dengan begitu bisa mendesaknya agar melakukan apa yang dia mau. Namun keduanya bukan lah orang bodoh yang dengan seenaknya bisa dipermainkan seperti ini.