
"Yo... Papa isa, halus isa alan" seru Arnold sambil menggoyangkan pinggulnya.
Bahkan kedua tangannya sudah diangkat keatas sambil terus berteriak di ruang khusus terapi jalan itu. Beruntung disana hanya ada Andre dan keluarga beserta dokter yang merawat, kalau ada oranglain pasti mereka akan ditegur karena mengganggu. Padahal bocah itu hanya menyemangati namun entah mengapa tingkahnya malah seperti sedang berjoget dangdut.
Argghhhh...
Andre memekik kesakitan sambil memegang sebelah kakinya yang terasa dipukul oleh batu. Baru pertama kali menapakkan kaki saja rasanya Andre sudah ingin menangis saja. Tadi dia dibantu oleh seorang dokter untuk berdiri, namun saat kaki tanpa alasnya menapak di lantai seketika saja dia membungkukkan badannya.
Ia merasakan seakan ada beban berat dan pukulan di kakinya. Dokter yang melihat hal itu segera membantunya untuk duduk kembali di kursi roda bersama dengan therapis yang ada disana. Namun Andre menggelengkan kepalanya tak mau, ia takkan menyerah sebelum mencoba lagi. Apalagi kini Arnold dan keluarganya yang lain masih terus menyemangatinya.
"Biarkan aku mencobanya lagi, dok. Nanti lama kelamaan aku juga akan terbiasa dengan rasa sakit ini" ucap Andre.
"Baiklah, tapi kalau terlalu sakit jangan dipaksakan. Perlahan saja asalkan rutin" ucap dokter itu.
Mama Anisa dan Nadia sedari tadi hanya bisa meringis ngilu saat Andre memekik kesakitan. Sedangkan Anara dan Abel matanya berkaca-kaca karena tak tega melihat papanya yang kesakitan. Arnold masih melihat dengan tatapan penuh semangat didekat papa dan dokter itu.
"Yo papa, cemangat. Bial isa ain ola cama Anol agi" seru Arnold lagi saat melihat Andre kembali berdiri.
Andre kembali tersenyum kepada anak laki-lakinya yang tengah menyemangati dirinya itu. Ia akan berusaha keras untuk bisa berjalan kembali, takkan pernah ia biarkan binar mata anak-anaknya itu redup hanya karena dirinya.
"Iya, ayo papa semangat. Masih ingat kan kalau kita mau ke mall beli es krim lagi? Papa harus bisa jalan lagi" seru Anara ikut menyemangati.
Mendengar semangat dari anak-anaknya, Andre saat ini berusaha keras untuk menahan rasa sakitnya. Ia mencoba bertahan untuk berdiri sebentar, lalu saat sakit melanda ia duduk. Begitu seterusnya karena memang agenda hari ini hanya untuk awalan saja dan terapinya pun untuk membiasakan kaki Andre agar bisa berdiri lebih lama.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan terapi, Nadia mendekat kearah Andre kemudian mendorong kursi rodanya untuk keluar dari ruangan itu. Jadwal terapi selanjutnya adalah minggu depan. Kini Mama Anisa dan ketiga cucunya telah berjalan didepan Nadia yang mendorong kursi roda.
"Terimakasih sudah mau berjuang dan bertahan dengan rasa sakit saat terapi tadi. Semangat terus, aku mencintaimu" bisik Nadia tepat di telinga Andre.
Andre yang mendengar ucapan Nadia pun merasa terharu bahkan matanya kini berkaca-kaca. Ia tak menyangka mendapatkan banyak kasih sayang, semangat, dan cinta dari orang-orang terdekatnya.
"Terimakasih... Terimakasih sudah mendukungku, aku juga mencintaimu" ucap Andre sambil mendongakkan kepalanya agar bisa menatap kekasihnya.
Nadia hanya bisa tersenyum malu-malu saat matanya bersibobrok dengan mata indah milik Andre. Bahkan kini pipinya sudah memerah dan salah tingkah, sedangkan Andre terkikik geli melihat kekasihnya itu yang malu-malu kucing.
"Unda dan papa napa ama alannya?" seru Arnold dari jarak yang lumayan jauh.
Nadia dan Andre yang masih terpaku dengan tatapan penuh cintanya segera saja mengalihkan pandangannya kearah seruan Arnold. Mereka berdua meringis malu saat Mama Anisa mengedipkan matanya menggoda keduanya. Kemudian dengan cepat Nadia mendorong kursi roda Andre agar lebih mendekat kearah Mama Anisa dan ketiga bocah kecil itu.
Sedangkan Arnold sudah melipat kedua tangannya didepan dada kemudian menatap selidik kearah keduanya. Andre merasa kesal karena sedari dulu Arnold ini selalu merusak suasana romantis yang tercipta diantara dia dan Nadia. Andre hanya bisa menghela nafasnya sabar karena sesungguhnya saingan terbesarnya ketika ingin berduaan dengan kekasihnya adalah ketiga anaknya sendiri terutama Arnold.
"Sudah... Ayo kita segera pulang" lerai Nadia.
Akhirnya semua pun pulang ke rumah menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Mama Anisa. Ketiga anak Andre tertidur didalam mobil karena kelelahan akibat terlalu bersemangat menyemangati Andre.
***
Kini Andre tengah duduk berdua dengan Nadia yang berada disampingnya. Setelah dari rumah sakit, Mama Anisa dengan ketiga cucunya langsung masuk ke dalam kamar sedangkan Nadia dan Andre memilih duduk di ruang keluarga. Keduanya menikmati moment berdua bersama tanpa adanya gangguan dari ketiga bocah kecil itu.
__ADS_1
"Nad, maaf untuk rencana pernikahan kita yang tertunda" ucap Andre dengan tatapan bersalahnya.
"Tak apa. Mungkin Tuhan sedang menguji cinta kita untuk lebih kuat lagi agar saat nanti membina rumah tangga, kekuatan cinta kita tak mudah goyah" ucap Nadia dengan bijak.
Andre menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Andre bahagia karena Nadia sangat bijak dan dewasa dalam hal menanggapi kegagalan rencana pernikahan mereka.
"Maukah kamu menungguku sampai aku bisa berjalan kembali? Dan aku juga akan melakukan operasi bedah plastik di luar negeri untuk mengembalikan bentuk wajahku lagi" tanya Andre dengan penuh harap.
Semalam dia sudah berbicara dengan kedua orangtuanya bahwa setelah bisa berjalan, dia akan melakukan operasi bedah plastik ke luar negeri. Kedua orangtuanya menyetujui keputusan Andre asalkan anaknya mau bangkit dari keterpurukan. Setelah operasi dilakukan, dia akan segera menikahi Nadia.
Sebenarnya Nadia terkejut dengan ucapan Andre, namun dia selalu berusaha untuk mendukung apapun keputusan kekasihnya itu. Asalkan semua keputusan itu harus dibicarakan dengannya apalagi dirinya masih berstatus sebagai kekasih Andre.
"Apapun itu yang terbaik untukmu, aku pasti mendukung. Aku akan selalu menunggumu asalkan kamu tak mengkhianatiku dibelakang" ucap Nadia sambil tersenyum.
"Tidak akan pernah aku mengkhianatimu, bisa-bisa dihajar habis-habisan nanti aku sama mama dan Arnold" ucap Andre mendengus sebal.
"Oh... Jadi kamu nggak mengkhianatiku karena takut sama mama dan Arnold, iya?" ucap Nadia sambil menatap tajam kearah Andre.
Andre gelagapan setengah mati saat melihat kekasihnya salah paham dengan ucapannya. Ia segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, kemudian menarik tangan Nadia agar lebih mendekat. Nadia pun hanya memalingkan wajahnya berpura-pura marah dengan Andre. Padahal aslinya dia kini sedang menahan tawanya melihat wajah panik dari Andre.
"Maaf ya kekasihku, aku nggak bermaksud begitu. Itu kan maksudnya hanya akibatnya saja kalau aku main belakang akan dihajar oleh mama dan Arnold. Aku pun nggak berniat untuk mengkhianatimu, aku sudah cinta mati padamu. Maaf ya Nadiaku sayang" ucap Andre dengan memelas.
Nadia yang mendengar itu langsung saja tak bisa menahan tawanya, dia tertawa terbahak-bahak melihat wajah panik kekasihnya. Andre yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal karena dijahili oleh kekasihnya itu.
__ADS_1