
Andre memeluk keempat anaknya dengan erat dan menangis didalam pelukan mereka setelah mengetahui bahwa Nadia telah sadar. Penantiannya selama satu tahun lebih kini terbayar sudah dengan bangunnya sang istri dari tidur panjangnya.
Wajahnya yang dulu segar kini seakan tak terurus dengan kantung mata menghitam yang terdapat dibawah kedua matanya. Hal ini menandakan bahwa selama ini Andre terlalu memikirkan Nadia dan kehidupan anaknya. Namun kini mata itu memancarkan kebahagiaan yang begitu kentara. Andre telah melalui masa sulitnya tanpa adanya sang istri namun dia membuktikan bahwa dirinya sosok yang setia walaupun perannya sebagai seorang ayah dikesampingkannya.
"Terimakasih, Tuhan.." ucapnya lirih.
Bahkan keempat anaknya juga menitikkan air matanya karena mendengar kabar bahagia itu. Akhirnya adik bungsu mereka bisa merasakan pelukan dari ibu kandungnya setelah sekian lamanya. Bahkan anak sambungnya juga akan kembali merasakan kasih sayang dari seorang ibu.
***
Kini Nadia telah dipindahkan ke ruang rawat inap setelah menjalani beberapa pemeriksaan dan observasi keseluruhan. Dokter hanya mengatakan kalau semua kondisinya baik-baik saja bahkan stabil, hanya saja kakinya mengalami lumpuh sementara karena selama satu tahun lebih ini tak digerakkan. Cukup nanti menjalani terapi jalan saja untuk melatih otot dan saraf kakinya.
Semua begitu bersyukur dengan keajaiban yang Tuhan berikan, terlebih tak ada masalah serius pada tubuh Nadia. Mereka semua akhirnya masuk kedalam ruang rawat inap Nadia kemudian mendekat kearah wanita yang tengah tertidur itu.
"Arnold mau naik keatas" ucap Arnold memerintah papanya dengan merentangkan kedua tangannya.
"Jangan dulu ya, bunda lagi istirahat. Lebih baik kita duduk disana sambil nonton tv" ucap Andre dengan lembut sambil mengelus rambut anaknya itu.
Dengan wajah ditekuknya, Arnold menganggukkan kepalanya kemudian berjalan bersama kedua kakaknya untuk duduk kearah karpet yang ditunjuk oleh Andre. Begitupun dengan Papa Reza yang menggendong Alan, ia menaruh cucunya itu untuk duduk bersama saudaranya yang lain. Setelahnya ia segera bergabung dengan Andre dan Mama Anisa yang kini duduk di sofa ruangan itu.
"Mertuamu sudah kamu beri kabar?" tanya Papa Reza. pada anaknya.
"Belum, pa" jawab Andre sekenanya.
__ADS_1
"Nggak usah dikabari, Ndre. Buat apa dkabari, satu tahun ini aja mereka nggak tanya kok gimana anaknya. Benar sih kalau udah menikah itu semua tanggungjawab sudah pindah ke suaminya, tapi harusnya juga nanyain dong gimana kondisinya" kesal Mama Anisa.
Mama Anisa memang begitu kesal dengan besannya itu terutama Ibu Ratmi. Menurutnya omongannya itu terlalu tinggi, bahkan terkesan menyepelekan. Ia masih ingat ketika mereka pergi dari rumahnya tanpa pamit bahkan sudah tak tinggal lagi di rumah kontrakan Nenek Darmi. Kata Nenek Darmi, katanya mereka pulang kampung namun Mama Anisa tak peduli terlebih dia dengan cucunya juga tak mau mengeluarkan sepeserpun uangnya. Semua sudah dilimpahkan pada keluarganya tanpa ada ikut campur mereka.
"Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga Nadia sekaligus orangtua kedua Andre" tegur Papa Reza.
"Halah... Mereka aja nggak nganggap anaknya keluarga kok, apalagi Andre yang hanya menantu" ketus Mama Anisa.
Papa Reza hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan istrinya yang blak-blakan. Istrinya itu jika sudah kecewa pasti akan langsung menunjukkan ketidaksukaannya. Sedangkan Andre yang mendengar perdebatan kedua orangtuanya hanya bisa terdiam. Dia juga kecewa dengan apa yang terjadi, namun nanti pasti dia akan memutuskan hal itu dengan bertanya terlebih dahulu pada istrinya.
"Tunggu Nadia bangun dulu, nanti akan aku diskusikan dengannya apabila istriku kondisi psikisnya sudah baik" ucap Andre memutuskan.
Papa Reza dan Mama Anisa hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Pasti Andre juga memikirkan bagaimana perasaan Nadia dan kondisinya terlebih dahulu terlebih itu adalah orangtuanya sendiri. Andre pun segera mendekat kearah keempat anaknya kemudian menciumi mereka membuat semuanya langsung menyerbu papanya karena merasa terganggu.
***
Lenguhan dari brankar tempat tidur mengalihkan perhatian semua orang yang sedang fokus dengan acara TV. Suasana ruangan yang hening dan hanya ada suara TV itu membuat lenguhan dari brankar terdengar cukup jelas. Andre langsung menggendong Alan dikuti oleh ketiga anak serta kedua orangtuanya segera mendekat kearah brankar.
Perlahan mata cantik pasien yang memejamkan matanya satu tahun lebih itu terbuka membuat semua orang yang menyaksikannya begitu terharu. Terlebih saat kedua mata itu sudah terbuka sempurna serta berubah berkaca-kaca karena melihat keluarganya kini tengah disampingnya.
"Bunda..." seru Arnold, Anara, dan Abel bersamaan.
Mata mereka sudah siap menumpahkan airnya bahkan Abel dan Anara langsung memeluk Nadia dengan erat. Sedangkan Arnold hanya bisa menggapai kaki bundanya saja. Nadia mencoba menggerakkan tangannya yang terasa kaku kemudian memeluk kedua anak gadisnya.
__ADS_1
"Akhirnya bunda bangun juga, kami sudah lama menunggu hiks" ucap Abel dengan terisak dalam pelukan bundanya.
"Te rima kasih su dah menunggu bunda bangun" ucap Nadia dengan terbata-bata.
"Huaaaa... Arnold ndak bisa meluk bunda" seru Arnold dengan menangis.
Sontak saja semua mengalihkan pandangannya kearah Arnold yang hanya bisa menggapai kaki Nadia saja. Bukannya merasa kasihan, mereka malah tertawa dengan kejadian itu. Kedua saudaranya segera melepaskan pelukannya dari Nadia kemudian Abel menggendong Arnold untuk diletakkan ke samping bundanya.
Arnold pun langsung memeluk bundanya dengan erat bahkan tak mau melepaskannya walaupun sudah dipaksa oleh neneknya agar bergantian. Bahkan berulangkali Arnold menangis karena begitu rindu dengan bundanya. Alan pun juga diletakkan disana membuat Nadia menatap kearah suaminya.
"Dia anak kita yang kamu lahirkan satu tahun yang lalu" ucap Andre yang mengerti kebingungan istrinya.
Nadia pun tak bisa berkata-kata lagi, ia merasa bahagia karena masih diberikan kesempatan untuk melihat anak yang dilahirkannya. Ia juga tak menyangka bahwa telah tak sadarkan diri selama satu tahun lebih.
Nadia menciumi pipi Arnold dan juga Alan dengan sayang. Berulangkali dirinya ingin menyerah karena rasa sakit yang dia alami namun setiap harinya selalu ada bisikan untuk membuatnya bertahan. Dan kini ia tahu bahwa bisikan itu berasal dari semua keluarganya yang mengharapkan ia kembali.
"Terimakasih mama, papa, Mas Andre, dan anak-anakku... Terimakasih sudah menunggu bunda kembali" ucap Nadia dengan pancaran mata yang tulus.
Walaupun ia sadar kalau kedua orangtua kandungnya tak berada disini, namun ini tak mengurangi kebahagiaannya. Bahkan ia kini melihat mata mertua dan juga suaminya terlihat berkaca-kaca karena mendengar ucapannya.
"Sama-sama, terimakasih juga sudah kembali untuk kami. Setelah ini kita jaga anak-anak bersama hingga akhir menutup mata kelak" ucap Andre yang kemudian mencium kening istrinya.
Nadia meresapi ciuman itu sambil menutup matanya, air matanya menetes karena kebahagiaan yang kini telah ia rasakan begitu besar. Nadia berjanji akan menjaga keluarganya dengan sepenuh hatinya.
__ADS_1
******
Setelah ini masuk season 2 guys....