Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Keributan


__ADS_3

Nadia berjalan cepat sambil menggendong Abel yang badannya tengah gemetaran dan matanya tertutup. Melihat Abel yang akan pingsan, Nadia begitu panik bahkan dia sampai lupa kala tengah membawa Arnold yang berjalan terseok-seok begitupun dengan Anara. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya keempatnya sampai juga didepan rumah mewah milik Keluarga Farda.


"Astaga... Kenapa ini Nak Nadia?" seru satpam rumah Andre.


"Tolong gandeng Anara dan Arnold ya, pak. Saya buru-buru mau bawa Abel" ucap Nadia dengan cepat.


Satpam itu segera menganggukkan kepalanya kemudian menggandeng tangan Anara dan Arnold. Sedangkan Nadia sudah berlari sambil menggendong Abel yang sudah pingsan.


"Mbok Imah, Tante..." teriak Nadia saat memasuki rumah mewah itu.


Mbok Imah dan Mama Anisa seketika berlari tergopoh-gopoh saat mendengar teriakan Nadia. Keduanya tampak panik saat melihat kondisi Nadia dengan rambut acak-acakan sedangkan Abel terkulai lemas di gendongannya. Abel segera ditidurkan di sofa ruang tamu


Mbok Imah segera membawa minyak angin dengan Mama Anisa dan Nadia yang terus memijat bahkan memberikan ruang agar sirkulasi udara sekitar gadis itu nyaman.


Satpam rumah datang dengan membawa Arnold dan Anara yang menangis menambah suasana di rumah itu kacau balau.


"Ya Allah... Ini ada apa?" panik Mama Anisa.


Mama Anisa benar-benar takut melihat kedua cucunya pulang ke rumah dalam keadaan menangis, Abel yang pingsan, dan kondisi Nadia dengan rambut yang acak-acakan.


"Mbok, telfon Andre dan papanya untuk segera pulang" titahnya kepada Mbok Imah.


Mbok Imah segera masuk kedalam untuk menghubungi kedua majikannya yang masih berada di kantor. Sedangkan Anara dan Arnold memeluk neneknya sambil menangis, Nadia masih berusaha untuk menyadarkan Abel.


Setelah beberapa menit berusaha, akhirnya Abel tersadar dari pingsannya namun yang membuat mereka panik adalah gadis kecil itu berteriak histeris.

__ADS_1


"Jangan pukul... Jangan, itu sakit... Jangan..." teriak Abel sambil menangis.


Nadia yang memeluknya dengan erat pun sangat kuwalahan dengan pemberontakan yang dilakukan oleh Abel. Nadia sangat sedih melihat kondisi Abel yang seperti ini.


"Jangan, nggak boleh pukul" serunya.


Sedangkan Mama Anisa yang melihat itu hanya bisa memeluk erat kedua cucunya yang ada dipelukannya. Sudah dapat ia duga bahwa trauma Abel kambuh kembali. Ia hanya berharap bahwa anak dan suaminya segera pulang agar membantunya menangani semua ini di rumah. Nadia masih berusaha untuk menenangkan Abel dengan sekuat tenaga.


***


Selang beberapa menit, suara langkah kaki bertautan dengan lantai rumah seketika membuat semua orang yang ada di ruang tamu mengalihkan pandangannya. Disana Andre dan Papa Reza datang bersamaan dengan lari-larian memasuki rumah mewah itu.


"Andre, papa..." seru Mama Anisa dengan mata berkaca-kaca.


Setelah satu jam menenangkan semuanya, akhirnya keadaan di rumah itu sedikit lebih tenang. Akhirnya ketiga anak kecil itu diistirahatkan ke dalam kamar mereka. Beruntungnya Abel tidak mengalami demam tinggi saat traumanya kambuh. Sedangkan semua orang dewasa kini tengah berkumpul di ruang keluarga untuk membahas masalah ini.


"Jadi siapa yang bisa menjelaskan tentang keadaan ini?" tanya Papa Reza memecah keheningan diantara mereka semua.


"Coba Nadia kamu ceritakan bagaimana trauma Abel bisa kambuh seperti ini" imbuh Mama Anisa.


"Jadi tadi sewaktu kami pulang dari sekolah, kami bertemu dengan kedua orangtua Parno. Kami terlibat adu mulut, entah karena tersinggung atau apa, kedua orangtua Parno menjambak rambut Nadia secara bersamaan. Setelah itu Arnold datang membantu dengan menendang kaki keduanya sehingga jambakan itu terlepas. Namun pada akhirnya trauma Abel kambuh karena melihat adegan itu. Maaf... Maafin Nadia yang nggak bisa jaga anak-anak" ucap Nadia dengan menundukkan kepalanya.


"Oh... Jadi gara-gara mereka" ucap Mama Anisa mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sedangkan Papa Reza dan Andre terdiam namun mata mereka memancarkan kemarahan yang teramat besar. Tiba-tiba saja Andre berdiri dengan menarik tangan Nadia untuk mengikutinya. Nadia pun berjalan cepat mengikuti langkah besar Andre. Sesampainya dihalaman belakang, Andre menatap tajam kearah Nadia.

__ADS_1


"Dasar tidak becus. Masih menjadi pengasuh anak-anakku saja sudah tidak becus mengurus ketiganya apalagi menjadi ibu dari mereka. Saya jadi ragu untuk menikahimu" ucap Andre dengan nada datarnya.


Deg...


Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Andre membuat jantung Nadia bagaikan ditusuk ribuan paku. Andre selama ini masih menganggapnya pengasuh saja bukan calon istri dan ibu bagi anak-anaknya. Nadia masih tak menyangka bahwa Andre akan mengucapkan hal itu.


"Dan ini semua gara-gara kamu. Gara-gara urusanmu dengan keluarga si Parno itu membuat anak-anakku semakin trauma dengan kejadian kekerasan seperti itu. Dasar pembuat masalah, kalau udah dasarnya permepuan kampungan dan urakan maka selanjutnya akan terus seperti itu" lanjutnya.


Andre mengucapkan kalimat-kalimat yang sangat menyakiti hati Nadia. Apa memang benar ucapan dari kedua orangtua Parno kalau dia hanya dijadikan sebagai pengasuh saja walaupun nanti sudah menikah. Pikirannya kacau, ia tak bisa lagi berpikir harus menanggapi apa pernyataan dari Andre.


"Kalau begitu saya minta maaf Tuan Andre. Gara-gara permasalahan pribadi saya membuat anak-anak kecil itu jadi seperti ini. Karena anda menganggap saya tidak becus sebagai seorang pengasuh kalau begitu silahkan anda mencari pengasuh dan calon istri yang lain saja. Terimakasih" putus Nadia.


Tanpa mau berlama-lama lagi, Nadia segera pergi dari hadapan Andre yang masih menatap tajam kearahnya. Nadia memutuskan untuk berhenti menjadi pengasuh ketiga anak Andre berikut juga sebagai calon istrinya. Htainya terlalu sakit mendengar kalimat yang diucapkan oleh mantan kekasihnya itu.


Nadia segera pulang ke rumahnya, beruntung tadi saat keluar rumah mewah itu ia tak bertemu dengan kedua orangtua Andre. Kalau saja bertemu pasti mereka akan bertanya macam-macam tentang dirinya yang tadi sedang menghapus kasar air mata yang tanpa sengaja mengalir dipipinya.


***


Sedangkan di rumah Andre...


Andre yang masih menatap tajam kepergian Nadia yang sudah mulai menjauh itu hanya terdiam dengan pikiran kosongnya. Ia seperti menimbang-nimbang apa yang dikatakannya tadi sudah benar atau belum. Tak lama kemudian Andre hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh seakan tanpa bersalah sedikitpun telah menyakiti perasaan Nadia.


"Entar juga balik lagi kesini, dia kan lagi butuh banget pekerjaan" gumamnya.


Andre segera saja masuk ke dalam rumah kemudian menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya. Badannya sudah teramat lengket karena setengah hari di kantor bahkan tubuhnya tadi sudah tercampur dengan air mata Abel.

__ADS_1


__ADS_2