Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Berhati Malaikat


__ADS_3

"Ibu itu mempunyai penyakit diabetes. Harus ada penanganan lebih lanjut agar pembengkakan di kakinya itu nanti tidak menimbulkan infeksi atau pembusukan dan membuatnya harus menjalani operasi seperti amputasi. Karena kadar gulanya sangat tinggi, kami juga memutuskan untuk memberikan suntikan insulin disamping obat yang harus rutin diminum" jelas dokter itu.


Penyakit diabetes jika penanganannya tak tepat maka bisa menimbulkan kematian. Andre menganggukkan kepalanya kemudian ia diminta untuk segera mengurus administrasi. Andre menatap Ando dan Arnold yang terlihat bingung dengan ucapan dokter itu.


"Kalau udah dibawa ke dokter, berarti ibu sudah sembuh?" tanya Ando dengan tatapan polosnya.


Sungguh Andre ingin menangis rasanya saat melihat tatapan polos dan penuh harap Ando. Pasalnya penyakit diabetes itu harus sering meminum obat dan pola makan juga harus dijaga. Sedangkan jika dilihat dari kondisi keduanya, hal itu sepertinya tak mungkin dilakukan.


"Ibu harus dirawat dulu disini. Beliau juga harus menjaga pola makannya. Makan makanan yang sehat dan bergizi" ucap Andre sambil berjongkok didepan Ando.


"Oh ya... Bapak Ando kemana? Atau saudaranya yang lain?" lanjutnya bertanya.


Tak mungkin juga Andre memberitahukan kondisi ibu itu kepada anaknya yang masih berusia seumuran dengan anaknya. Haruslah ada wali yang akan menjaga dan memantau ibu itu.


"Ndak punya" jawab Ando dengan menggelengkan kepalanya.


Andre dan Arnold langsung menatap pada Ando dengan tatapan tak percayanya. Keduanya seakan meminta penjelasan lebih kepada Ando agar tak salah paham dengan apa yang diucapkan oleh bocah laki-laki itu.


"Ando udah nggak punya bapak. Saudara? Nggak tahu, kayanya nggak ada" ucapnya.


"Ando duduk disini dulu tunggu ibu ya. Om dan Arnold akan mengurus administrasi dan membelikan makan untukmu dulu" ucap Andre dengan hati-hati.


Dengan polosnya Ando menganggukkan kepalanya. Padahal Ando tak mengenal Andre dan Arnold yang bisa saja nanti kabur hingga membiarkannya disini bersama ibunya. Anak ini terlalu polos sehingga bisa saja dimanfaatkan dan ditipu oleh orang tak bertanggungjawab.


Andre segera menggendong Arnold kemudian pergi ke ruang administasi. Ando melihat Andre dan Arnold yang tengah berjalan pergi menjauh darinya itu dengan tatapan sendunya.


"Kapan ya Ando bisa merasakan digendong seperti itu?" gumam Ando dengan senyuman mirisnya.

__ADS_1


***


"Menurutmu apa yang harus kita lakukan untuk membantu Ando dan ibunya?" tanya Andre bingung.


Saat ini keduanya tengah duduk di kantin sambil menunggu pesanan makanan mereka. Arnold terlihat diam sambil memikirkan sesuatu. Ingin sekali ia membantu mereka namun keterbatasan kemampuannya juga menjadi kendala.


"Gimana kalau mereka masuk aja ke yayasan sosial milik nenek? Kemarin aku lihat nenek bawa ibu-ibu bersama bayinya dan dimasukkan kesana" saran Arnold.


Andre begitu takjub dengan saran Arnold yang begitu cemerlang itu. Bahkan ia tak ingat jika mamanya mempunyai yayasan sosial. Andre menyetujui saran dari anaknya itu kemudian menghubungi Nadia karena mungkin keduanya akan pulang terlambat. Ia juga menyampaikan pada istrinya itu mengenai sebab dirinya terlambat pulang.


"Ayo..." ajak Andre setelah laki-laki itu membayar semua pesanannya.


Bahkan ia juga sudah membawa beberapa makanan dan cemilan untuk Ando. Arnold berjalan disamping papanya tanpa membantu membawakan apa-apa. Andre yang sudah terbiasa dengan sikap Arnold itu tentunya hanya bisa menghela nafasnya pasrah.


***


"Ando kira kalian pulang dan ninggalin kami disini tanpa pamit" ucap bocah kecil itu.


Terlihat sekali dia takut, panik, dan khawatir jika apa yang diucapkannya itu benar-benar terjadi. Sudah seringkali terjadi Ando menemui orang yang awalnya niat membantunya dan sang ibu namun ternyata tujuan mereka hanyalah mengantar saja. Untuk semua biaya bahkan apapun yang bersangkutan tak pernah ada yang mau menolongnya sehingga membuat Ando harus membawa ibunya kembali pulang dengan susah payah.


"Enggak dong. Arnold kan mau bantu ibu kamu sampai sembuh, masa langsung pulang" ucap Arnold menenangkan Ando.


Ando menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian Arnold mengajak Ando untuk makan malam bersama sementara Andre hanya duduk mengamati kegiatan kedua bocah cilik itu.


"Ternyata kamu berhati malaikat, nak" batin Andre tersenyum menatap anaknya.


Keduanya makan sambil berbincang seru bahkan mereka seakan melupakan keberadaan Andre. Namun Andre hanya santai saja sampai ia harus berdiri kemudian mengikuti brankar milik Ibu Ando untuk dipindahkan ke ruang rawat.

__ADS_1


"Kalian jangan kemana-mana, lanjutkan makan sampai selesai. Nanti papa jemput kesini kalau ibunya Deno sudah masuk kedalam ruang rawat" peringat Andre sebelum dirinya pergi.


Keduanya hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian melanjutkan kegiatan makannya. Sedangkan Andre sudah berjalan pergi meningkan dua bocah kecil itu bersama dengan dokter yang ada disampingnya.


***


"Ando, kami pulang ke rumah dulu ya. Besok kami akan kembali kesini, kamu bisa tidur di sofa itu untuk menunggu ibumu. Ini juga ada cemilan dan sedikit uang untuk kalau kamu menginginkan sesuatu" ucap Andre sambil mengelus lembut kepala Ando.


"Terimakasih, om. Sudah bantu Ando dan ibu" ucap Ando dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama, nak" ucap Andre kemudian memeluk Ando dengan eratnya.


Arnold juga memeluk keduanya dengan erat. Arnold sudah merasa jika Ando seperti saudaranya sendiri sehingga ketika berbincang pun langsung akrab. Keduanya pamit untuk pulang meninggalkan Ando yang langsung terlelap dalam sofa empuknya. Baru pertama kali ini Ando merasakan empuknya sebuah kursi untuk tidur sehingga ia bisa tertidur dengan nyenyak.


***


"Mama setuju jika mereka tinggal di yayasan sosial milikku. Disana semuanya terpantau, terlebih makanan dan pendidikan untuk Ando" ucap Mama Anisa setelah Andre menceritakan semua yang terjadi malam ini.


Setelah sampai rumah tadi, Arnold yang sudah tertidur lelap didalam mobil langsung digendong oleh Andre kemudian diletakkannya didalam kamar. Nadia juga dengan sigap mengganti pakaian anaknya itu dengan telaten. Sedangkan Andre langsung keluar kamarnya menemui sang mama yang masih berada di ruang keluarga. Andre menceritakan tentang Ando dan juga ibunya itu.


"Terimakasih, ma. Ini adalah ide si gembul lho, padahal Andre sendiri lupa lho kalau mama punya yayasan sosial sama teman-teman yang lain" ucap Andre yang kemudian memeluk mamanya dengan erat.


"Memang anak itu, hatinya baik banget. Kaya malaikat" puji Mama Anisa.


"Benar ma, cucu kita hatinya seperti malaikat. Beda dengan papanya yang kaya iblis" ejek Papa Reza yang langsung direspons ketawa oleh Mama Anisa.


Andre yang sudah kesal karena ledekan dari Papa Reza pun memilih pergi berlalu dari ruang keluarga setelah berhasil melempar bantal sofa kearah wajah papanya. Sedangkan Papa Reza terus mengumpati anaknya itu dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2