Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Tragedi 2


__ADS_3

Mata Nadia membulat bahkan berkaca-kaca melihat anaknya terduduk di lantai kelas dengan memeluk lututnya dan kaki yang merah-merah karena sebuah pukulan sapu dan tendangan kaki. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang dewasa disana yang dengan beraninya merundung Arnold yang notabene masih anak kecil. Ia yakin jika Arnold akan langsung tak mau berangkat sekolah karena kejadian ini.


Semua orang yang ada disana juga langsung mengalihkan perhatiannya kearah suara panggilan untuk Arnold. Beberapa orang dewasa segera menyingkir bahkan ada dua oknum guru yang tak dikenal oleh Nadia juga berada disana. Bukannya melerai namun keduanya malah dengan santai duduk sambil memakan cemilan. Sungguh tak punya hati, pikir Nadia saat itu.


"Apa yang kalian lakukan pada anakku?" sentak Nadia dengan wajah memerah menahan amarah.


Sungguh sekolah yang dulunya selalu dibangga-banggakan saat kedua anaknya menempuh pendidikan disini, tercoreng karena ulah orang-orang tak bertanggungjawab. Sungguh sangat disesalkan karena beberapa karyawan yang ada disana ikut menyaksikan kejadian ini tanpa ada yang mau melerainya.


Dua orang guru juga langsung bangkit dari duduknya saat mengetahui jika orangtua dari Arnold telah berada disana. Bahkan beberapa anak kecil yang sempat Nadia lihat sebagai teman sekelas anaknya pun berada disana dan membawa dua sapu lidi yang ia yakini untuk memukul kaki Arnold.


"Tadi Arnold bantuin Nilam karena dimarahi sama ibu guru itu. Saat mau dipukul, Arnold langsung lindungi Nilam hingga mereka terus memukuli dan menendang kakinya. Nilam udah minta maaf karena tak sengaja mematahkan pensil milik Lilo" adu Nilam sambil menangis.


Bahkan mata Alan kini sudah berkaca-kaca melihat kondisi kakaknya yang masih terdiam memeluk lututnya. Alan dengan segera memberontak dari gendongan Nadia agar di turunkan. Nadia yang mengerti pun menurunkan anaknya kemudian Alan berjalan tertatih ke hadapan abangnya itu. Sedangkan Nadia menggenggam tangan Nilam sambil menatap tajam orang-orang yang berada disana.


"Dasar tak punya hati. Kalian berdua pendidik tapi tak mencerminkan sikap seseorang yang mendidik muridnya. Jangan salahkan saya kalau sampai saya mengobrak-abrik sekolah ini" sentak Nadia dengan kemarahan luar biasa.


"Ini salah anak anda yang begadulan dan sok jadi pahlawan. Lagi pula salahnya dia juga ngapain harus lindungi gadis itu, harusnya biarkan saja kami memukulnya sehingga anak anda tak terluka" ucap salah satu guru yang ada disana.


"Lagi pula yang memukul mereka bukan saya, tapi mereka" lanjutnya dengan menunjuk kearah anak-anak kecil lainnya.


Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala dengan pemikiran oknum guru itu. Seakan tak punya rasa bersalah sekalipun sudah memarahi atau akan memukul anak kecil. Nadia ingin sekali membalasnya namun disini ada beberapa anak kecil yang tak patut melihat adegan kekerasan itu. Terlebih dia tahu kalau anak-anak itu tak mungkin melakukan kekerasan jika tanpa ada yang menyuruhnya.

__ADS_1


***


"Bang, yo ulang" ucap Alan dengan mata berkaca-kaca.


Bahkan Alan sedari tadi sudah menepuk dan menarik tangan kakaknya namun Arnold hanya diam berada di posisinya. Bahkan tak bergerak sama sekali membuat Alan khawatir dibuatnya, sedangkan Nadia yang melihat hal itu langsung saja menarik tangan Nilam kemudian mendekat kearah Arnold.


"Nak, ini bunda. Ayo pulang" ajak Nadia dengan mengelus punggung Arnold lembut.


Arnold tetap bergeming ditempatnya bahkan tak terdengar suara apapun yang keluar dari mulutnya. Hal ini membuat Nadia begitu khawatir sehingga tanpa kata lagi langsung mengangkat anaknya itu masuk ke dalam gendongannya.


"Alan, Nilam... Kalian saling gandengan tangan, kita pulang" titah Nadia dengan tegas.


Keduanya menuruti perintah Nadia kemudian saling mengaitkan tangannya dan berlalu pergi dari ruang kelas itu tanpa berpamitan. Sedangkan Nadia yang masih menggendong Arnold yang terdiam segera saja meraih tas anaknya yang tergeletak di lantai dan menatap tajam kearah semua orang yang ada disana.


Semuanya bahkan kini menundukkan kepala tak berani melihat kearah Nadia yang memberi mereka semua tatapan tajam dan sinisnya. Sungguh Nadia takkan membiarkan orang-orang yang menyakiti anaknya ini bisa bebas dengan semaunya. Nadia segera saja pergi dari ruang kelas meninggalkan semua orang yang ada disana.


Bahkan dua oknum guru dan beberapa orang dewasa yang sudah tahu tentang latar belakang Arnold hanya bisa mengumpat dalam hati. Mereka terlalu gegabah menyerang orang yang mempunyai kekuasaan dalam bidang bisnis.


***


"Unda, bang dali adi ndak da cualana" ungkap Alan mengutarakan kegelisahannya.

__ADS_1


Setelah keluar dari ruang sekolah tadi, mereka berempat segera saja berjalan menyusuri jalanan untuk pulang. Nadia memutuskan untuk meminta tolong sopir mengantarkannya ke rumah sakit karena sepertinya mental Arnold terguncang.


"Nilam, mau pulang ke rumah atau ikut tante dulu?" tanya Nadia tanpa menjawab pertanyaan Arnold.


"Ikut tante aja. Nanti minta tolong sama om buat hubungi papa ya tante" ucap Nilam dengan tatapan sendunya.


Nadia hanya menganggukkan kepalanya mengerti, pasalnya ART yang diminta papa Nilam juga tadi tak datang ke sekolah. Ia sedikit khawatir dengan keadaan Nilam jika dibiarkan sendirian di rumah bersama sang ibu tiri.


Tak berapa lama, keempatnya sampai di rumah keluarga Farda. Nadia segera meminta satpam untuk mengeluarkan mobil dan mengantarnya ke rumah sakit. Mereka sama sekali tak sempat untuk masuk ke dalam rumah. Mereka segera saja masuk dalam mobil setelah kendaraan siap dihadapan keempatnya.


"Ke rumah sakit ya, pak" titah Nadia.


Satpam itu hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia mengerti keadaan yang darurat sehingga takkan bertanya macam-macam terlebih melihat Alan dan teman Arnold matanya sudah sembab. Terlebih melihat kaki Arnold yang tampak memerah dan membiru seperti bengkak yang sudah pasti terjadi sesuatu yang tak mengenakkan.


Didalam mobil, Nadia menghubungi Mama Anisa dan juga Andre. Ia ingin Mama Anisa nantinya menunggu kedatangan kedua anak gadisnya setelah pulang sekolah sedangkan Andre harus tahu tentang apa yang terjadi pada anaknya.


***


Setelah 15 menit berkendara, sampailah mereka di rumah sakit. Satpam langsung menggandeng Alan dan Nilam untuk masuk kedalam rumah sakit mengikuti Nadia yang berlari sambil menggendong Arnold. Arnold dimasukkan dalam ruang IGD yang ternyata bocah laki-laki itu sudah pingsan.


"Tolong selamatkan anakku" ucap Nadia dengan mata berkaca-kaca saat melihat dokter akan masuk kedalam ruang IGD.

__ADS_1


"Kami akan berusaha sebaik mungkin" jawab dokter itu kemudian berlalu masuk kedalam ruang IGD.


Nadia duduk di kursi tunggu bersama Alan dan Nilam yang tampak terdiam. Nadia segera memeluk keduanya agar terus berdo'a demi keselamatan Arnold sedangkan satpam juga masih disana karena untuk jaga-jaga jika ada yang dibutuhkan.


__ADS_2