Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Demam


__ADS_3

"Kakak..." seru Alan yang kemudian mau naik keatas kasur Anara dan Abel.


Walaupun keduanya sudah mempunyai kamar sendiri-sendiri namun di saat kondiai seperti ini tentunya mereka akan tidur dalam ranjang yang sama. Alan yang mau naik ke atas kasur yang lebih tinggi darinya itu pun hanya bisa menghentakkan kakinya kesal karena tak bisa. Arnold yang melihatnya tentu menahan tawanya, sedangkan Papa Reza dan Andre yang ada disana seakan tak peduli dengan Alan.


"Ini napa pada ndak peta? Alan ngin aik lho ini, ndak ada yan niat antuin ditu?" kesal Alan sambil mengerucutkan bibirnya.


Mendengar seruan itu tentunya Papa Reza dan Andre yang masih khawatir dengan kedua gadis kecil itu langsung saja mengalihkan pandangannya. Papa Reza segera saja mengambil Alan masuk dalam gendongannya kemudian berjalan kearah sofa yang ada di kamar cucunya.


"Alan sama abang duduk sini dulu ya. Biar kakak kami urus dulu" ucap Papa Reza sambil menurunkan Alan ke atas sofa.


Setelah selesai urusannya dengan Alan, Papa Reza langsung menarik lembut tangan Arnold untuk juga duduk disana. Papa Reza tak mau jika kedua cucu laki-lakinya itu nanti malah khawatir jika melihat keadaan kakak-kakak perempuannya. Bagaimana pun juga ia tak ingin mereka juga ikut-ikutan sakit dan kepikiran.


"Adek disini aja. Jangan suka ngintip" tegur Arnold yang melihat Alan kini malah terlihat mencoba melihat wajah kedua kakaknya dengan berdiri diatas sofa.


Alan mengerucutkan bibirnya kesal karena merasa tak didukung sama sekali oleh abangnya itu. Dengan pasrah Alan duduk diatas sofa kemudian membaringkan kepalanya pada paha Arnold. Arnold yang sedang bersandar pada sofa pun langsung mengelus lembut kepala Alan.


***


"Ini kasih kompres dulu dahi mereka" ucap Mama Anisa memberikan plester demam kepada Andre.


Andre segera memasangnya pada dahi anak-anaknya itu secara bergantian. Anara dan Abel terlihat sudah memejamkan kedua matanya karena rasa pusing yang menyerang. Tak berapa lama Nadia datang dengan sebuah nampan berisi bubur dan obat-obatan.


"Lebih baik kalian keluar dulu. Biar kami gantikan baju buat mereka" ucap Mama Anisa mengusir.

__ADS_1


Papa Reza dan Andre menganggukkan kepalanya kemudian melihat kearah Arnold juga Alan yang ternyata tidur diatas sofa. Keduanya segera saja membawa mereka keluar untuk diletakkan di kamarnya. Pantas saja tak ada suara yang terdengar saat mereka tengah fokus pada kedua kakaknya.


"Terimakasih telah mengerti dan berpikir dewasa di saat-saat seperti ini" bisik Andre tepat pada telinga Arnold setelah berhasil meletakkan keduanya diatas kasur.


Andre begitu bangga pada Arnold yang mau menjaga Alan di saat semua orang sedang sibuk dengan kedua kakaknya yang sakit. Bahkan mereka juga tak membuat keributan seperti biasanya saat keadaan begitu genting seperti ini. Setelahnya Andre dan Papa Reza keluar dari kamar keduanya dengan sedikit membuka pintunya.


***


"Pa, mas... Coba sini, dengarkan tentang anak-anak yang mengingau tentang kegiatan olimpiadenya di sekolah" ucap Nadia dengan wajah khawatirnya keluar dari kamar anaknya.


Tadi Nadia mendengar igauan kedua anaknya dalam keadaan tidurnya tentang olimpiade yang diadakan. Bahkan sepanjang dia dan Mama Anisa membersihkan badan dan mengganti pakaian keduanya, mereka mengigau membuatnya khawatir.


Papa Reza dan Andre yang mendengar hal itu tentunya langsung saja masuk dalam kamar dengan langkah tergesa-gesa. Mereka semua segera mendekat kearah Anara dan Abel yang tidur dengan gelisah bahkan keringat dingin mulai muncul di dahinya.


"Capek..."


"Pulang sore terus."


Igauan tentang olimpiade yang diadakan sekolah tentunya membuat mereka khawatir. Dulunya Nadia memang tak setuju jika anak-anaknya mengikuti hal semacam itu terlebih hasil dari olimpiade ini akan dibawa ke tingkat Nasional bahkan Internasional. Waktu istirahat yang kurang dan jam belajar tambahan membuat Nadia tak terlalu nyaman dengan itu semua.


Nadia bangga anak-anaknya pintar dalam bidang akademik, hanya saja ia khawatir jika nanti mempengaruhi kesehatan mental dan fisik keduanya. Di umurnya yang segini harusnya anak-anak memang lebih banyak bermain atau belajar dengan permainan agar semuanya terasa tak membebani.


Namun kedua anaknya yang kekeh dengan pendiriannya untuk ikut membuat Nadia hanya bisa pasrah. Apalagi ini olimpiadenya akan diadakan dalam hitungan hari saja, tentunya pihak sekolah akan semakin mengejar siswanya agar belajar lebih giat.

__ADS_1


"Harusnya aku tak menyetujui permintaan mereka untuk ikut hal begini kalau pada akhirnya keduanya malah tumbang" sesal Andre.


"Yang sudah terjadi, biarlah mas. Kita tak bisa menyesali semuanya, ayo kita coba bicara baik-baik dengan pihak sekolah agar mental anak-anak juga diperhatikan" ucap Nadia dengan lembut.


Andre menganggukkan kepalanya mengerti dan menyetujui ucapan Nadia. Mama Anisa mencoba membangunkan keduanya kemudian mereka disuapi bubur dan minum obat secara bergantian. Setelah dirasa mereka tenang, akhirnya Papa Reza dan Andre keluar untuk membicarakan masalah ini. Sedangkan Mama Anisa dan Nadia memilih untuk menjaga Abel juga Anara sambil terus memantau keadaan keduanya.


***


"Andre akan menghubungi pihak sekolah untuk beberapa hari ini tak diadakan kelas tambahan belajar" ucap Andre.


Andre khawatir kalau ini bisa saja membuat kondisi kedua anaknya memburuk. Ia tetap akan mengijinkan anaknya untuk ikut olimpiade ini jika memang mereka menginginkannya. Papa Reza menyetujuinya kemudian Andre langsung saja menghubungi pihak sekolah dengan ponselnya.


Hampir setengah jam Andre berbincang dengan pihak sekolah didepan Papa Reza duduk. Terlihat dan terdengar begitu alot karena pihak sekolah sepertinya sangat sulit untuk diajak bernegosiasi. Bahkan Andre juga sudah terlihat emosi saat mendengar apa yang diucapkan pihak sekolah di seberang sana.


"Bagaimana, Ndre?" tanya Papa Reza setelah melihat anaknya telah selesai menghubungi pihak sekolah.


Bahkan kini Andre terlihat mengurut keningnya karena merasa pusing dengan apa yang diucapkan oleh pihak sekolah. Andre merebahkan kepalanya pada sofa kemudian menghela nafasnya kasar.


"Pihak sekolah tak mengijinkan Anara dan Abel beserta yang lainnya untuk istirahat selama beberapa hari untuk memulihkan mental dan fisiknya. Mereka beralasan kalau olimpiade hanya tinggal 4 hari lagi sedangkan materinya belum juga usai diajarkan" ucap Andre.


"Kamu sudah bilang kalau anakmu sakit?" tanya Papa Reza yang juga geram.


"Sudah, pa. Bahkan Anara dan Abel hanya diijinkan tak berangkat satu hari saja" ucap Andre.

__ADS_1


Papa Reza yang mendengarnya begitu geram. Harusnya kalau sudah mendekati hari H itu materi telah usai bahkan cucunya itu sering sekali pulang hampir malam karena jam tambahan. Lalu sebenarnya materi seperti apa yang diajarkan pada mereka hingga mendekati harinya itu belum selesai. Sepertinya dia dan Andre harus datang menemui kepala yayasan sekolah.


__ADS_2