
"Lebih baik yang ini saja, tuan. Ini jauh lebih elegant dibandingkan ini terlalu berlebihan. Bukannya kata anda kalau sang istri lebih suka yang sederhana" ucap wanita itu dengan nada bicara yang mendayu-dayu.
Mama Anisa yang berada di belakangnya itu hanya bisa menahan tangannya untuk tak meremas bahkan menampar mulut perempuan itu. Sudah tahu anaknya itu mempunyai istri namun wanita itu masih saja menggodanya dengan berucap menggunakan ucapan yang terkesan seksi.
"Sebentar, saya ke kamar mandi dulu" pamit Andre tiba-tiba.
Saat melihat Andre pergi dari sana, Mama Anisa langsung saja mendekat kearah wanita yang tengah sibuk dengan ponselnya itu. Tak lama-lama, Mama Anisa langsung duduk di tempat yang Andre duduki tadi. Sontak saja perempuan itu langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Maaf bu, itu kursi ada yang nempati. Kalau mau makan silahkan cari tempat lain" ucap perempuan itu dengan senyum paksanya.
Walaupun terkesan mengusir menggunakan kalimat yang sopan, namun Mama Anisa sama sekali tak terpengaruh. Terlebih tadi saat dia sudah mendengar perempuan itu bagaimana cara berbicaranya dengan Andre. Mama Anisa tetap duduk terdiam disana sambil menatap tajam perempuan itu.
"Jangan macam-macam kamu dengan anak saya. Dia sudah punya istri, main bicara centil kaya gitu. Situ kagak punya harga diri?" ketus Mama Anisa tiba-tiba.
Sontak saja perempuan didepannya ini merasa tertohon sekaligus kebingungan. Dia bingung dengan ucapan wanita paruh baya didepannya ini yang seakan memojokkan dirinya menggoda suami orang padahal dia tak kenal dengannya.
"Maksud ibu apa ya? Saya nggak kenal ibu lho, kok main nuduh sembarangan" ucap perempuan itu tak terima.
"Anda memang tak kenal saya. Bahkan saya juga tak kenal anda. tapi saya mengenal siapa laki-laki yang duduk disini tadi. Dia adalah anak saya" ucap Mama Anisa dengan mata mendelik tajam.
Sontak saja perempuan yang bernama Adeline yang ada didepan Mama Anisa itu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu. Bahkan wajahnya terlihat pucat basi seperti sedang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu.
"Anda ibunya tuan Andre?" tanya Adeline dengan gagap.
__ADS_1
"Ya" jawab Mama Anisa dengan wajah datarnya.
Sontak saja Adeline berdiri kemudian melihat kearah pintu masuk kamar mandi berada. Ia hanya bisa berharap jika Andre segera datang, pasalnya melihat tatapan horor dari Mama Anisa sudah membuatnya kena mental. Tak berapa lama, Andre berjalan menuju meja tempatnya dengan sedikit menunduk karena fokus dengan ponsel sehingga belum melihat adanya Mama Anisa disana.
Diam-diam Adeline menghela nafasnya lega, seakan kedatangan Andre merupakan angin segar baginya. Saat Andre menegakkan kepalanya dan terlihat terkejut dengan kehadiran sang mama.
"Mama..." seru Andre terkejut.
"Ngapain mama disini?" tanyanya.
Mama Anisa tak menjawab namun menatap sinis kearah anaknya itu membuat Andre salah tingkah. Melihat tingkah sang mama seperti ini membuatnya berpikir tengah melakukan sesuatu yang salah. Ia kemudian melihat kearah Adeline yang sudah berdiri menatapnya dengan tatapan meminta pertolongan.
Andre yang melihat situasi di sekitarnya seperti ini pun mulai paham kalau telah terjadi suatu kesalahpahaman. Pasti mamanya itu berpikir bahwa dirinya tengah bermain api dengan perempuan didepannya itu. Ia sudah hafal dengan sifat mamanya yang selalu menjaga yang berusaha mendekati anaknya saat sudah mempunyai seorang istri.
"Suka-suka mama lah. Kan ini tempat umum jadi bebas dong kalau mama berada disini" ketus Mama Anisa.
"Kenalkan ini Adeline. Dia adalah seorang pemilik EO yang terkenal disini, Andre memintanya untuk membantu membuat sebuah acara kejutan. Andre ingin memberikan kejutan pada Nadia sebagai perayaan anniversary ke 2 kami" ucap Andre memberikan penjelasan.
Mama Anisa tak mempermasalahkan jika anaknya itu memberikan pesta kejutan pada sang menantu, tetapi ia tak suka dengan cara bicara Adeline yang terkesan menggoda anaknya. Ia menatap tajam kearah Adeline yang kini tersenyum penuh kemenangan pasalnya Andre terkesan membenarkan posisinya disini.
"Tapi mama nggak suka sama cara bicaranya dia itu, kaya cewek centil. Awas saja kalau kau sampai tergoda karena mama tahu iman mu itu hanya setipis benang kalau tentang wanita" peringat Mama Anisa.
Kalau sudah dihadapan sang mama, Andre tak mampu membantahnya. Walaupun dia bisa sedikit menahannya namun sebagai seorang laki-laki normal pasti ada sedikit ketertarikan atau kekaguman walaupun setelahnya akan hilang.
__ADS_1
Akhirnya Andre memutuskan untuk melanjutkan pembahasan dengan Adeline diawasi oleh Mama Anisa yang disana duduk sambil makan dengan santainya. Bahkan Adeline sedari tadi mencuri pandang kearah Andre dan itu terlihat jelas di mata Mama Anisa.
"Gatel..." gumam Mama Anisa pelan.
Saat mereka tengah sibuk dengan kegiatannya, tak berapa lama terdengar teriakan memekakkan telinga yang teramat familiar. Dia adalah Arnold yang berjalan santai bersama dengan kakeknya.
"Nenek... Papa..." teriaknya.
Papa Reza segera menyusul istrinya yang tadi memberitahunya sedang bersama Andre dan juga cewek centil. Papa Reza yang sangat penasaran pun akhirnya memilih untuk menyusul sang istri dengan membawa Arnold yang kebetulan ikut Nadia dan Alan ke kantor.
Namun Nadia dan Alan memilih pulang karena tak ingin kedua anak perempuannya itu kesepian saat pulang sekolah nanti jika tak ada dirinya. Beruntung juga tadi Papa Reza tak memberitahu sang menantu jika Andre sedang bersama perempuan lain.
Mama Anisa dan Andre langsung mengalihkan pandangannya kearah Arnold yang tersenyum ceria. Bahkan Mama Anisa begitu bahagia karena ada partner untuk dirinya membuat huru hara, berbeda dengan Andre yang hanya bisa mengelus dadanya sabar.
"Wah... Makan-makan nih, udah dimasakin bunda susah-susah malah makan di luar. Tidak menghargai usaha bundaku tercinta" ketus Arnold setelah sampai di meja nenek dan papanya.
Nah kan... Baru saja datang namun ucapan anak kecil itu begitu pedas bahkan terkesan menyentil relung hari Andre. Bukan hanya Andre yang tersindir, namun Mama Anisa juga seperti itu. Namun awalnya memang dia akan makan di rumah tapi saat melihat adanya Andre di cafe membuatnya ikut lapar disana.
"Habis makan cabe berapa kilo sih kamu, nak? Pedes amat mulutnya" gemas Andre yang kemudian mengangkat anaknya dalam pangkuannya.
Papa Reza duduk disamping sang istri sambil meletakkan rantangan berisi bekal yang disiapkan oleh Nadia. Sedangkan kini Adeline hanya bisa tersenyum canggung karena suasana sudah mulau tak nyaman baginya. Bahkan dia sedari tadi sudah bolak-balik mengganti posisi duduknya.
******************
__ADS_1
Terimakasih semua atas dukungannya, terutama yang comment🙏
Bikin aku semangat walaupun kondisi badan lagi nggak enak 😷