Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Dimaafkan


__ADS_3

Nadia masih terdiam kaku didalam pelukan Andre, bahkan bibirnya kelu untuk sekedar menjawab atau menanggapi ucapan Andre. Otaknya seakan buntu karena terhipnotis dengan ucapan lembut Andre, kini Nadia hanya bisa diam dan terbengong saja.


Melihat Nadia yang hanya terdiam saja, dengan jahilnya Andre menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu ke kanan kiri membuatnya tersadar. Nadia segera saja melepaskan dirinya dari Andre saat pelukan itu terasa lengah. Namun Andre yang tahu hal itu segera saja memegang tangan Nadia. Ia berlutut didepan gadis itu membuat Nadia begitu terkejut.


"Berdiri" ucap Nadia.


Nadia melirik kearah sekitar demi memantau situasi, ia tak ingin ada yang salah paham dengan apa yang dilakukan Andre. Terlebih disini dirinya masih sebagai seorang pengasuh, jika kedua orangtua Andre melihatnya pasti akan salah paham dan berpikir bahwa dirinya yang menyuruh anaknya untuk berlutut dihadapannya.


"Enggak, sebelum kamu mau menerimaku kembali sebagai calon suamimu dan rencana pernikahan kita tetap berlanjut. Aku benar-benar mencintaimu, Nad. Maafkan atas semua ucapanku" ucap Andre dengan tatapan bersalah.


Nadia terdiam sebentar menimbang-nimbang keputusannya. Pasalnya apa yang ia putuskan nanti akan berpengaruh ke masa depannya. Setelah beberapa menit terdiam, Nadia melihat lagi kearah Andre yang memancarkan tatapan permohonan.


"Baiklah, aku memaafkanmu dan menerimamu sebagai calon suamiku. Tapi perlu diingat, jangan diulangi lagi. Kalau misalkan ada sesuatu, bicaralah dengan baik-baik. Jangan asal berbicara karena kita tak tahu ucapan itu akan menyakiti orang atau tidak" ucap Nadia dengan tegas.


Andre yang mendengar jawaban Nadia tentu saja senang bukan main. Ia segera saja berdiri dan akan memeluk tubuh Nadia, namun gadis itu menghindar dengan cepat.


"No... No... No... Jangan peluk-peluk sebelum sah" ucap Nadia sambil menggerakkan jari telunjuknya kekanan dan kekiri.


Andre hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil terkekeh pelan mendengar ucapan Nadia. Tanpa mereka sadari, kejadian tadi disaksikan oleh seorang wanita paruh baya yang sudah menitikkan air mata harunya. Suara isakan tangis yang terdengar lirih mengganggu pendengaran Andre dan Nadia, keduanya saling menatap kemudian mengalihkan pandangannya kearah suara itu. Keduanya begitu terkejut saat melihat Mama Anisa yang berada didepan pintu dapur sambil mengusap ingus dan air matanya.


"Lho tante kok nangis?" tanya Nadia panik.


"Tante nggak papa kok, Nad. Mama cuma kasihan sama kamu, dilamar dan diminta menjadi calon istri Andre kok di dapur. Kaya nggak ada tempat lain yang lebih romantis aja. Lagian kamu Ndre, kaya orang nggak punya duit aja" ucap Mama Anisa sambil membersihkan ingusnya yang keluar.

__ADS_1


Nadia tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Mama Anisa, pasalnya apa yang dikatakan itu terkesan meledek Andre. Sedangkan Andre yang ditertawakan dan diejek Mama Anisa hanya mencebikkan bibirnya kesal.


"Mama jorok..." gerutu Andre saat melihat mamanya itu menghapus ingus dengan tangannya.


"Oh... Jorok?" tanya Mama Anisa.


Tiba-tiba saja Mama Anisa segera berlari dan mendekati Andre kemudian menyodorkan tangannya yang terkena ingus kearah laki-laki itu. Sontak saja Andre berlari menghindari Mama Anisa yang terus mengejarnya.


"Nih... Jorok nih... Jorok..." seru Mama Anisa sambil berlari.


Nadia yang melihat tingkah Mama Anisa dan Andre hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala saja. Sungguh ia heran dengan Mama Anisa yang masih segar bugar dan sehat pada usianya yang sudah seumuran dengan ibunya itu. Ternyata resepnya adalah selalu bahagia dan menciptakan moment-moment indah bersama keluarganya.


***


"Jangan main air, nanti ditinggal sama papa lho" ucap Nadia.


Mendengar ucapan Nadia seketika saja ketiganya segera cepat-cepat menyelesaikan aktifitas amndinya. Setelah beberapa menit mandi, akhirnya ketiganya selesai juga dan langsung bergegas berganti pakaian. Setelah siap dengan setelan pakaian santai, keempatnya segera keluar dari kamar dan menunggu Andre yang juga tengah bersiap.


"Wah... Kayanya ketiga cucu nenek bahagia banget nih bisa jalan-jalan sama bunda dan papa" goda Mama Anisa saat melihat ketiga cucunya sudah rapi dan duduk di ruang keluarga.


"Iya don, nek. Nanti kita mau main permainan kuda yang muter-muter itu lho, terus beli arum manis, cilok, dan telur gulung. Iya kan, bunda?" tanya Anara antusias.


"Iya dong, apapun yang ingin kalian inginkan dan beli pasti dituruti sama papa" ucap Nadia dengan lembut.

__ADS_1


"Yo, bisin wang papa" seru Arnold tiba-tiba.


Mama Anisa tersenyum melihat keantusiasan ketiga cucunya itu apalagi mendengar ucapan Arnold yang begitu lucu membuatnya tertawa renyah. Mereka berlima terus berbincang seru membahas permainan apa saja yang akan dimainkan saat sampai di pasar malam.


Satu jam berlalu, namun Andre masih belum muncul juga membuat ketiga bocah kecil itu sudah memberengut kesal. Mama Anisa dan Nadia sudah mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan banyak mengobrol namun mereka tetap saja mengingatnya.


"Papa ana cih? Kecal Anol alo ayak ini" ucap Arnold dengan mengerucutkan bibirnya.


"Iya, jangan-jangan papa sudah pergi ke pasar malam sendiri lagi" tuduh Anara.


"Pasti papa masih di kamarnya, nggak mungkin papa pergi ninggalin kita. Kan papa udah janji" ucap Abel menenangkan kedua saudaranya.


"Ungkin papa encret adi ndak kelual kamal" ucap Andre menduga-duga.


Pembicaraan ketiga bocah kecil itu membuat Mama Anisa dan Nadia menahan tawanya. Pasalnya mereka seperti menduga-duga tentang apa yang terjadi dengan papanya itu. Tadi setelah acara kejar-kejaran dengan Mama Anisa, Andre langsung masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri. Namun sampai kini pukul 5 sore, laki-laki itu tak menampakkan batang hidungnya juga.


"Lebih baik mama susul Andre aja deh ke kamarnya, siapa tahu dia ketiduran di kamar mandi" ucap Mama Anisa dan diangguki oleh Nadia.


"Nek, papa nggak mungkin ketiduran di kamar mandi kan kalau tidur harusnya di kasur" ucap Anara dengan kritis.


Mama Anisa yang mendengar ucapan Anara pun segera mendekati cucunya itu kemudian menciumi pipinya berulang kali sampai gadis itu tergelak.


"Mama nggak perlu nyusulin Andre ke kamar. Andre udah disini" ucap Andre yang baru saja datang.

__ADS_1


Sontak saja keriuhan yang masih terjadi itu seketika usai karena kehadiran Andre. Mata Mama Anisa melotot tajam kearah anaknya yang membuat ketiga cucunya menunggu sangat lama. Sedangkan Andre hanya bisa tersenyum canggung melihat kegarangan Mama Anisa.


__ADS_2