
Berita mengenai meninggalnya Aneta dan Sukma menjadi duka yang amat dalam bagi Lian dan Rudi. Keduanya harus merasakan kehilangan istri secara hampir bersamaan. Ditambah Lian kini harus kehilangan sosok mama didalam hidupnya. Hidupnya yang sudah hancur karena di penjara kini bertambah terpuruk akibat kejadian beruntun yang menimpa Aneta dan Sukma.
Walaupun Aneta di akhir hidupnya sudah berubah sikap dan sifatnya, namun itu tak membuat tahanan lainnya berhenti membully dirinya. Hal ini lah yang membuatnya tak kuat dengan tekanan yang ada didalam penjara. Terlebih setelah mamanya dipindahkan ke rumah sakit jiwa, tahanan lain yang awalnya kesal dengan Sukma pun langsung menargetkan Aneta. Mamanya juga masih sering mengirim beberapa orang suruhannya hanya untuk meneror Aneta sehingga dia semakin depresi.
"Maafkan suamimu ini, Neta. Tak bisa tegas sama mama, nggak becus menjaga kamu sampai akhirnya malah memilih untuk mengakhiri hidupmu. Aku sangat mencintaimu, Net" gumam Lian lirih.
Hari ini Lian dan Rudi diijinkan untuk keluar penjara demi melihat prosesi pemakaman Sukma. Waktu Aneta itu mereka tak bisa ikut mendampingi karena langsung dimakamkan oleh keluarga Andre. Walaupun sedih, namun mereka tidak mempermasalahkan itu dikarenakan Aneta memang sudah tak mempunyai kerabat lagi untuk bertanggungjawab atas jenazahnya.
Didalam mobil polisi, Lian dan Rudi saling menguatkan demi menghadapi pemakaman mama dan ibu mereka ini. Hanya do'a yang kini bisa mereka panjatkan untuk ketenangan mamanya disana. Seluruh prosesi pemakaman diurus oleh kerabat mamanya yang semalam langsung saja ke kota demi menemui saudaranya yang meninggal. Beruntung, saudara mamanya tak mempunyai sifat seperti Sukma.
"Setelah keluar dari penjara, kita akan memulai kehidupan yang lebih baik lagi. Jangan sampai kejadian kemarin terulang kembali. Kita harus menjadi orang yang berguna, bukan menyusahkan" ucap Rudi pada anaknya.
"Iya, pa. Lian akan berusaha sekuat mungkin membahagiakan papa, orangtua satu-satunya yang aku miliki. Kita mulai semuanya dari awal pa" ucap Lian dengan mata berkaca-kaca.
Tak berapa lama, mobil polisi yang membawa Lian dan Rudi telah sampai di sebuah tempat pemakaman umum. Keduanya turun dengan dikawal oleh polisi, beruntungnya prosesi pemakaman masih menunggu mereka. Setelah melihat Rudi dan Lian berada disana, segera saja proses pemakaman dilaksanakan.
Isak tangis mulai terdengar saat jenazah mulai dimasukkan kedalam tanah, tak terkecuali Rudi dan Lian. Keduanya tak bisa menahan tangisnya saat orang yang mereka sayangi kini sudah tak ada di dunia ini lagi. Walaupun Sukma adalah orang jahat, namun mereka tetap mencintai wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Selamat jalan, ma. Semoga Tuhan mengampuni segala kesalahanmu" gumam Lian sambil menangis.
"Selamat jalan, istriku. Aku akan menjaga anak kita hingga nyawaku diambil oleh malaikat" gumam Rudi dengan sedikit mengusap air matanya.
Proses pemakaman telah selesai, setelah berdo'a semua pelayat akhirnya membubarkan diri. Para kerabat Sukma juga akan pulang langsung ke desa hari ini karena disini mereka tak punya tempat untuk menginap.
"Rudi, Lian... Kalau kalian keluar dari penjara, pulanglah ke tenpat kami. Walaupun kami hanya tinggal di desa, namun disana sangatlah nyaman untuk ditinggali. Mulailah hidup baru disana bersama kami. Pintu rumah akan selalu terbuka untuk kalia" ucap salah satu kerabat Sukma.
"Terimakasih, budhe. Kami pasti akan menemui kalian kalau sudah keluar dari penjara" ucap Lian mewakili papanya.
Para kerabat Sukma berlalu pergi meninggalkan area pemakaman. Begitu pula dengan Lian dan Rudi yang kembali digiring masuk kedalam mobil polisi menuju ke rumah tahanan yang akan menjadi tempat mereka hidup sampai nanti keluar dari sana.
***
Pskiater hanya menyuruh untuk dijauhkan dari hal-hal yang membuat memori buruknya kembali lalu didampingi oleh orang-orang yang bisa menimbulkan suasana aman dan nyaman bagi anak-anak kecil itu. Andre dan Papa Reza tak bisa menemani hari ini karena harus mengurus perusahaan kembali. Mama Anisa dan Nadia lah yang akan mendampingi ketiga anak itu.
"Mbul, main yuk" ajak Mama Anisa sambil mengeluarkan lego-lego dari tempat mainan.
__ADS_1
Bukannya menanggapi, Arnold hanya terus memeluk tubuh neneknya itu. Begitupun dengan Abel yang memeluk erat Nadia, sedangkan Anara mencoba mengajak kedua saudaranya itu untuk bermain menemaninya. Pasalnya dia bosan jika harus bermain sendiri. Anara sedari tadi sudah berusaha membujuk kedua saudaranya, namun hanya jawaban menggunakan gelengan kepala yang ia dapatkan.
"Iya, ayo dong main lego. Anara nggak ada teman lho ini. Masa Nara main sendirian, nggak asyik" ucap Anara dengan tatapan memohon kearah dua saudaranya.
"Ayo main sana sama Nara. Bunda dan nenek akan jagain kalian disini. Nggak akan pernah ada yang nyakitin kalian" ucap Nadia sambil mengusap bahu Abel.
Mendengar ucapan Anara pun, Abel dan Arnold seketika mengintip dibalik ketiak nenek juga bundanya. Akhirnya Arnold dan Abel pasrah karena tak tega dengan Anara yang bermain sendirian. Akhirnya mereka bertiga menyusun lego dengan Anara yang sedari tadi terus berceloteh walaupun hanya ditanggapi singkat oleh kedua saudaranya. Nadia dan Mama Anisa yang melihat hal itu sedikit tak tega dengan Anara yang harus menjadi ceria demi kedua saudaranya.
"Kita harus kuat didepan mereka, terutama Abel dan Arnold. Jangan sampai mereka bertemu kembali dengan orang-orang yang menyakitinya. Kita harus bisa menyembuhkan trauma mereka" bisik Mama Anisa.
Nadia menganggukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan oleh Mama Anisa, dia harus menjadi perempuan kuat demi ketiga anaknya. Akan ia pastikan kalau ketiga anaknya akan menjadi anak-anak paling bahagia di keluarga ini Mereka menghabiskan hari itu dengan terus mengajak Arnold dan Abel berinteraksi.
***
Papa Reza dan Andre kini tengah melakukan seleksi terhadap beberapa karyawan baru yang akan menempati posisi penting di perusahaan terutama untuk divisi keuangan. Keduanya terjun langsung dalam tahap seleksi ini karena tak mau kecolongan lagi. Ternyata oarang-orang yang bekerja di divisi keuangan kemarin adalah kerabat dari HRD yang juga ikut dipecat karena menyalahgunakan jabatannya.
Seorang perempuan cantik dengan rok span dibawah lutut dan kemeja putih memasuki ruangan wawancara dengan sedikit menunduk sehingga tak terlihat wajahnya. Saat perempuan itu menegakkan kepala dan menghadap kearah Andre juga Papa Reza, tiba-tiba saja mata kedua laki-laki itu membelalak terkejut.
__ADS_1
"Alice..."
"Andre..."