
Anara dan Abel pulang ke rumah dengan dijemput oleh sopir keluarga Farda tepat waktu. Mobil itu berjalan membelah jalan raya dengan kecepatan sedang. Saat keduanya tengah fokus melihat kearah jalanan, tiba-tiba saja mereka melihat teman yang dikenalnya sedang berjalan kaki untuk pulang dari sekolah.
"Pak, pinggirkan mobilnya. Itu ada teman kita" pinta Abel.
Sopir itu segera saja menepikan mobilnya tak jauh dari siswa yang tengah berjalan. Sontak saja siswa tersebut langsung mengalihkan pandangannya kearah mobil yang berhenti didekatnya. Siswa tersebut adalah Dino yang tengah berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya. Abel segera saja membuka jendela mobilnya kemudian tersenyum manis kearah Dino.
"Dino, ayo masuk. Nanti kami antarkan pulang ke rumah" seru Abel dengan cerianya.
"Nggak usah Abel, rumahku nggak jauh kok. Itu tinggal lurus lalu belok kiri, sampai deh" tolak Dino dengan senyumnya.
"Nggak boleh nolak rejeki lho, lumayan kan hemat tenaga" bujuk Abel.
Dino menggaruk belakang tengkuknya yang tak gatal, ia bingung bagaimana caranya menolak ajakan Abel. Pasalnya dia tak langsung pulang ke rumahnya membuatnya tak mungkin menerima ajakan temannya itu. Namun ia juga tak tega melihat Abel yang menatapnya dengan tatapan penuh harap.
Akhirnya Dino menyetujui ajakan Abel. Ia masuk kedalam mobil kemudian menunjukkan arah tempat yang akan ia tuju. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai itu sampai juga di tempat tujuan Dino. Namun Abel dan Anara mengernyitkan dahinya heran saat mobil itu berhenti tepat di dekat pengumpul sampah.
"Kok kita kesini? Ini rumah kamu?" tanya Abel penasaran.
"Dino kerja disini setelah pulang dari sekolah. Maaf ya kalian harus mengantarku ke tempat yang kotor seperti ini" ucap Dino tak enak hati.
"Eh... Enggak kok, kita biasa aja. Berarti kamu turun disini nggak di rumah ya?" tanya Abel memastikan.
__ADS_1
Dino menganggukkan kepalanya mantap kemudian turun dari mobil setelah mengucapkan terimakasih. Abel dan Anara melambaikan tangannya kepada Dino setelah mobil mulai melaju. Dino pun membalas lambaian tangan itu dengan tersenyum penuh arti.
"Suatu saat nanti, kamu dan dunia akan tahu siapa aku sebenarnya" gumam Dino sambil tersenyum.
Dino segera saja masuk ke dalam sebuah gedung pengumpul sampah itu kemudian menyapa orang-orang yang ada disana. Sedangkan Abel didalam mobil terdiam dengan pikirannya yang bercabang kemana-mana. Ia merasa kasihan dengan Dino yang harus bekerja setelah pulang sekolah, padahal dirinya biasanya akan langsung bermain dengan adik-adiknya.
***
Sesampainya di rumah, Abel dan Anara langsung turun dari mobil kemudian berlari kecil untuk segera menemui bunda dan kedua adiknya. Mereka sudah terlalu rindu dengan adik-adiknya yang begitu lucu itu. Anara dan Abel langsung masuk ke ruang keluar dan benar saja mereka semua ada disana. Keduanya segera mencium tangan bunda dan neneknya kemudian mengecup dahi adik-adiknya.
"Kalian ganti baju dan makan siang dulu ya" titah Nadi sambil tersenyum.
Keduanya menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi ke kamarnya. Sedangkan Arnold kini tengah mengganggu Alan yang tengah mencoret-coret buku gambar dengan pensil. Alan yang sudah pintar dalam protes pun selalu membalas perlakuan kakaknya itu dengan memeluknya. Mama Anisa dan Nadia membiarkan kedua bocah laki-laki itu melakukan apa saja asalkan tidak membahayakan.
"No, ni taktak" seru Alan tak terima gambarnya diejek.
"Mana ada katak seperti ini gambarnya" gerutu Arnold meledek adiknya.
Nadia yang mendengar ucapan Arnold pun tertawa. Pasalnya gambar Alan itu memang benar hanya coretan-coretan saja tanpa ada wujud kataknya. Ternyata melihat anak-anak di rumah seperti ini saja sudah membuatnya bahagia walaupun ia ingin mempunyai bayi kecil lagi. Tak berapa lama, Anara dan Abel datang bersamaan kemudian duduk disamping Nadia.
"Bunda, Abel mau minta ijin" ucap Abel tiba-tiba.
__ADS_1
"Minta ijin apa, nak?" tanya Nadia dengan lembut.
"Emm... Kita dan teman-teman yang lainnya mau ngadain belajar bersama. Untuk tempatnya nanti bergiliran untuk rumahnya dipakai. Boleh nggak bunda kalau misalkan rumah ini dijadikan tempat belajar bersama?" tanya Abel dengan hati-hati.
"Tentu boleh dong, sayang. Nanti biar bunda dan papa siapin tempat yang luas sama beberapa makanannya. Kamu tenang aja, tinggal bilang kapan waktunya" ucap Nadia dengan antusias.
Jawaban Nadia ini membuat Abel dan Anara bahagia. Keduanya kini tampak bebas dalam mengutarakan pendapat dan keinginan melalui kedua orangtuanya. Tentunya Nadia sangat antusias mendengar anak-anaknya akan mengadakan kegiatan positif seperti belajar bersama. Selain bisa membantu temannya yang memang lamban belajar, namun itu bisa meningkatkan hubungan sosialisasi antar sesama. Nadia bahagia kedua anaknya sudah mau membuka diri untuk berteman dengan teman sebayanya.
"Wooo... Kak Bel mau belajar bersama teman-temannya disini? Bisa lho kalau nanti Arnold yang jadi gurunya" ucap Arnold menawarkan diri.
"Kalau kamu jadi gurunya, kamu mau ngajarin apa sama mereka?" tanya Mama Anisa dengan sedikit meledek cucunya itu.
Tiba-tiba saja Arnold berdiri dari duduknya kemudian berkacak pinggang menghadap neneknya. Begitu pula dengan Alan yang mengikutinya membuat semua yang ada disana tertawa geli. Keduanya begitu mirip bahkan pipinya juga sama-sama bulat.
"Jangan suka meremehkan Arnold ya. Arnold itu rajin menabung, pintar menggombal, merayu, dan jajan. Pastinya Arnold akan ngajarin teman-teman kakak Bel dan Nara untuk mendapatkan cewek cantik melalui sebuah kata-kata. Bahkan Arnold juga akan mengajari mereka tentang cara membuat wajah menjadi kinclong kaya teman-teman arisan nenek" seru Arnold dengan bangganya.
Hahahaha...
Nadia dan Mama Anisa sontak saja tertawa mendenar ucapan Arnold yang benar-benar menggelikan itu. Mama Anisa memang sering membawa Arnold dan Alan untuk menemani arisan dirinya bersama teman-teman sosialitanya. Bahkan disana teman-temannya saling mengajari untuk membuat wajah menjadi cantik dan menawarkan beberapa barang rumah tangga. Tak disangka jika Arnold akan menirukan gaya teman-teman neneknya itu.
"Beda sayang. Kalau kak Nara dan Abel kan belajarnya seperti matematika, IPA dan lainnya" uap Nadia setelah meredakan tawanya.
__ADS_1
"Nggak asyik... Napa sih sekolah harus belajar kaya gitu? Bikin pusing, kan yang penting di dunia ini bisa tahu nominal uang" ucap Arnold dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sudahlah, Mama Anisa dan Nadia sudah tidak bisa lagi menjawab pertanyaan dari Arnold. Arnold ni terlalu kritis dan pintar berbicara membuat lawannya kuwalahan. Akhirnya Arnold dan Alan kembali duduk kemduian bermain bersama diikuti oleh kedua kakak perempuannya. Mama Anisa dan Nadia tentunya masih terus membahas tentang perkembangan empat bocah kecil yang begitu membanggakan itu.