
Dengan dibantu oleh para karyawan toko, mereka memasukkan semua barang belanjaan kedalam bagasi mobil. Namun Arnold memintanya untuk dibuka saja plastikanya agar nanti mudah mengambilnya. Mereka menuruti perintah Arnold itu kemudian mengucapkan terimakasih karena sudah dibantu. Saat Mama Anisa akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja...
"Bentar, nek. Diam disitu, mobilnya jangan dinyalain dulu" ucap Arnold yang juga langsung kembali membuka bagasi mobilnya kembali.
Semua yang melihatnya bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Arnold namun mereka juga segera saja tak jadi masuk dalam mobil. Arnold memilih beberapa mainan untuk perempuan dan laki-laki.
"Tini Alan antu" ucap Alan.
Arnold menganggukkan kepalanya kemudian memberikan dua buah boneka pada Alan kemudian yang lainnya ia yang bawa. Arnold berjalan berlawanan arah dengan mobil yang akan dikendarai oleh Mama Anisa. Nadia yang tak ingin terjadi sesuatu pada kedua anaknya pun memilih untuk mengikuti keduanya.
Terlebih ini berada di pinggir jalan raya yang banyak kendaraan berlalulalang. Sedangkan Mama Anisa dan Nenek Hulim diminta oleh Nadia agar menunggu di depan toko saja agar mereka tak kelelahan.
Setelah berjalan sebentar, ternyata tadi Arnold melihat seorang pemulung tengah duduk didepan toko sambil membawa dua anak kecil perempuan dan laki-laki. Mereka sepertinya sedang istirahat terbukti dari seorang pria paruh baya yang sedang memberikan minuman kepada dua bocah kecil itu.
Arnold dan Alan berjalan mendekat kearah ketiga orang itu kemudian kedua anak Nadia itu memberikan masing-masing dua mainan kepada mereka. Nadia begitu terharu melihat adegan itu bahkan Nenek Hulim dan Mama Anisa yang ada di kejauhan pun saling memeluk. Mereka tak menyangka jika kedua cucunya mempunyai pemikiran seperti itu.
"Mulia sekali hatinya. Kalau mereka beli ini untuk oranglain mah, habis ratusan juta pun juga nggak akan aku marahi" ucap Mama Anisa dengan mata berkaca-kaca.
"Harusnya tadi kita bagi dua tadi buat bayar mainannya. Kalau enggak, besok kita gantian aja bayarnya. Pasti tuh dua anak baik akan melakukan sesuatu lagi buat bantu orang" ucap Nenek Hulim.
Mama Anisa menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan dari Nenek Hulim. Lagi pula takkan habis uang mereka kalau memang digunakan untuk membantu orang sekitar. Bahkan mereka berdua akan selalu mendukung apapun yang diminta oleh cucu-cucunya jika memang itu perbuatan baik.
***
__ADS_1
"Ini buat kalian" ucap Arnold sambil memberikan dua buah mobil dan truk mainan kepada anak laki-lakinya.
Sedangkan Alan memberikan buah boneka barbie dan beruang kepada anak perempuan yang sepertinya seumuran dengannya. Sedangkan ayah dari kedua anak itu memandang Arnold dan Alan dengan pandangan haru. Ia teramat bersyukur ada orang baik yang mau memberi kedua anaknya mainan.
"Acih..." ucap kedua anak kecil itu.
"Cama-cama antik" ucap Alan dengan senyum manisnya.
Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah Alan yang memuji anak kecil perempuan itu. Arnold menyenggol lengan bundanya untuk memberi kode lewat matanya sambil menunjuk tas yang dibawa oleh Nadia. Nadia yang mengerti pun menganggukkan kepalanya.
Nadia merogoh tasnya kemudian mengeluarkannya dengan menggenggam sesuatu di tangannya. Genggaman tangan itu langsung ia berikan pada pria paruh baya yang masih fokus melihat anak-anaknya yang begitu bahagia mendapatkan mainan.
"Ini ada sedikit rejeki dari kami untuk beli buku" ucap Nadia dengan memberikan uang pada telapak tangan pria paruh baya itu.
Ia begitu terkejut dengan apa yang diberikan oleh wanita yang ada didepannya. Air mata mengalir deras pada kedua pipi tua pria itu karena begitu bahagia. Ia ingin segera membelikan makanan untuk kedua anaknya agar mereka bisa merasakan makan enak.
Nadia mengaminkan do'a yang dilantunkan oleh pria paruh baya itu. Ketiganya segera pamit kepada mereka untuk melanjutkan perjalanan.
"Da... Da... Da... Da... Adik antik, campe beltemu agi" ucap Alan sambil melambaikan tangannya.
Kedua anak kecil itu juga melambaikan tangannya mengikuti Alan. Bahkan anak kecil perempuan itu bertepuk tangan dengan cerianya karena begitu bahagia sudah berjumpa dengan orang sebaik Arnold dan Alan.
"Kamu jangan genit" ledek Arnold setelah berjalan pergi sambil menggandeng adiknya itu.
__ADS_1
"Napa bang ilang ditu? Alan ndak nitnit tok, tan Alan ndak unya pacal. Adi ndak apa don talo ilang cemua wewek antik" jawab Alan acuh tak acuh.
"Talo bang Anol yan ilang wewek lain antik tu balu enit. Bang tan udah unya kak Ilam" lanjutnya.
Arnold menggerutu kesal dengan apa yang diucapkan oleh adiknya itu. Ditegur dan dinasihati malah balik menyalahkan, ingin rasanya ia membuang adiknya itu ke kandang kambing. Sedangkan Nadia yang mengikuti keduanya dari belakang hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar perdebatan mereka.
"Nenek bangga sama kalian" seru Mama Anisa dan Nenek Hulim bersamaan saat kedua cucunya sudah dekat pada mereka.
Mama Anisa dan Nenek Hulim langsung memeluk keduanya dengan erat di pinggir jalan saat mereka sudah mendekat. Alan dan Arnold memberontak karena terus diciumi oleh kedua wanita paruh baya itu.
"Jangan cium-cium pipi kami, tambah lebar ini nanti" protes Arnold.
"Tium-tium pipi aku halus bayal. Ndak glatis" ucap Alan.
Arnold dan Alan yang berhasil lepas dari kedua wanita paruh baya itu langsung berlari dan masuk kedalam mobil. Kedua wanita itu terkekeh melihat tingkah kedua cucunya yang begitu lucu. Nadia segera masuk kedalam mobil diikuti oleh Nenek Hulim dan Mama Anisa.
Mobil yang dikendarai Mama Anisa itu akhirnya melaju menuju beberapa tempat yang diinginkan oleh Arnold dan Alan. Rasanya tak ada perasaan lelah karena harus mengantar dari satu tempat ke tempat yang lainnya karena dijalani dengan ikhlas.
Melihat senyum cucu dan anak-anak yang diberi mainan begitu sumringahnya membuat semua orangtua begitu senang. Mereka tak menyangka jika dengan mainan saja sudah bisa menyenangkan oranglain. Bahagia mereka ternyata sesederhana itu.
"Udah habis mainannya, tinggal ini aja" ucap Alan sambil menunjukkan kecoak mainan yang tersisa di plastik besar.
Semua mainan memang sudah dibagikan kepada anak kecil yang kurang beruntung itu. Dari pemulung hingga anak jalanan yang tentunya hampir merata membuat mereka merasa begitu bahagia.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kita pulang. Makan siang" ajak Mama Anisa.
Keduanya menganggukkan kepalanya kemudian memeluk bundanya yang duduk ditengah. Sepertinya kedua bocah kecil itu begitu kelelahan karena begitu antusias untuk turun ke jalan berbagi mainan pada anak-anak kurang beruntung. Nadia mengelus lembut rambut mereka hingga terlihat kalau keduanya tertidur pulas di pelukan sang bunda.