Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Fakta Masa Lalu 3


__ADS_3

Kini ibu-ibu yang tadinya sedang sibuk memetik buah itu langsung saja berlari kemudian mendekat kearah Zunai dan memeluknya. Zunai memang sudah diturunkan dari gendongan Andre membuat ibu-ibu itu begitu puas memeluk gadis cilik itu. Bahkan Zunai tak terlihat ketakutan sama sekali saat dipeluk ibu-ibu itu yang artinya memang orang itu bukanlah orang jahat.


"Kamu kemana aja, nak? Terakhir ibu lihat waktu itu kamu di pasar kenapa sejak saat itu menghilang gitu saja" cerocos ibu-ibu itu dengan rasa paniknya.


"Zunai dan adik tersesat di kota karena ikutan mobil pengangkut sayur. Rencananya Zunai pengen cari ayah ke kota, siapa tahu saja ketemu" ucap Zunai dengan polosnya kemudian melepaskan pelukannya.


"Astaga... Kamu masih kecil, kenapa nekat sekali? Kamu kan bisa pamit sama ibu biar kami bantu. Kamu juga sih nggak mau tinggal di rumah kami" ucap ibu itu tak berhenti menyerocos.


Zunai hanya bisa terkikik geli melihat ibu-ibu yang ternyata adalah Bu RT di desa ini. Tak menyangka ia jika bisa bertemu dengan Zunai kembali. Padahal dulunya para warga disini khawatir dengan hilangnya Zunai dan adiknya itu. Mereka sudah mencarinya ke tempat Budhe Ana dan tempat lainnya namun tidak ketemu. Para warga bahkan sudah menawari Zunai dan adiknya tinggal di salah satu rumah namun mereka tak mau.


"Zunai ndak mau ngrepotin kalian. Biar kami di belakang masjid ini saja sampai nanti Ega bisa jalan. Kalau sudah jalan kan kita bisa berdua terus" ucap Zunai dengan polosnya.


Hampir setiap hari para warga bergantian memberikan makanan dan perlengkapan lainnya untuk keduanya. Hingga saat Ega sudah bisa berjalan, mereka keluar dari belakang masjid karena adanya renovasi besar-besaran. Para warga sudah memintanya tinggal di rumah Bu RT namun lagi-lagi Zunai menolaknya. Mereka lebih memilih hidup di jalanan dan pos ronda.


"Zunai dan adik baik-baik saja. Lihat coba badan Zunai, semakin gendut kan?" tanya Zunai pada Bu RT.


"Berarti di kota kamu sudah ketemu bapakmu?" tanya Bu RT dengan antusias.

__ADS_1


Bu RT itu menatap dan melihat penampilan Zunai dari atas ke bawah. Memang Zunai walaupun baru beberapa hari tinggal dengan keluarga Andre, berat badannya semakin naik. Bahkan kini pipinya terlihat lebih gembul dengan penampilan yang lebih bersih. Bu RT sampai takjub hingga menganga tak percaya dan berpikir kalau Zunai memang sudah bertemu dengan ayahnya karena penampilannya yang begitu rapi.


"Belum" ucap Zunai dengan bahu tampak lesu.


"Oh ya... Kenalin ini kakek Zunai dan ini papa yang baru" lanjutnya memperkenalkan Papa Reza dan Andre.


Memang sedari tadi keduanya memilih diam agar mereka bisa leluasa dalam berbincang. Bahkan Bu RT sendiri mungkin tak sadar jika Zunai datang bersama dengan keduanya. Bu RT itu hanya bisa tersenyum kikuk karena melihat wajah datar dua orang laki-laki didepannya ini.


"Saya kakek atau lebih tepatnya Paman Zunai. Kaak dari Dewi, ibu Zunai" ucap Papa Reza memperkenalkan dirinya.


"Tapi kok saya nggak pernah lihat tuan ini ya? Setahu saya keluarga Dewi itu ya Budhe Ana dan suaminya itu. Ia juga hanya punya adik yang sekarang mentalnya bermasalah" ucap Bu RT dengan tatapan bingungnya.


"Boleh kami duduk? Sekalian harus ada yang ingin kami tanyakan" tanya Papa Reza tanpa menjawab pertanyaan Bu RT.


Bu RT pun mengangguk kemudian mempersilahkan mereka duduk di kursi teras. Sedangkan Bu RT langsung masuk ke dalam memanggil suaminya juga sekalian membuatkan minuman. Tak berapa lama Bu RT keluar bersama dengan suaminya itu.


"Ini silahkan diminum dulu" ucap Bu RT mempersilahkan.

__ADS_1


Papa Reza dan Andre langsung meminum minuman yang telah disediakan, sedangkan Zunai sibuk dengan susu kotaknya. Pak RT yang sudah diceritakan sedikit mengenai tujuan dari mereka datang kemari pun langsung dengan sigap ikut keluar. Ia menunggu mereka istirahat sejenak sambil menikmati suguhan yang ada.


"Jadi saya langsung saja pak, bu. Saya kesini ingin mengetahui tentang Budhe Ana dan keluarganya terutama Dewi adik saya. Sekalian Zunai dan Ega kan mau masuk dalam kartu keluarga kami yang nantinya akan sah sebagai anak kami sehingga perlu saya memastikan latar belakangnya. Khawatirnya kalau mereka ada keluarga nanti malah bermasalah ke depannya" ucap Papa Reza mengawali yang kemudian menjeda ucapannya.


"Awalnya saya tak tahu kalau Zunai ini keponakan atau anak dari Dewi. Setelah lihat identitas yang dibawa dalam kantong plastik, baru lah saya mengetahui fakta itu. Dewi dulunya dinyatakan hilang oleh pihak kepolisian saat tersesat di gunung. Semenjak saat itu kami tak pernah bertemu" lanjutnya menceritakan.


Tentunya apa yang diceritakan oleh Papa Reza ini membuat sepasang suami istri itu terkejut. Mereka saling pandang namun juga bingung harus menimpali seperti apa. Mengenai masa lalu keluarga Dewi memang tak ada yang tahu karena mereka disini hanyalah warga pindahan.


"Kalau untuk asal usul lebih jelasnya itu sebaiknya tanyakan pada Budhe Ana saja karena dulu mereka itu warga pindahan. Dewi pun pindah kesini saat usianya sudah 20an kalau tidak salah" ucap Pak RT memberi saran.


"Kalau begitu nanti saya minta tolong untuk antarkan ke rumah Budhe Ana itu. Sekalian bisa minta tolong bapak atau ibu ceritakan bagaimana kehidupan adik saya?" tanya Papa Reza mencoba menenangkan dirinya dan dijawab oleh anggukan kepala.


Mereka tak tahu bagaimana kehidupan Dewi saat masih tinggal dengan keluarga Budhe Ana karena semua anggotanya begitu tertutup. Namun mereka langsung menceritakan setelah Dewi menikah dengan Lukman. Kehidupannya serba kekurangan dengan hanya mengandalkan Lukman sebagai pekerja buruh di pasar. Pernikahan keduanya juga ditentang oleh keluarga Budhe Ana namun Dewi tetap nekat menikah dengan Lukman.


Keluarga Budhe Ana selalu merongrong Lukman dan Dewi dengan memberikan uang terlebih ada anak lain yang butuh tambahan biaya berobat. Tak jarang warga disini saling membantu keluarga kecil itu walaupun hanya sedikit. Dewi yang waktu itu melahirkan seorang anak juga tak disukai oleh Budhe Ana bahkan suka marah-marah tak jelas pada Zunai.


Saat lahir Ega, sebenarnya Dewi itu mengalami pendarahan sehingga Lukman meminta tolong Budhe Ana untuk meminjaminya uang. Namun ditolak dengan keras yang akhirnya Dewi harus melahirkan dengan peralatan seadanya di bidan terdekat. Hal ini membuat Dewi tak bisa diselamatkan namun beruntung Ega masih selamat.

__ADS_1


__ADS_2