Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Negosiasi 2


__ADS_3

Andre dan Papa Reza memilih untuk datang ke kantor pada siang hari. Andre sudah menghubungi Bayu agar menghandle pekerjaannya selama beberapa jam ke depan. Walaupun ia tahu kalau Bayu pasti sedang mengumpati dirinya dalam hatinya namun laki-laki itu hanya bisa pasrah menerima tugas dari Andre. Setelah sarapan bersama dengan keluarganya, keduanya segera keluar dari rumah diikuti Nadia dan Mama Anisa.


"Selesaikan ini dengan baik-baik. Tapi kalau nggak bisa diajak diskusi, hancurkan saja tuh ruangannya" ucap Mama Anisa memberikan ide.


Nadia hanya bisa terkikik geli mendengar ucapan dari mertuanya itu. Terlebih Andre dan Papa Reza yang hanya bisa geleng-geleng kepala dengan ide aneh yang dilontarkan oleh Mama Anisa itu. Terlebih jika nanti sampai menghancurkan ruangan sekolah tentunya akan menjadi perkara panjang.


Keduanya segera mencium istrinya masing-masing kemudian berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya. Keduanya masuk dalam mobil kemudian melajukan kendaraannya keluar rumah setelah melambaikan tangan pada dua wanita yang masih menunggu mereka pergi.


Keduanya segera masuk kembali ke dalam rumah untuk mengurus Anara dan Abel yang sampai saat ini masih lemas dan tiduran diatas ranjangnya. Sedangkan Alan dan Arnold yang memang tak punya kegiatan apa-apa hanya bisa bermain berdua di ruang keluarga. Nenek Hulim dan Fikri semalam langsung pulang karena esok pagi harus siap-siap kembali melakukan kegiatannya.


"Kalian mau ikut temani kakak di kamar atau main disini saja?" tanya Nadia dengan lembut.


"Kita main di kamar kakak saja, bunda" ucap Arnold.


Alan hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan dari Arnold. Keduanya digandeng oleh Nadia saat naik tangga sedangkan Mama Anisa menyiapkan sarapan untuk cucunya. Kemudian mereka berjalan menuju kamar kakaknya. Mereka tersenyum melihat kedua kakaknya sudah bangun dan duduk diatas ranjangnya.


"Kak Nala dan Bel cudah cembuh? Tok dah angun cih, halusna talo macih cakit tu tidul aja" ucap Alan memperingatkan.


"Sudah lumayan membaik kok, dek" ucap Abel dengan tersenyum tipis.


Keduanya masih terlihat pucat bahkan bibirnya pecah-pecah. Mata keduanya menatap sayu kepada bunda dan kedua adiknya itu. Alan juga kini langsung duduk diatas ranjang dengan bantuan sang bunda. Nadia segera merapikan rambut kedua anak gadisnya yang sudah seperti singa itu.

__ADS_1


"Yo akan cama inum obat bial epat embuh. Talo pelu ndak ucah cekolah celamana aja bial tayak Alan" ucap Alan memberikan ide.


"Mana bisa gitu dek? Suatu hari nanti kamu juga harus sekolah kalau sudah sesuai umurnya" ucap Nadia menasihati dengan lembut.


"Alas Alan mah talo cekolah. Dali emalin cekolahna ndak ada yan benal. Bitin cekolah cendili aja unda cama papa bial Alan bica kasih pelatulan cendili" ucap Alan kesal.


Alan kesal setiap berhubungan dengan sekolah selalu saja kakak dan abangnya itu kemarin sakit. Hal ini membuat Alan sedih karena semuanya akan fokus dengan kesembuhan mereka. Alan yang kesal pun kini langsung saja turun dari kasur dengan susah payah kemudian berjalan mendekat kearah Arnold yang sedari tadi diam.


Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sifat keras kepala dari anaknya itu. Terlebih kini Alan ingin memintanya untuk membangunkan sebuah sekolah yang bisa ia buat peraturannya sendiri. Abel dan Anara kini menatap bundanya dengan tatapan sulit diartikan hingga Nadia mengetahui itu.


"Terimakasih bunda, sudah mau merawat dan menerima kami yang hanya anak sambungmu" ucap Abel tiba-tiba dengan mata yang berkaca-kaca.


"Eh... Kalian anak kandung bunda. Nggak ada anak sambung bagi bunda. Kalian sama kaya Alan, anak bunda" ucap Nadia dengan tegas.


"Jangan sedih-sedihan dong. Kita sudah jadi satu keluarga dan Arnold harap bahwa selamanya kita akan begini" ucap Arnold yang kemudian memeluk Nadia dari samping.


"Tenapa ada tengeng cemua? Tuma Alan nih yan ndak angis" ucap Alan sedikit meledek.


Mereka berempat tak ada yang menggubris ucapan Alan dengan terus saling memeluk. Setelahnya Alan memilih ikut memeluk kaki bundanya karena hanya itu yang bisa dijangkaunya.


***

__ADS_1


Andre dan Papa Reza sudah memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus. Setelah berhasil memarkirkan kendaraannya, keduanya segera turun dari mobil kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk" ucap seseorang dari dalam.


"Permisi, saya orangtua Abel dan Anara" ucap Andre dengan sopan setelah membuka pintu.


Seseorang yang ada didalam ruangan itu langsung saja memberikan kode pada Andre dan Papa Reza untuk segera masuk ke dalam. Kepala sekolah yang bernama Ibu Yuni itu sudah tahu mengenai permasalahan yang ada. Hal itu karena ada seorang guru yang mengungkapkan semuanya di grup khusus pendidik dan kepala sekolah.


Namun Ibu Yuni tak serta merta mempercayai semuanya karena ia juga harus meminta keterangan dari siswa dan walinya. Baru hari ini dia akan memberikan surat panggilan untuk orangtua Anara dan Abel namun kebetulan sekali mereka sudah datang. Ibu Yuni langsung ikut duduk di kursi tamu bersama dengan Andre dan Papa Reza.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya Ibu Yuni dengan ramah.


"Kami kesini ingin membicarakan masalah tentang olimpiade yang diikuti oleh kedua anak saya. Saat ini kondisi Anara dan Abel sedang demam karena terlalu kelelahan juga tertekan akibat dari lamanya waktu belajar tambahan. Saya semalam sudah menghubungi salah satu guru yang mengajar untuk meminta ijin kedua anaknya tak bisa ikut belajar tambahan beberapa hari. Namun guru tersebut hanya mengijinkan satu hari saja dengan alasan waktu olimpiade tinggal sebentar lagi dan materinya masih banyak yang belum dijelaskan" jelas Andre.


Ibu Yuni terlihat mengerutkan dahinya heran mendengar penjelasan dari Andre. Pasalnya semalam guru itu memberikan informasi di grup kalau Anara dan Abel mengundurkan diri dari olimpiade secara sepihak. Namun apa yang diucapkan oleh Andre berbanding terbalik.


"Berarti Anara dan Abel masih mau ikut olimpiade kan, pak? Bukan mengundurkan diri" tanya Ibu Yuni.


"Saya tetap mengijinkan mereka ikut karena keduanya sudah terlanjur terjun dalam seleksi olimpiade ini. Saya hanya minta waktu untuk anak saya istirahat mungkin sampai H-1 acara. Sebagai gantinya biar saya dan istri akan mengajari mereka di rumah karena mereka kini sedang demam" jelas Andre dengan bingung.

__ADS_1


Pasalnya apa yang diucapkan oleh Ibu Yuni dan dia seakan tak sinkron membuat keduanya malah kebingungan. Akhirnya Ibu Yuni memilih untuk memanggil guru penanggung jawab dan pembimbing olimpiade ini agar tak ada yang salah paham.


__ADS_2