
Plak... Plak... Plak...
Tiga kali tamparan mendarat di kedua pipi Andre yang diberikan oleh Mama Anisa kepada anaknya itu. Ia benar-benar muak dengan sifat temperamental Andre yang sedari dulu tak bisa dikendalikan itu. Beruntungnya dulu dia tak pernah melampiaskannya kepada anak-anaknya, namun entah apa yang merasukinya sampai menggunakan ketiga bocah kecil tak berdosa itu sebagai pelampiasan.
Andre hanya terdiam mematung membiarkan mamanya melampiaskan segala amarahnya kepadanya. Memang ini salahnya jadi ia takkan membela diri hanya untuk mendapatkan maaf dari keluarganya.
"Nggak punya hati kamu, Ndre. Kalau kaya gini, apa bedanya kamu sama Aneta dan keluarga suaminya itu? Kamu memang tak menyiksa fisiknya, namun kau menjatuhkan mentalnya hiks" sentak Mama Anisa sambil menangis.
Dia sungguh tak bisa melihat ketiga cucunya terluka batinnya seperti ini. Dia memang tahu kalau perusahaan milik suami dan anaknya goyah namun itu bukanlah suatu alasan untuk menyakiti salah satu anggota keluarganya. Mereka harus bersatu dan kompak untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada, bukannya malah saling menyakiti seperti ini.
Papa Reza yang melihat istrinya kalap pun segera mendekat kearah Mama Anisa. Sedangkan Andre masih menundukkan kepalanya karena merasa sangat bersalah. Nadia dan Anara saling memeluk sambil menangis karena melihat pertengkaran ibu dan anak itu.
"Ma, jaga emosimu. Jangan sampai Anara shock berat melihat kekerasan yang ada didepannya" bisik Papa Reza tepat pada telinga istrinya.
Mama Anisa hanya menganggukkan kepalanya lemah kemudian kembali duduk di kursinya. Brankar tempat tidur Arnold dan Abel didorong oleh beberapa perawat keluar dari ruang IGD. Kelimanya segera mengikuti jalannya brankar itu sampai menuju sebuah ruang rawat inap VIP. Keluarga juga meminta untuk Arnold dan Anara dijadikan satu ruangan saja agar memudahkan mereka menjaga keduanya.
***
"Anara pulang yuk sama nenek dan kakek. Nggak baik anak kecil ada di rumah sakit" ajak Mama Anisa.
"Nggak mau, nek. Nara mau disini aja sama bunda, kakak Abel, dan Arnold" tolak Anara sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sudah sedari tadi Mama Anisa dan Papa Reza membujuk Anara agar pulang ke rumah, namun gadis itu kekeh untuk tetap berada disana. Nadia yang melihat orangtuanya sudah kuwalahan membujuk Anara pun akhirnya turun tangan.
"Kakak Nara, pulang ya sama nenek dan kakek. Kak Nara butuh istirahat lho, kamu nggak mau kan kalau sampai sakit kaya Kak Abel dan Arnold? Anak kecil nggak boleh terlalu lama di rumah sakit kecuali yang benar-benar membutuhkan bantuan dokter dan perawat. Besok Kak Nara bisa kesini lagi sama nenek dan kakek buat jengukin mereka, bunda malam ini pasti jagain keduanya kok" ucap Nadia dengan lembut.
Anara terdiam sebentar memikirkan tentang ucapan Nadia. Dia sebenarnya takut jika harus berjauhan dengan kedua saudaranya itu, namun dia juga tak mau kalau sakit karena terlalu lama di rumah sakit. Akhirnya Anara menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan usulan Nadia.
"Janji ya bunda kalau akan jagain Kakak Abel dan Arnod. Jangan dibentak-bentak, kasihan mereka" peringat Anara.
Andre yang mendengar sindiran halus dari anaknya itu pun hanya bisa mematung. Terlebih itu sindiran seperti menusuk jantungnya. Sedari tadi pun Anara tak mau dekat bahkan berbicara dengannya. Nadia hanya menjawab peringatan Anara itu dengan menganggukkan kepalanya.
Mama Anisa pun pamit kepada Nadia kemudian berlalu pergi meninggalkan gadis itu dan Andre yang masih berdiri mematung. Sedangkan Papa Reza mendekat kearah Andre kemudian membisikkan sesuatu yang membuat Andre merasa sangat menyesal.
"Ndre, kamu menyelesaikan masalah perusahaan itu tidak sendiri. Ada papa dan mama yang akan membantumu, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting kita bersatu dan tak tercerai berai seperti ini yang akan membuatmu lawanmu merasa menang. Kalaupun memang harta kita habis, kita masih ada keluarga yang saling mendukung agar bisa bangkit kembali" bisik Papa Reza kemudian berlalu pergi dari ruang rawat inap kedua cucunya.
***
Nadia yang melihat Andre sangat kacau pun segera menarik kedua tangan laki-laki itu untuk duduk disampingnya. Tak mungkin dirinya membiarkan suaminya bersimpuh dibawah kakinya. Nadia segera saja memeluk Andre dengan eratnya sambil terus mengusap punggung lebar suaminya dengan lembut.
"Jangan lakukan itu lagi sama anak-anak. Otak dan memori mereka masihlah polos, kejadian buruk seperti ini akan terus mereka ingat sampai dewasa kelak. Jangan sampai akibat dari ini, sikap mereka akan berubah padamu dan menirunya kelak saat dewasa" nasihat Nadia.
Andre menganggukkan kepalanya mengerti didalam pelukannya pada sang istri. Ia berjanji dalam hatinya untuk menahan emosinya ketika didepan anak-anak jika sedang menghadapi masalah. Dia ingin menjadi sosok papa yang baik untuk ketiga anaknya.
__ADS_1
"Tolong tegur aku jika aku mulai ada tanda-tanda hilang kendali" bisik Andre.
Nadia hanya menganggukkan kepalanya. Memang tugasnya sebagai seorang istri untuk menegur suaminya jika salah dan selalu membantunya dalam keadaan susah. Ia takkan bertanya tentang masalah apa yang sedang dihadapi suaminya itu sampai emosinya tak terkendali seperti tadi siang. Dia akan memberikan waktu pada Andre untuk bisa lebih terbuka padanya.
"Jika ada masalah, ceritalah padaku. Mungkin aku tak bisa membantumu banyak, namun aku akan selalu mencoba menenangkan dan mendukungmu dalam menghadapi segala masalah" pesan Nadia.
"Terimakasih" ucap Andre.
Hanya ucapan terimakasih yang bisa diucapkan Andre pada istrinya itu. Ia sangat beruntung mempunyai istri sebaik Nadia yang mau menerima ketiga anaknya dan juga dirinya yang tak sempurna itu. Harta memang penting, namun tanpa keluarga malah akan semakin memperburuk kesepian.
"Ayo kita tidur" ajak Nadia sambil melepas pelukannya dari Andre.
Andre pun menata bantal sofa yang kemudian akan mereka tempati untuk tidur berdua. Kursi sofa yang luas menjadikan mereka memilih untuk tidur disana. Keduanya pun tidur saling berpelukan dengan harapan bisa beristirahat sejenak sebelum menghadapi kejamnya dunia.
***
"Bunda... Tolongin Abel, takut..." teriak Abel sambil menangis bahkan sampai menjambak rambutnya.
Saat Andre dan Nadia masih terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba mereka tersentak kaget saat ada teriakan yang berasal dari brankar pasien. Keduanya segera saja terduduk kemudian melihat kearah Arnold dan Anara yang terduduk diatas brankarnya.
Arnold terdiam dengan mata berkaca-kaca sambil menatap Abel yang berada disebelahnya. Sedangkan Abel masih terus histeris bahkan infus yang berada ditangannya sampai berdarah karena gerakan tangan gadis kecil itu. Nadia dan Andre segera saja mendekat kearah keduanya. Namun bukannya tenang, Abel semakin histeris saat melihat kedatangan Andre.
__ADS_1
"Panggil..."