Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Permintaan Maaf


__ADS_3

Nadia terdiam dengan pikirannya sedangkan Andre sedang merangkai kalimat agar bisa meyakinkan gadis itu untuk segera kembali mengasuh dan menjaga ketiga anaknya. Hanya terdengar helaan nafas yang terdengar dari keduanya.


"Aku minta maaf atas ucapanku kemarin yang menyakitimu. Aku sedang emosi dan kalut saat melihat Abel kembali trauma" ucap Andre sambil menundukkan kepalanya.


Andre menurunkan gengsi dan egonya demi kebaikan semua orang yang ada disekitarnya. Terlebih sebenarnya dia juga masih sayang dan cinta dengan Nadia, hanya saja dia bukanlah orang yang pintar berkata-kata manis dan romantis. Nadia yang mendengar ucapan dari Andre pun seketika mengalihkan pandangannya kearah laki-laki itu.


"Lalu bagaimana dengan kelanjutan hubungan kita? Aku rasa kita memang belum siap dalam menjalin hubungan lebih dari seorang pengasuh dan majikannya. Jadi kalau kau ingin membatalkan acara pernikahan kita, lebih baik kau bilang dengan kedua orangtuaku. Kebetulan kami juga belum terlalu mempersiapkan acara itu" ucap Nadia.


Tanpa menjawab permintaan maaf dari Andre, Nadia mulai membahas tentang apa yang sedari tadi dipikirkannya. Untuk dia yang akan menjadi pengasuh ketiga anak Andre, itu akan ia bahas nanti setelah selesai mengenai pembahasan tentang hubungan keduanya.


"Pernikahan itu akan tetap berlanjut karena kedua orangtuaku tadi saat mendengar bahwa aku ingin membatalkannya, mereka sangat marah. Jadi aku putuskan untuk melanjutkan pernikahan ini" ucap Andre.


"Ini yang menikah itu kedua orangtuamu atau kita? Jadi kau takut jika kedua orangtuamu akan marah apabila pernikahan ini tak ada? Hello... Yang menjalani pernikahan adalah kita, kalau kau menikahiku karena kemarahan kedua orangtuamu, lebih baik batalkan saja. Aku tidak ingin menikah dengan seorang laki-laki yang menikahiku karena alasan tertentu dan takut pada kemarahan orangtuanya" ucap Nadia.


Andre menepuk dahinya pelan, sepertinya dia salah memilih kata-kata untuk mengungkapkan semua yang dirasakannya sehingga Nadia salah paham mengartikannya. Sedangkan Nadia tengah mengepalkan kedua tangannya karena merasa kesabarannya telah habis untuk menghadapi laki-laki itu. Dalam pikiran Nadia, Andre itu hanya mempermainkan dirinya saja.


Nadia berdiri dari posisi duduknya kemudian menghadapkan badannya kearah Andre yang juga ikut berdiri.


"Aku terima permintaan maafmu dan aku juga akan tetap menjadi pengasuh untuk ketiga anakmu. Namun maaf, kita tak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita. Mulai malam ini dan detik ini, hubungan kita murni sebagai pengasuh anak dan majikan saja. Terimakasih, selamat malam" putus Nadia.

__ADS_1


Nadia segera berlalu setelah mengucapkan semua yang telah ia pikirkan, sedangkan Andre terkejut dengan keputusan yang diambil oleh Nadia. Tanpa bisa dicegah, Nadia masuk kedalam rumah kontrakannya meninggalkan Andre yang masih shock. Padahal dirinya tadi ingin menjelaskan dan mengungkapkan perasaannya namun sudah keduluan dengan ucapan Nadia.


"Arrgghhhhh... Sialan" gerutu Andre dengan tangan mengepal dan menonjok angin.


AndreĀ  mengacak-acak rambutnya frustasi dengan nasib percintaannya yang begini. Andre pun berlalu pergi meninggalkan rumah Nadia pasalnya jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Tak enak juga dengan tetangga dan kedua orangtua Nadia jika nanti mendengar keributan yang ia perbuat. Dia memutuskan untuk membicarakan hal ini kepada Nadia esok hari saat ketemu di rumahnya.


***


Andre menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, matanya menelusuri jalanan malam yang terlihat sangat sepi. Bahkan di sepanjang perjalanan tak ada satupun orang yang ditemuinya mengingat hari sudah sangat malam dengan udara yang begitu dingin.


Namun saat dirinya akan membelokkan mobilnya kearah gang perumahannya, dia melihat seseorang yang dikenalnya tengah berkumpul dengan beberapa preman. Andre segera memberhentikan mobilnya tak jauh dari sana dan melihat pergerakan dari orang-orang itu. Orang yang dilihatnya itu adalah Parno bersama para preman yang sering berbuat ulah disekitar jalan perumahan tempat tinggal Andre.


"Wah... Ku kira cupu ternyata suhu" gumam Andre.


"Oh iya, gue kan mau balas perlakuan kedua orangtuanya karena sudah membuat Abel traumanya kambuh" ucap Andre pada dirinya sendiri.


Andre segera saja turun dari mobilnya tanpa berpikir dahulu bahwa dia kini hanya seorang diri untuk menghadapi banyak orang. Namun amarah yang sudah ingin meledak didalam dadanya membuatnya tak berpikir tentang keselamatannya sendiri.


"Parno..." sentak Andre.

__ADS_1


Parno dan beberapa preman itu segera mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang memanggil nama salah satu diantara mereka. Parno membelalak kaget saat melihat kedatangan Andre, ia pun segera membuang puntung rokoknya sedangkan preman-preman disana mengernyitkan dahinya heran karena merasa tidak kenal.


"Gue kira loe itu anak rumahan, ternyata ini kelakukan loe yang sebenarnya. Udah tengah malam gini masih nongkrong diluar sama preman-preman lagi" sindir Andre.


"Eng-enggak kok, ini tadi David nggak sengaja lewat terus disuruh sama mereka buat ikut gabung. Kalau nggak mau nanti David bisa ditonjok" jawab Parno dengan gagap.


"Cihhh... Mana percaya gue, orang kalian aja ngobrol santai seakan-akan udah kenal lama" ucap Andre dengan sinis.


Sedangkan beberapa preman yang ada disana menatap Parno dengan tatapan bingung dan bertanya. Pasalnya selama mereka berteman di kota ini, tak pernah ada kenalan Parno yang mau sampai memanggil temannya itu. Lalu tadi Parno tak mengakui kalau mereka berteman dan menuduh akan menonjoknya.


"Sebenarnya ada apa ini? Jangan buat kisruh sama teman kita" seru salah satu preman.


"Tuh Parno ada yang ngakuin kalau loe itu temannya" ejek Andre.


"Oh ya... Gue disini mau buat perhitungan sama loe ah lebih tepatnya orangtuamu. Karena gue nggak mungkin hajar tuh orangtua yang ada nanti kuwalat, lebih baik gue ngehajar nih anaknya aja" lanjutnya.


Parno yang melihat itu mengernyitkan dahinya bingung pasalnya dia tak tau masalah apa yang dibuat oleh kedua orangtuanya sehingga Andre akan membalaskan semua kepadanya. Parno sangat takut kepada Andre terlebih kemarin dia hampir mati karena cekikan dari laki-laki itu.


"Woyyyy... Bantuin gue dong, hajar dia" seru Parno kepada para preman itu.

__ADS_1


"Ogah... Tadi aja loe nggak ngakuin kita sebagai teman. Hajar aja sendiri" ucap salah satu preman dengan acuh tak acuh.


Para preman itu pergi meninggalkan Parno bersama Andre karena tak ingin berurusan dengan orang kaya. Tadi para preman itu mengamati penampilan Andre yang stylish dan melihat adanya mobil yang terparkir didekat sana padahal sebelumnya tak ada. Jadi mereka dapat menyimpulkan bahwa Andre adalah orang kaya sehingga mereka tak mau berurusan daripada nanti urusannya semakin ribet.


__ADS_2