
Sedari pagi, Arnold dan Mama Anisa telah sibuk untuk menyiapkan semua kejutan bagi Nadia. Sedangkan Nadia diajak jalan-jalan oleh Andre yang kemungkinan akan pulang sore hari. Alan, Anara, dan Abel juga sedang berada di kamar untuk menyiapkan hadiah. Papa Reza hanya memandang cucu dan istrinya itu sambil membaca koran dan meminum kopi di gazebo halaman belakang rumah.
Acara kejutan ini akan diadakan di halaman belakang rumah sesuai dengan iede Arnold. Arnold mengusulkan di halaman belakang rumah agar lebih menghemat budget. Mama Anisa awalnya kurang setuju, pasalnya uang yang diberikan Andre sangatlah cukup jika hanya untuk menyewa tempat yang mahal. Namun Arnold tetap kukuh dengan pendiriannya membuat Mama Anisa hanya bisa menghela nafasnya pasrah.
"Pokoknya acaranya harus ada di halaman ini. Tinggal kita kasih kursi dan meja udah jadi, nggak perlu lah ke tempat yang mewah gitu" ucap Arnold yakin.
Mama Anisa hanya berharap kalau ulah cucunya itu tak membuat Andre marah. Akhirnya sesuai kesepakatan, keduanya sibuk menata beberapa perlengkapan dekorasi yang akan dipasang. Namun wajahnya menyipit karena melihat kakeknya hanya bersantai ria duduk dengan nyaman.
"Kakek... Jangan jadi orang nggak peka deh. Ayo bantu sini panas-panasan biar kulitnya berwarna eksotis kaya bule-bule di pantai" teriak Arnold.
Papa Reza yang sedang menyeruput kopinya itu pun seketika terkejut bahkan sampai menyemburkan yang telah diminumnya. Ia begitu terkejut ketika Arnold bisa mengucapkan kata-kata itu, darimana cucunya itu bisa tahu ada bule-bule di pantai. Astaga... Sepertinya dia harus mengawasi semua pergerakan dari cucunya yang begitu ajaib itu.
Sedangkan Mama Anisa yang mendengar teriakan cucunya itu juga langsung menatapnya garang sambil berkacak pinggang. Bahkan Arnold yang ditatap seperti itu pun hanya mengedikkan bahunya acuh kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Darimana kau tahu tentang bule kulitnya eksotis, ha?" seru Mama Anisa.
"Dari tayangan TV yang ditonton sama kakek" jawab Arnold santai.
Bahkan ia sama sekali tak melihat kearah neneknya yang sedang menatap horor sang kakek. Sedangkan Papa Reza yang baru saja datang dan mendengar ucapan Arnold pun langsung menatap tak percaya kearah cucunya itu.
"Jangan fitnah ya kamu, kakek nggak pernah nonton gituan" ucap Papa Reza tak terima.
"Lagian kalau nonton TV pasti ada kalian atau nggak yang lainnya" lanjutnya membela diri.
__ADS_1
Arnold tak peduli karena ia sedang fokus dengan kegiatannya. Mama Anisa menatap tajam kearah suaminya itu sambil berkacak pinggang sedangkan Papa Reza perasaannya sudah ketar ketir karena takut istrinya terpengaruh ucapan sang cucu.
"Selama satu minggu papa tidur di luar" putus Mama Anisa.
Tentu saja Papa Reza menatap tak terima kearah sang istri dan menggelengkan kepalanya tak percaya. Karena ulah sang cucu yang teramat jahil membuatnya harus menerima hukuman dari sang istri tanpa tahu apa kesalahannya. Hal ini membuat Papa Reza menaruh dendam pada Arnold.
"Arnold itu tukang bohong, masa kamu nggak tahu aja sih ulah cucumu yang jahilnya kebangetan itu" gerutu Papa Reza masih tak terima.
"Mana ada Arnold tukang bohong? Arnold itu selalu jujur ya, kalaupun bohong pastinya itu karena khilaf dan ajaran papa juga kakek" ucap Arnold tak terima jika dirinya disebut pembohong.
Bahkan bibir Arnold sudah mengerucut dengan mengalihkan pandangannya kearah sang kakek. Matanya menatap tajam Papa Reza karena ia merasa tengah disudutkan oleh kakeknya itu. Papa Reza saling melayangkan tatapan tajam kepada sang cucu dan dibalas sama oleh Arnold.
"Sudah, sekarang kerja. Keburu orang yang ngerayain datang" putus Mama Anisa.
Keduanya pun memutuskan pandangan kemudian melanjutkan pekerjaan yang tertunda akibat perdebatan itu. Karena kalau sampai perdebatan itu dilanjutkan pasti takkan selesai bahkan sampai malam nanti. Papa Reza segera membantu cucu dan istrinya itu sampai semuanya selesai.
***
"Nanti kalau sampai papamu marah, kakek nggak ikut-ikutan" ucap Papa Reza setelah melihat dekorasi yang mereka ciptakan selesai terpasang.
"Ya ikut-ikutan dong, kan tadi kakek juga ikut bantu" ucap Arnold tak terima.
"Tapi kan aku nggak ikutan dalam merencanakan hal ini" ucap Papa Reza.
__ADS_1
"Ish... Orang udah tua bukannya bantuin yang kecil malah menyalahkan. Nggak bertanggungjawab" ketus Arnold.
Lagi-lagi Papa Reza selalu salah di mata cucunya yang satu itu. Tak ada yang berani menyalahkannya selama ini kecuali Arnold yang memang rasanya ingin Papa Reza masukkan karung lalu buang ke selokan saja. Ketiganya akhirnya masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri karena tak terasa sudah sangat lama berkutat dengan apa yang direncanakan.
***
Malam harinya, Andre dan Nadia sudah bersiap dengan pakaian yang begitu berbeda. Andre sudah tahu jika acara makan malamnya diadakan di rumahnya. Ia yang ingin acaranya di tepi pantai atau restorant mewah pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah karena keinginannya tak dituruti.
Keduanya mempersiapkan diri dari perusahaan milik Andre. Keduanya memasuki mobil kemudian Andre menjalankan mobilnya itu untuk pulang ke rumahnya. Namun sebelumnya mata Nadia telah ditutup sebuah kain oleh Andre agar menjadi sebuah kejutan untuk istri tercintanya itu.
"Ini kenapa matanya pakai ditutup segala sih, mas? Bukannya kita mau ke acara kolega kamu ya" ucap Nadia protes.
"Udah kamu diam saja, sayang. Sebelumnya akan ada sesuatu dulu buat kamu, ini kejutan" ucap Andre dengan terkekeh pelan.
Akhirnya Nadia hanya bisa pasrah saja kemudian terdiam didalam mobil begitupun dengan Andre yang fokus dengan jalanan. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Andre memasuki gerbang rumahnya. Andre segera memarkirkan mobilnya kemudian keluar. Andre membuka pintu mobil untuk membantu Nadia turun.
"Silahkan sayang..." ucap Andre memperlakukan istrinya itu begitu manis.
Nadia yang dipegang tangannya oleh sang suami hanya menanggapi ucapan Andre dengan senyum manisnya. Ia begitu tersanjung namun sedikit bingung pasalnya tempat yang mereka datangi ini sepertinya sangatlah sepi. Bahkan dia tak mendengar suara ramai-ramai orang yang datang ke tempat itu.
"Kok sepi, mas?" tanya Nadia.
"Tamunya kan ada didalam, ini masih di luar" elak Andre.
__ADS_1
Nadia hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian berjalan sesuai dengan tarikan tangan suaminya. Tak berapa lama Andre menghentikan langkahnya. Mulutnya menganga bahkan matanya terbelalak kaget saat melihat pemandangan didepannya ini. Dia tak menyangka jika Arnold mempunyai ide di luar nalar seperti ini.
"Gembullllllllllll...."