
Andre kembali dari rumah Fikri dengan perasaan kalut dan khawatir. Bahkan saat ini dirinya masih dalam perjalanan pulang pun ada rasa tak boleh segera pergi dari rumah itu. Bayangan cerita dan wajah Fikri yang menyedihkan seketika melintas didalam pikiran Andre membuatnya sedikit tak fokus dalam mengemudi.
Citttt...
Mobil yang dikemudian oleh Andre harus berhenti mendadak membuat suara gesekan antara ban dan aspal itu begitu memekakkan telinga. Di keheningan malam dan sepinya jalan itu ternyata Andre menginjak remnya secara mendadak karena ada kucing yang lewat. Andre melongokkan kepalanya keluar dari jendela untuk melihat keadaan kucing yang ternyata baik-baik saja.
"Hah... Gara-gara nggak fokus ini. Apa aku balik aja ya?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah dirasa dirinya sudah mulai tenang, Andre memilih untuk memutar kembali kemudinya. Ia memilih untuk kembali ke rumah Fikri agar bisa memastikan keadaan anak itu baik-baik saja. Pasalnya perasaannya begitu tak tenang selama dalam perjalanan. Terlebih jaraknya juga belum jauh dari rumah bocah laki-laki itu.
***
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Andre sampai juga di depan gerbang rumah milik Fikri. Namun ada yang aneh menurut penglihatan Andre, baru beberapa saat ia pergi namun tak terlihat sama sekali adanya satpam didekat gerbang.
"Perasaan tadi ada satpam disini yang bukain gerbang, kok sekarang udah nggak ada ya?" gumam Andre sambil melihat kearah rumah Fikri.
Andre pun memutuskan untuk turun dari mobilnya kemudian membuka pintu gerbangnya sendiri. Beruntungnya pintu gerbang tak dikunci sama sekali namun hal ini membuat kekhawatiran Andre bertambah. Karena halaman rumah ini tergolong luas membuat Andre segera saja kembali menaiki mobilnya kembali setelah gerbang terbuka.
"Ini semua gara-gara kamu yang hanya mementingkan pekerjaanmu".
"Kok jadi nyalahin aku? Ini juga tugasmu sebagai seorang ibu".
__ADS_1
"Harusnya kamu yang duduk di rumah dan mendidik anakmu itu".
Prang... Prang...
Perasaannya semakin khawatir dan tak menentu karena dari luar rumah saat Andre menghentikan mobilnya sudah terdengar suara bentakan dan seperti barang yang dilempar. Andre segera saja mempercepat langkahnya setelah turun dari mobil.
"Astaga... Fikri..." teriak Andre.
Benar saja kekhawatirannya saat didalam perjalanan tadi. Setelah membuka pintu rumah itu secara tergesa-gesa, terlihatlah tubuh Fikri yang tergeletak di bawah tangga dengan kepala yang bercucuran darah. Sedangkan didekatnya ada dua orang dewasa yang tengah bertengkar dan saling menyalahkan satu sama lain. Yang tak membuat Andre habis pikir adalah mereka sibuk menyalahkan tanpa segera membantu Fikri yang tergeletak di lantai.
Bahkan didekat situ ada banyak pecahan kaca bekas vas bunga dan guci kecil yang berceceran. Mendengar teriakan seseorang dari arah pintu, keduanya menghentikan pertengkarannya. Keduanya langsung mengalihkan pandangannya kearah orang yang baru saja datang dengan wajah khawatirnya.
Andre tanpa basa-basi langsung saja mendekat kearah Fikri tanpa mempedulikan keberadaan dua orang dewasa itu. Bahkan sepertinya Fikri juga belum lama jatuh karena bocah itu masih sedikit sadar sambil menatap permohonan kearah Andre.
"Hei... Mau kamu bawa kemana anakku?" sentak seorang pria dewasa menghentikan langkah Andre.
Andre yang sudah sangat khawatir dengan kondisi Fikri pun langsung menghadap kearah dua orang dewasa yang menatapnya dengan tatapan permusuhan. Andre tanpa takut langsung menatap kedua orang dewasa itu, lagi pula disini posisinya sudah benar untuk menyelamatkan Fikri.
"Oh... Jadi kalian ini orangtuanya? Orangtua sampah kaya kalian nggak pantas punya anak kaya Fikri yang baik hati. Ada anaknya yang sudah sekarat tapi malah sibuk berantem, mikir pakai orak" sarkas Andre.
Baru kali ini Andre sampai mengucapkan kata-kata pedasnya kepada oranglain yang bahkan tak dikenalnya. Bahkan ia berpikir bahwa kini ia sudah seperti istri dan mamanya yang sangat pintar mengolah kata yang keluar agar bisa sampai menjatuhkan mental lawannya. Terbukti kini kedua orang dewasa yang ada dihadapannya ini langsung terdiam setelah mendengar ucapannya.
__ADS_1
Andre pun tanpa basa-basi langsung saja melanjutkan langkahnya yang tertunda tanpa mempedulikan jika nanti orangtua Fikri akan marah padanya karena telah membawa anaknya pergi. Andre meletakkan Fikri di kursi penumpang kemudian ia segera masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Om, sampaiin sama Arnold dan Alan kalau besok Fikri nggak bisa main ke rumah ya" ucap Fikri dengan terkekeh pelan.
Disaat kondisinya seperti ini dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya, Fikri masih mengingat janjinya dengan kedua anaknya. Hal ini membuat dirinya ngilu dan iba melihat nasib Fikri kini, beruntung tadi ia sempat membalutkan kain di kepala bocah laki-laki itu agar setidaknya bisa menghentikan darah yang keluar walaupun sedikit.
"Jangan pikirkan itu dulu ya. Pokoknya Fikri harus bertahan. Kalaupun bukan untuk keluargamu, setidaknya buat kami yang sudah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga kami" ucap Andre mencoba membuat Fikri terus sadar.
Fikri hanya menganggukkan kepalanya sebagai respons, sedangkan matanya sudah menutup walaupun mulutnya masih sanggup berbicara. Di tengah perjalanannya ini, Andre terus mengajak Fikri berbincang. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Andre tiba di rumah sakit terdekat.
"Tolong... Tolong anak saya" teriak Andre setelah keluar dari mobilnya.
Bukannya tak mau menggendong Fikri lagi, namun Andre tak mau mengambil resiko jika nanti salah mengangkat tubuh bocah laki-laki itu. Terlebih tadi saat dia menggendong Fikri, bocah itu sempat mengeluh sakit pada pahanya yang tertekan tangannya.
Beberapa perawat dan satpam langsung berlarian menuju kearah sumber suara. Mereka dengan sigap membantu Andre meletakkan tubuh Fikri keatas brankar. Andre pun langsung ikut mendorong brankar itu dengan cepat tanpa memperhatikan kondisi mobilnya yang masih terbuka.
Brankar yang membawa Fikri sudah masuk dalam ruang IGD. Andre segera menghubungi Nadia agar istrinya itu tak khawatir menunggu dirinya yang terlambat pulang. Andre duduk sambil terus menatap kearah ruang IGD yang pintunya masih tertutup rapat.
Tak berapa lama Andre duduk didepan ruang IGD, tiba-tiba saja terdengar suara orang berlari kearahnya. Andre mengalihkan pandangannya dan terlihatlah orang yang diyakini adalah orangtua Fikri tengah berlari menujunya.
"Bagaimana keadaan anak kami?" tanya wanita dewasa itu.
__ADS_1
Andre terdiam tanpa menjawab ucapan orang yang tengah bertanya padanya itu. Ia sungguh malas menjawab terutama tadi saat di rumah Fikri malah terkesan menuduhnya yang tidak-tidak. Karena tak melihat tanda-tanda Andre akan menjawab, keduanya memilih ikut duduk disana. Mereka berpikir bahwa anaknya masih nerada didalam ruang IGD karena Andre duduk disana.