
Nadia berjalan menuruni tangga dengan hati-hati karena harus menggendong dua orang, sedangkan Anara masih menangis berjalan dibelakangnya. Mbok Imah yang melihat Nadia kesusahan pun segera mendekat setelah mereka sampai dibawah tangga.
"Ini mau dibawa kemana, nak?" tanya Mbok Imah.
"Ke rumah sakit. Arnold dan Abel lagi sakit, bisa minta tolong satpam untuk menyetir mobil tidak ya mbok?" tanya Nadia.
"Bukannya den Andre ada di rumah, kenapa harus suruh satpam?" tanya Mbok Imah heran.
Nadia hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia enggan menanggapi. Mbok Imah yang mengerti pun segera saja berlari kearah depan untuk memanggil satpam agar bisa membantu Nadia mengantar ke rumah sakit. Beruntung mobil di rumah itu ada banyak sehingga tak perlu lah mereka menggunakan yang biasa digunakan oleh Andre.
Nadia dan ketiga anaknya masih menunggu didepan halaman rumah sambil menunggu satpam yang sedang mengambil mobil dari garasi. Sedari tadi Nadia berusaha untuk menahan air matanya yang ingin keluar. Ia tak bisa membayangkan jika dia sudah mempunyai anak kandung sendiri dengan Andre sedangkan sikap laki-laki itu saja tak bisa diprediksi.
Melihat mobil terparkir didepannya, dibantu Mbok Imah akhirnya Nadia memasuki mobil itu bersama ketiga anaknya. Tadinya Mbok Imah ingin ikut, namun dilarang oleh Nadia agar nanti sewaktu Mama Anisa dan Papa Reza pulang bisa langsung memberitahu mereka untuk menyusul ke rumah sakit. Tak mungkin juga dia menenangkan dan menjaga ketiga anaknya sendirian.
Dengan secepat kilat mobil mewah berwarna putih itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah mewah Keluarga Farda. Nadia berulangkali berdo'a untuk kedua anaknya yang masih tak bereaksi apa-apa sedangkan Anara masih terus menangis disamping satpam yang mengemudi.
***
Tak berapa lama setelah kepergian mobil yang dikendarai oleh satpam itu, ada sebuah mobil yang memasuki halaman rumah keluarga Farda. Itu adalah mobil yang dikendarai oleh Papa Reza dan Mama Anisa. Mbok Imah yang masih berada di halaman rumah pun segera mendekat kearah mobil itu sebelum dimasukkan ke dalam garasi.
"Tuan, Nyonya..." seru Mbok Imah dengan mengetuk langsung mobil hitam itu.
__ADS_1
Papa Reza yang melihat wajah panik Mbok Imah itu pun segera menghentikan laju kemudinya kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa, mbok?" tanya Mama Anisa.
"Den Arnold dan Neng Abel dibawa ke rumah sakit sama Neng Nadia. Barusan diantar sama satpam pakai mobil yang ada digarasi. Tuan dan Nyonya diminta untuk menyusul" ucap Mbok Imah dengan nada paniknya.
"Loh, ada apa dengan cucuku sampai dibawa ke rumah sakit segala? Itu mobil Andre ada di halaman rumah, kenapa nggak pakai mobil itu saja?" tanya Mama Anisa dengan panik.
"Saya nggak tahu juga, nyonya. Den Andre tidak ikut ke rumah sakit, tadi sepertinya ada pertengkaran yang membuat hal ini terjadi. Yang pasti neng Nadia minta untuk tuan dan nyonya menyusulnya ke rumah sakit" ucap Mbok Imah.
Mendengar hal itu kepanikan Mama Anisa sudah tak bisa dibendung lagi apalagi adanya pertengkaran yang terjadi. Tanpa pamit, Papa Reza segera memutar balik kemudinya keluar halaman rumah itu. Dengan kecepatan yang sangat tinggi, Papa Reza mengendarai mobilnya membuat Mama Anisa hanya bisa memejamkan matanya.
***
Tak... Tak... Tak...
Bunyi suara langkah kaki sepatu yang berlari dengan tergesa-gesa itu menggema di lorong rumah sakit yang sepi menuju kearah Nadia dan Anara. Nadia tak mempedulikan siapa orang-orang itu, namun Anara segera mengintip di sela-sela pelukannya untuk mengetahui siapa yang datang.
"Nenek... Kakek..." seru Anara yang kemudian menegakkan badannya.
Nadia yang mendengar seruan Anara pun seketika melihat kearah dua orang yang baru saja datang dengan peluh yang membasahi dahi itu. Ada senyum lega yang ditampilkan Nadia saat melihat kedua mertuanya ada disini. Sesampainya mereka berdua didepan Nadia dan Anara, segera saja Mama Anisa memeluk keduanya.
__ADS_1
"Ini gimana ceritanya Arnold dan Abel bisa masuk rumah sakit? Mereka jatuh atau apa?" tanya Mama Anisa langsung tanpa basa-basi.
Sedangkan Papa Reza hanya berdiri menyaksikan ketiga perempuan yang ada disampingnya ini. Sedari tadi dia tengah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang diperbuat oleh anaknya sehingga kedua cucunya bisa seperti ini. Apalagi tadi Mbok Imah sempat mendengar adanya pertengkaran di rumah itu.
"Papa bentak-bentak adek, kami nggak tahu salah Arnold apa. Papa bilang kalau adek anak pecicilan dan tak berguna, setelah itu papa pergi lalu menyuruh bunda mengurus kami. Papa sangat menakutkan kalau lagi marah, nek. Anara, kakak Abel, dan adek sampai ketakutan. Kami saling memeluk bertiga namun Kak Abel dan adek hanya diam saja bahkan matanya menatap depan terus kaya patung. Akhirnya bunda mutusin bawa mereka ke rumah sakit" cerita Anara.
Nadia yang tadinya tak ingin menceritakan bagian Andre membentak Arnold pun hanya bisa meringis pelan karena Anara membongkar semuanya. Ekspresi Papa Reza dan Mama Anisa langsung saja berubah menjadi datar bahkan terlihat sekali kalau mereka sangat kecewa pada Andre. Aura kemarahan dari mereka keluar begitu saja membuat Nadia sedikit bergidik ngeri.
Dia tak yakin kalau kedua orangtuanya kali ini hanya diam saja setelah kedua cucunya dibentak sampai masuk rumah sakit. Bahkan kedua tangan orangtua Andre itu pun sudah mengepal sempurna pertanda bahwa emosi mereka benar-benar siap meledak.
"Papa dan mama tenang dulu, nanti biar Nadia tanya dulu sama Andre tentang kejadian ini yang sampai membuatnya marah pada Arnold" ucap Nadia menenangkan.
"Huft... Lalu dimana anak itu sekarang?" tanya Papa Reza menghela nafasnya kasar.
"Dia nggak ikut, pa" ucap Nadia dengan hati-hati.
"Ya kenapa nggak ikut? Anaknya sakit kok malah nggak ikut, bukannya dia masih cuti kerja" ucap Mama Anisa.
Nadia tak mungkin menjawab kalau Andre sama sekali tak mau mengantar atau bahkan tak peduli pada anaknya. Yang ada kedua orangtuanya akan marah dan menghajar habis-habisan Andre. Nadia memilih untuk menggelengkan kepalanya tanda tak tahu.
"Sudah, jangan bahas anak itu lagi. Kita fokuskan dulu pada kondisi Abel dan Arnold" ucap Papa Reza menengahi.
__ADS_1
Nadia dan Mama Anisa pun menganggukkan kepalanya setuju. Akhirnya mereka terdiam didepan ruang IGD smabil terus melantunkan do'a didalam hati untuk kesembuhan Arnold dan Abel.