
Hampir setiap hari Parno atau David datang ke rumah keluarga Nadia, ia masih berharap kalau gadis pujaan hatinya ada dirumah. Parno berfikir bahwa Nadia sedang bersembunyi didalam rumahnya dan akan muncul ketika dia datang. Namun harapan hanya tinggal sebuah angan belaka karena Nadia memang tak ada dirumahnya. Parno selalu memaksa keluarga Nadia untuk memberitahunya dimana keberadaan gadis itu, namun hanya mendapatkan jawaban gelengan kepala dari orangtua gadisnya itu.
Parno selama ini sangat frustasi, sudah banyak cara ia lakukan untuk mencari Nadia namun hasilnya nihil. Seandainya saja ia tahu keberadaan Nadia dimana, sudah dipastikan ia akan menyusulnya walaupun harus sampai ke ujung dunia sekalipun. Seperti pagi ini, aktifitas rutin Parno adalah sudah bertamu di rumah Nadia dengan duduk tepat pada teras rumah sambil membawa botol minumannya. Tak lama setelah Parno duduk, Ibu Ratmi membuka pintu dan langsung dihadapkan dengan Parno yang berada di rumahnya.
Hal yang sudah biasa terjadi selama beberapa hari ini, pemandangan Parno yang ada dirumahnya itu. Sebenarnya Ibu Ratmi sangat muak melihatnya, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Terlebih kedua orangtua Parno menekan mereka dan meminta untuk membiarkan Parno melakukan apa yang dia mau. Orangtua Nadia hanya bisa menuruti kemauan keluarga Parno karena tak ingin disalahkan jika sampai anak mereka itu kehilangan kewarasannya.
"Pagi-pagi gini enaknya ya selimutan diatas kasur, bukan bertamu di rumah orang" sindir Ibu Ratmi.
Ibu Ratmi melirik kearah Parno yang tengah duduk dan fokus memainkan botol minuman yang dibawanya. Hari memang masih sangat pagi untuk orang yang akan datang bertamu yaitu pukul 5 pagi. Terlihat juga pagi ini tengah turun hujan gerimis, pada umumnya membuat orang akan lebih memilih memanjakan tubuhnya dengan gulungan selimut. Namun karena Parno adalah orang yang sangat luar biasa sehingga membuatnya sepagi ini sudah menjadi penunggu didepan rumah orang.
"Iya ibu, emang pagi-pagi gini selimutan diatas tempat tidur. Tetapi lebih enak lagi kalau selimutannya bareng Nadia" balas Parno.
Ibu Ratmi yang mendengar ucapan dari laki-laki yang terobsesi dengan anaknya itu bergidik ngeri. Bisa-bisanya dirinya mau menerima lamaran dari pihak keluarga Parno saat tahu kalau calon anaknya itu bukanlah orang normal. Bisa gila dia kalau sampai punya menantu seperti Parno. Saat ini dirinya sangat bersyukur kala Nadia memilih kabur dari rumah. Tanpa menggubris ucapan dari Parno, Ibu Ratmi berlalu pergi ke pasar setelah menutup pintu rumahnya dengan rapat meninggalkan Parno yang masih asyik duduk di teras rumahnya.
"Dasar nggak jelas" gerutu Ibu Ratmi.
__ADS_1
***
Setelah 1 jam berada di pasar, Ibu Ratmi kembali ke rumah dan sesampainya disana ia masih melihat kehadiran Parno berada didepan rumahnya. Sedangkan Ayah Deno tengah mencangkul di halaman rumahnya. Ibu Ratmi hanya bisa menghela nafasnya pasrah aja akan hal ini. Tanpa mempedulikan kehadiran Parno, Ibu Ratmi berlalu masuk ke rumah agar bisa segera menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Saat ibu Ratmi tengah menyiapkan sarapan, terdengar suara ribut-ribut yang berasal dari halaman rumahnya. Ia pun segera keluar dan terlihatlah keluarga Parno tengah beradu argumen dengan suaminya.
"Pokoknya saya nggak mau tahu, saya beri kalian waktu 1 bulan untuk menemukan Nadia. Saya tidak mau kalau sampai anak saya seperti ini terus setiap pagi sudah nangkring di rumah Pak Deno" ucap Bapak Aden.
Bapak Aden atau orangtua Parno datang ke rumah Ayah Deno dengan amarah yang meledak-ledak karena saat dirinya tengah memeriksa kamar anaknya, ternyata Parno sudah pergi. Tanpa basa-basi lagi dirinya tahu kemana perginya anaknya itu dan segera menyusulnya.
"Jangan lupakan juga, pak. Kita dipecat dari buruh petik teh di desa sebelah karena keluarga si Parno ini. Enak aja udah main ngeracunin pikiran pemilik kebuh teh lalu sekarang meminta untuk dicarikan Nadia. Syukur deh Nadia kabur dan nggak jadi nikah sama anak kalian" kesal Ibu Ratmi.
Akibat ucapan pedas Ibu Ratmi, Bapak Aden tak terima disalahkan oleh oranglain. Memang benar sesuai perjanjian kalau keluarga Nadia harus membayar ganti rugi pembatalan perjodohan dengan sawah yang dimiliki Ayah Deno. Namun Ayah Deno rela asalkan keluarga Parno tak mengganggu keluarganya, namun dengan liciknya keluarga mereka menghasut pemilik kebuh teh tempatnya bekerja untuk memecat mereka.
Karena sudah tak bisa membela dirinya sendiri, Bapak Aden menyeret tangan Parno bersama Ibu Dyah agar bisa segera pulang meninggalkan rumah Nadia. Sedangkan Ayah Deno dan Ibu Ratmi hanya bisa menghela nafas lega saat melihat keluarga Parno pergi. Begitulah setiap harinya kehidupan keluarga Nadia di desa. Setiap hari selalu diteror akan kedatangan Parno dan juga keluarganya yang selalu mencari masalah. Bahkan para tetangga juga semakin julid dengan keluarga Nadia setelah kabar pernikahan anaknya batal.
__ADS_1
***
Kini Nadia tengah berada di rumah kontrakannya. Untuk malam ini, dirinya tidak ikut menjaga Abel di rumah sakit karena sudah ada Mama Anisa dan Papa Reza. Dirinya bersyukur bisa tidur di rumah, pasalnya mau semewah-mewahnya sebuah ruangan kalau sudah namanya rumah sakit tetap saja takkan nyaman untuk istirahat. Saat dirinya tengah nyenyak-nyenyaknya tertidur, tiba-tiba saja dia terbangun dengan nafas tersengal-sengal seperti habis dikejar setan.
Hah... Hah... Hah...
"Astaga mimpi apa ini?" gumam Nadia sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Nadia bermimpi buruk tentang ayah dan ibunya di desa yang tengah dikerumuni banyak lebah, sedangkan dipunggung keduanya tengah memikul keranjang berisi buah durian sangat banyak. Entah apa arti mimpi itu, Nadia mengartikannya kalau kini keluarganya sedang memikul beban berat setelah kepergiannya ke kota.
Nadia bergegas meminum air mineral yang diambilnya di atas meja. Ia mencoba menenangkan dirinya agar tak mengambil keputusan yang salah.
"Aku harus menghubungi ayah dan ibu. Entah apapun reaksi mereka nanti, aku nggak peduli" putus Nadia.
Nadia berdo'a kemudian kembali tidur setelah memutuskan kalau esok pagi dirinya akan menghubungi keluarganya di desa agar perasaannya tenang.
__ADS_1