
Aneta berjalan kembali kearah semua tahanan yang tengah makan siang. Dia segera mendekat kearah Sukma, Rudi, dan Lian yang berkumpul. Dengan wajah juteknya, Aneta melemparkan kertas itu tepat di wajah milik Sukma membuat ketiga orang disana terkejut bukan main.
"Aneta, bersikaplah sopan pada mamaku" tegur Lian dengan menatap Aneta tajam.
"Kalau saja dia tak terlalu ikut campur urusanku, aku juga akan sopan padanya. Gara-gara dia memalsukan tanda tanganku dan sembunyi-sembunyi mengajukan peninjauan hak asuh anakku, membuat posisiku semakin salah didepan kedua orangtua Andre. Bahkan bisa saja keluarga Andre menuntutku akibat ulah mama" kesal Aneta.
Rudi dan Lian bingung dengan apa yang diucapkan oleh Aneta itu. Pasalnya setahu mereka setelah kasus kekerasan anak itu selesai, mereka sudah tak lagi mempunyai urusan dengan keluarga Andre. Apalagi ini tentang hak asuh anak.
Keduanya segera menatap kearah Sukma yang terlihat menundukkan kepalanya. Mereka kini paham kalau semua masalah ini penyebabnya adalah Sukma. Lian pun segera mengambil kertas yang dilemparkan pada mamanya tadi.
Ia membacanya dengan seksama dan terkejut dengan apa yang dibacanya. Rudi pun langsung mengambil alih kertas itu setelah melihat anaknya terkejut. Dia pun tak kalah terkejutnya melihat kertas putih itu, Rudi menatap tak percaya kepada Aneta.
"Itu bukan Aneta yang mengajukan, tapi mama. Tanda tanganku juga bukan seperti itu" ucap Aneta saat Lian dan Rudi menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Maksudnya gimana Aneta? Pengajuan peninjauan ulang hak asuh anak ini hanya bisa kamu yang ajukan jadi nggak mungkin mama yang mengajukan" ucap Lian tak percaya.
"Kamu lihat saja tanda tangan itu, mas. Kamu hafal tanda tanganku, coba lihat" perintah Aneta tak terima jika dituduh.
Lian melihat dengan seksama apa yang diucapkan oleh Aneta dan memang itu bukan tanda tangan istrinya itu. Seketika saja dia teringat tentang perdebatan antara papanya dengan sang mama tentang usulan pengajuan peninjauan hak asuh anak Aneta ini.
Lian langsung saja menatap kearah mamanya dengan pandangan kecewa begitu pula dengan Rudi. Keduanya hanya bisa mendengus kasar saat melihat Sukma dengan tanpa bersalahnya malah melanjutkan makan siangnya.
"Apa benar ini mama yang mengajukan dengan memalsukan tanda tangan Aneta?" tanya Rudi dengan sabar.
__ADS_1
"Ya" jawab Sukma singkat.
Lian dan Rudi hanya bisa menghela nafasnya kasar kemudian geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Sukma. Mereka sampai bingung harus bagaimana lagi menghadapi wanita paruh baya itu agar segera sadar dari kesalahannya. Harusnya dengan berada di titik terendah dalam hidup seperti ini, wanita itu sadar dan bertobat.
"Ma, akibat ulah mama ini keluarga Andre mengancam akan membawa kasus ini ke kepolisian kalau mama tak mengurusnya untuk pencabutannya. Bukan hanya mama yang akan kena akibatnya kalau kasus ini naik ke kepolisian, semua orang yang mama bohongi juga akan diusut. Bahkan mungkin kami yang tak tahu apa-apa pun bisa saja terseret" kesal Aneta meluapkan kegelisahannya.
"Makanya nurut, dengarin aja mama. Pokoknya mama tetap akan melanjutkan ini" kekeh Sukma dengan santai.
Lian dan Rudi sepertinya harus meminta pihak kepolisian untuk mendatangkan psikolog bagi Sukma agar wanita itu dapat ditangani lebih dini. Gejala-gejala seperti ini bisa menjurus ke hal-hal negatif jika tak ditangani lebih awal.
Aneta yang mendengar itu menghiraukan ucapan Sukma. Ia segera mengambil jatah makan siangnya kemudian memakannya jauh dari keluarganya. Ia sudah sangat tertekan akibat ulah Sukma yang terus melakukan apa yang dia mau tanpa memikirkan perasaannya.
***
Mama Anisa dan Papa Reza sampai di rumah mewahnya setelah dari rumah tahanan. Keduanya berjalan dengan lunglai, awalnya mereka ingin kembali ke kantor namun pikiran dan suasana hati yang kacau membuat Mama Anisa dan Papa Reza mengurungkan niatnya.
"Adek, warna awan itu biru atau putih. Bukan hitam" ucap Anara memberitahu.
"Wawana mang itam. Kan agi endung" ucap Arnold berkilah.
Tentunya Andre tertawa mendengar jawaban Arnold yang sangat pintar itu. Mama Anisa dan Papa Reza pun ikut tertawa membuat keempat orang yang ada di ruang keluarga mengalihkan perhatiannya kearah suara tawa itu.
Mama Anisa dan Papa Reza segera mendekat kearah mereka kemudian duduk disana mengabaikan tatapan-tatapan aneh dari ketiga cucunya.
__ADS_1
"Napa nek dan kek awa-awa? Awain Anol ya?" tuduh Arnold dengan tatapan menyelidik.
"Iya dong, masa ketawain siapa lagi kalau bukan Arnold. Arnold kan lucu, mana gembul lagi" goda Mama Anisa.
"Woooo... Anol tu kol ayak papa" ucap Arnold dengan memasang wajah galaknya.
Andre, Mama Anisa, dan Papa Reza bingung dengan maksud ucapan Arnold tentang kol. Apa hubungannya lucu dan gembul dengan kol? Memangnya sayuran bisa berhubungan dengan lucu dan gembul.
"Bukan kol, dek. Tapi cool" ucap Abel membenarkan ucapan adiknya itu.
Ketiga orang dewasa itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak setelah tahu apa maksud dari ucapan Arnold. Ternyata Arnold tidak berwajah lucu dan gembul melainkan cool seperti papanya. Ah ketiganya merasa itu tidak cocok karena pada faktanya wajah anak laki-laki itu sangatlah lucu.
"Cudah, angan awa-awain Anol agi. Anol agi cibuk walnai wawan endung" seru Arnold menginterupsi.
Ketiga orang dewasa itu akhirnya mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil menahan tawanya setelah Arnold memerintah. Tak berapa lama Nadia datang membawa minuman dan cemilan untuk ketiga bocah kecil itu.
Anara, Abel, dan Arnold yang melihat Nadia datang membawa makanan pun langsung menyerbunya. Ketiganya asyik dengan kue kering yang sangat mereka sukai itu tanpa mempedulikan keempat orang dewasa yang menatap gemas kearahnya.
"Astaga... Anak-anak ini" gumam Mama Anisa sambil menggelengkan kepalanya.
Ketiga bocah kecil itu makan dengan berantakan hingga semua serpihan kue berada di lantai dan baju mereka belepotan dengan coklat. Namun para orang dewasa hanya diam saja menikmati moment itu.
"Oh ya... Ndre, dokter yang akan melakukan operasi bedah plastik sudah siap. Tinggal menunggu konfirmasi kapan kamu akan berangkat, toh kondisi kakimu juga sudah lebih membaik" ucap Papa Reza mengalihkan perhatian Mama Anisa, Nadia, dan Andre.
__ADS_1
Sedangkan ketiga bocah kecil itu masih asyik dengan makanannya. Andre terdiam sebentar mendengar ucapan papanya, ia menatap kearah Nadia seakan meminta ijin untuk mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Nadia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban sambil mengulas senyum manisnya.
Nadia akan mendukung apapun dan kapanpun operasi plastik itu akan dilaksanakan. Yang terpenting baginya adalah kesembuhan Andre dan kebahagiaan keluarganya.