
"Kami takut kalau suatu saat nanti bunda dan papa sudah mempunyai anak sendiri, maka kami akan di siksa kaya yang di cerita dongeng cinderella" ucap Anara sambil menangis.
Nadia yang melihat Anara menangis pun langsung memeluk kedua anak gadisnya. Sedangkan Arnold yang melihat kedua kakaknya seperti itu pun hanya bisa menghembuskan nafasnya kesal. Pasalnya Arnold menilai kalau bundanya takkan pernah seperti itu walaupun nanti mempunyai anak kandung banyak sekalipun. Jika memang bundanya menyiksa kedua kakaknya, maka sudah dapat dipastikan kalau Arnold yang akan melindunginya.
"Ana eman-aman akak yan ilang talo ibu tili cuka cikca nanaknya? Ana cini bial Anol belitahu" ucap Arnold dengan kedua tangan di pinggangnya.
Nadia yang mendengar itu tentunya tertawa kecil lalu melepaskan pelukannya dari dua gadis kecil itu. Nadia juga langsung menghapus air mata Abel dan Anara yang jatuh dikedua pipinya dengan lembut.
"Akak, dengalin Anol" titahnya.
Kedua kakaknya segera saja menghadap kearah Arnold dengan serius dengan masih sesenggukan. Arnold menatap keduanya intens yang kemudian melipat kedua tangannya diatas dada.
"Unda ndak ungkin cikca ita. Unda ita itu eda dali yan ain. Mau unda tili, tanan, epan, elakang... Itu anya di negli doneng. Uktina unda aik cama ita. Ita ndak pelnah lho di entak, diculuh macak, dan lainna. Oba akak pikil" ucap Arnold menasihati kedua kakaknya.
Anara dan Abel tentunya terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh adiknya itu. Walaupun masih sedikit ragu, namun dia mencoba percaya dengan ucapan Nadia dan Arnold. Keduanya menganggukkan kepalanya pelan sambil langsung mengalihkan pandangannya kearah Nadia dengan tatapan bersalah.
"Maaf bunda" ucap Anara dan Abel bersamaan.
"Nggak papa, nak. Bunda paham kok dengan apa yang kalian rasakan" ucap Nadia dengan lembut sambil mengusap kepala keduanya.
"Talo ada apa-apa langcung ilang cama Anol, bial Anol yan beleskan" peringat Arnold pada kedua kakaknya.
__ADS_1
Nadia yang melihat Arnold begitu menggebu-gebu saat memperingatkan kedua kakaknya pun hanya bisa tersenyum. Dia bangga mempunyai ketiga anak yang saling mengingatkan satu sama lain, bahkan Arnold yang paling kecil pun ternyata pemikirannya jauh lebih dewasa. Apalagi kejadian-kejadian kemarin yang membuat dia trauma, pasti sebisa mungkin Arnold akan menghadapi semuanya dengan tenang.
"Ayo kita pulang" ajak Nadia.
Ketiganya menganggukkan kepalanya antusias kemudian saling bergandengan tangan dan berjalan dengan cerianya untuk pulang ke rumah. Begitu pula dengan Nadia yang langsung mengikuti ketiganya. Dalam hati dirinya sangat bersyukur Arnold mau membantunya untuk mengembalikan senyum kedua kakaknya.
***
Andre begitu fokus dengan pekerjaannya sampai-sampai dia hampir saja akan melewatkan makan siangnya. Saat sekilas melihat jam yang ada ditangannya, dia langsung saja membereskan beberapa berkas yang ada di mejanya. Kali ini dia akan makan di rumah makan nasi padang karena entah kenapa sejak pagi sudah menginginkan hal itu. Andre keluar dari ruangannya kemudian berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lobby perusahaan.
Ting...
Dia adalah Alice yang juga akan pergi untuk istirahat makan siang. Saat melihat Andre, dirinya segera saja berlari mengejarnya untuk mengajaknya makan siang bersama. Dengan senyum cerianya, dia menghentikan langkahnya saat sudah sampai didepan Andre.
"Andre, makan siang yuk" ajak Alice dengan nada informal.
Memang jika sedang tak mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, Alice akan memanggil Andre tanpa embel-embel "pak". Andre sudah merasa aneh dengan tingkah Alice selama seminggu ini yang terkesan menempel terus padanya.
"Aku sedang ingin makan sendiri, Al. Jadi lebih baik kamu makan sendiri sama yang lainnya saja" tolak Andre.
"Kok gitu sih, Ndre? Pokoknya aku mau ikut titik" kekeh Alice yang langsung menarik tangan Andre.
__ADS_1
Andre mencoba menghempaskan tangan Alice namun gadis itu malah menggunakan kedua tangannya untuk memegang erat lengannya. Andre pun kesal bukan main bahkan langsung masuk kedalam mobil dengan menutup pintunya dengan keras. Alice sampai berjengit kaget kemudian ikut masuk ke dalam mobil itu.
Tanpa mengucapkan apapun, Andre segera menginjak pedal gasnya dengan kecepatan tinggi bahkan Alice sampai menutup matanya karena ketakutan. Baru kali ini ia melihat wajah Andre yang tak enak dilihat, bahkan terlihat sekali kalau laki-laki itu sedang emosi. Tak berapa lama, Andre menghentikan mobilnya tepat di sebuah warung makan nasi padang. Ia segera keluar dari mobil meninggalkan Alice yang masih melongo tak percaya.
"Ya elah... Gue kira kalau makan sama Andre bakalan diajakin ke restorant, lah ini malah ke warung makan" gumam Alice mengeluh.
Namun demi menjaga citra baiknya di depan Andre, Alice segera turun dengan memasang senyum cerianya. Ia segera berjalan mendekat kearah Andre yang tengah memilih beberapa makanan dengan piring sudah ada ditangannya. Tak mau ketinggalan, Alice pun mengambil piring kemudian mengisi nasi dan lauk pauk disana. Sebenarnya dia tak suka dengan makanan seperti ini, namun apalah daya untuk menarik perhatian Andre maka dia rela untuk memakannya.
Andre pun duduk diikuti oleh Alice. Keduanya makan dengan tenang, bahkan Andre tak mempedulikan Alice yang sedari tadi mencuri pandang kearahnya. Kini ia sangat risih dengan sikap Alice beberapa hari ini, seketika saja dia berpikir tentang ucapan istrinya waktu itu. Sepertinya apa yang diucapkan oleh istrinya itu benar apa adanya, maka sekarang dia harus sedikit menjauh dari gadis itu.
"Kamu udah sering makan disini ya, Ndre?" tanya Alice memecah keheningan.
"Nggak, gue ngidam nasi padang karena istriku lagi hamil" ucap Andre asal.
Jawaban Andre itu tentu membuat Alice merasa tak nyaman apalagi membahas tentang laki-laki itu yang sudah menikah. Bahkan berulang kali dia harus meminum air minumnya untuk melancarkan makanan dikerongkongannya yang terasa menyangkut karena jawaban Andre itu.
"Kata orang kalau istri lagi hamil, terus yang ngidam suaminya berarti yang laki-laki cinta banget sama perempuannya" ucap Alice.
"Ya, aku memang sangat mencintai istriku. Kalau ada yang mengganggu atau melukainya, siap-siap aja buat gue kurung di penangkaran buaya" ucap Andre dengan wajah yang terlihat serius.
Hal ini membuat Alice meneguk salivanya kasar bahkan kini matanya melotot tak terima. Namun ia segera mengubah kembali mimik wajahnya menjadi lebih antusias didepan Andre. Diam-diam tanpa Alice sadari, Andre menyeringai tipis karena melihat wajah ketakutan gadis itu. Keduanya pun akhirnya melanjutkan makan tanpa obrolan apapun.
__ADS_1