
Nadia diikuti oleh satpam yang berjaga di belakang majikannya itu segera berjalan mendekat kearah dua orang yang sudah turun dari sepeda motor. Jangan sampai dua orang itu nantinya akan membuat keributan di rumah suaminya. Terlebih saat ini anggota inti keluarga Farda sedang tak ada di rumah. Dua orang yang turun itu adalah Alice dan ibunya, Mama Farida.
"Kalian mau ngapain kesini?" tanya Nadia mengernyitkan dahinya heran.
Alice dan Mama Farida langsung saja mengalihkan perhatiannya kearah Nadia yang berjalan pelan sambil mengelus perutnya yang buncit. Keduanya menatap Nadia dari atas ke bawah dengan tatapan menelisik, bahkan terkesan mengejek.
"Astaga... Andre itu matanya kelilipan batu apa ya? Nggak bisa ngelihat mana perempuan yang menarik dan begajulan seperti ini" ucap Mama Farida dengan tatapan meremehkan.
"Biasa, ma. Perempuan ini kan pakai pelet makanya Andre bisa jatuh dalam pelukannya" ucap Alice.
Keduanya tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Nadia seperti tak ada harga dirinya didepan mereka. Sedangkan Nadia dan satpam yang ada dibelakang majikannya itu sudah mengepalkan kedua tangannya karena mendengar ocehan dari dua wanita didepannya. Nadia tak menyangka jika Alice yang biasanya terlihat polos dan lembut didepan Andre dan mertuanya kini telah menunjukkan taringnya didepannya.
"Andre bukan ikan yang perlu dikasih pelet biar terjerat dalam pesonaku" ucap Nadia dengan percaya diri.
"Buat apa juga Den Andre pilih yang seksi dan putih kaya anda kalau wanita itu saja tak mempunyai attitude yang baik. Mending pilih Mbak Nadia yang apa adanya dan hatinya baik" timpal satpam yang sedari tadi masih mengawal Nadia.
Nadia mengacungkan kedua jempolnya setelah mendengar ucapan satpam yang menjaga rumah keluarga Farda. Kini Nadia tengah menahan tawanya karena melihat kedua wanita didepannya ini wajahnya sudah memerah karena emosi. Namun tanpa diduga, Mama Farida mendorong bahu Nadia dengan kencang membuat tubuh wanita itu oleng. Beruntungnya ada satpam yang menahan tubuhnya sehingga ia tak jatuh.
"Bu, jangan main fisik. Anda tidak lihat kalau Mbak Nadia sedang hamil, kalau tadi sampai dia jatuh saya yakin hidup anda akan sampai disini saja" ucap satpam itu sambil menatap tajam kearah keduanya.
"Dih... Babu diam" ketus Alice.
__ADS_1
"Kayanya itu mulut nggak pernah di sekolahin, pak" sindir Nadia sambil geleng-geleng kepala.
Alice dan Mama Farida yang mendengar sindiran itu tentunya tak bisa lagi menahan emosinya. Dengan brutal, keduanya menyerang Nadia secara bersamaan membuat wanita itu dan satpam yang ada dibelakangnya kuwalahan. Pasalnya kini Nadia tengah hamil dan tenaganya tidak kuat seperti biasanya, dia juga harus melindungi perutnya saat engan brutalnya Mama Farida mendorongnya. Sedangkan Alice menarik rambut panjangnya hingga ia kesakitan. Satpam yang melihat itu sudah berusaha untuk melerai, namun naas usahanya tak berhasil.
Dorongan Mama Farida semakin menguat membuat Nadia tak bisa menahan lagi keseimbangan tubuhnya. Alhasil dia terdorong ke belakang dan jatuh terduduk di aspal dengan rambut yang masih berada ditangan Alice. Satpam yang melihat majikannya terjatuh pun langsung saja mendorong dua wanita yang masih melakukan kekerasan itu agar menjauh dari majikannya.
"Astaga... Mbak Nadia, ada darah di kakinya" panik satpam itu.
Nadia yang mendengar hal itu hanya bisa meringis kesakitan sambil terus mengelus perutnya yang terasa sakit. Sedangkan Alice dan Mama Farida yang melihat hal itu langsung saja berlalu pergi dari sana agar tak menjadi tersangka dalam kejadian ini.
"Imah... Imah.... Tolong..." teriaknya.
"Astaghfirullah... Neng Nadia..." seru Mbok Imah.
"Sakit Mbok..." ringis Nadia sambil terus memegang perutnya.
"Ambil mobil, kita bawa neng Nadia ke rumah sakit" ucap Mbok Imah pada sang satpam yang terlihat panik dan bingung.
Satpam itu pun langsung saja berlari menuju garasi dengan tangan begitu gemetar. Dia segera saja mengambil salah satu mobil yang ada disana kemudian mengeluarkannya dan mengemudikannya mendekat kearah Nadia juga Mbok Imah.
Satpam dan Mbok Imah langsung membantu Nadia untuk masuk kedalam mobil, keduanya juga ikut masuk setelah mengnci pintu rumah. Mobil itu pun melesat dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota yang sangat ramai. Didalam mobil Mbok Imah terus mengelus perut Nadia yang mengencang sambil mencoba menghubungi Andre dan yang lainnya.
__ADS_1
***
Tak berapa lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh pak satpam itu telah sampai di sebuah rumah sakit terdekat. Pak satpam segera turun dari mobil kemudian berlari mencari bantuan sedangkan Mbok Imah berusaha untuk menenangkan Nadia.
"Sebentar ya, neng. Den Andre dan yang lainnya akan segera datang kemari" ucap Mbok Imah.
Sedangkan Nadia yang mendengar hal itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Tenaganya terasa habis karena sakit yang melanda pada bagian perutnya. Beruntungnya Andre dan Mama Anisa mengangkat panggilan dari Mbok Imah sehingga bisa langsung menyusul ke rumah sakit.
Tak berapa lama, Pak satpam diikuti oleh beberapa perawat di belakangnya menuju kearah mobil. Mereka bersamaan memindahkan Nadia keatas brankar tempat tidur dari mobil. Kemudian Mbok Imah mengikuti perawat yang membawa brankar Nadia, sedangkan Pak satpam memarkirkan mobil.
***
Setengah jam berlalu, Nadia masih berada didalam ruang IGD dengan ditunggu oleh Mbok Imah dan satpam di kursi depan ruangan itu. Tak berapa lama Andre, kedua orangtuanya, dan ketiga anaknya belari menuju kearah ruang IGD. Mbok Imah dan Pak satpam itu langsung berdiri ketika majikannya datang.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa istri saya bisa masuk rumah sakit? Bukannya tadi dia baik-baik saja" tanya Andre dengan panik.
"Tadi ada dua orang wanita yang datang ke rumah. Mereka mencari Den Andre, namun saat melihat adanya Mbak Nadia membuat mereka adu debat. Bukan hanya adu debat, keduanya langsung menyerang Mbak Nadia hingga dia jatuh ke aspal. Saya yang ada disitu nggak bisa menahan Mbak Nadia karena terus dihalangi dua wanita itu" jelas satpam itu.
Mendengar hal itu tentunya Andre dan Papa Reza marah besar kemudian membuka ponselnya untuk mengetahui siapa dua orang wanita yang dimasud. Sedangkan Mama Anisa sibuk menenangkan ketiga cucunya yang menangis karena mendengar bundanya sakit.
"Sialan..." gumam Andre dengan kedua tangan yang mengepal saat tahu siapa dalang dari kejadian ini melalui rekaman CCTV yang ada di ponselnya.
__ADS_1