
Bocah laki-laki kecil itu sepertinya kebingungan dengan apa yang ditanyakan oleh Alan sehingga terus melihat kearah kakaknya. Memang sejak kecil keduanya tak pernah diajari membaca dan menulis karena keterbatasan ekonomi bahkan mereka juga jarang bersosialisasi dengan anak lainnya. Sehingga ketika diajak berbicara akan sedikit lamban dalam merespons.
"Dia tanya nama kamu, dek. Namanya Ega, kalau aku Zunai" jawab seorang gadis kecil bernama Zunai setelah cukup lama berpikir.
Bocah kecil laki-laki bernama Ega itu langsung menunjuk kearah kakaknya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka semua pun mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Zunai. Sedangkan Alan masih menatap penasaran kearah Ega yang malah menunjuk kearah kakaknya.
"Eda, ayo nomong dong" ucap Alan dengan sedikit mendelik.
Tentunya Ega hanya menatap kearah Alan dengan tatapan polosnya. Ia masih kebingungan dalam berinteraksi dengan oranglain karena keduanya juga hanya berdua saja jika berbincang. Itu pun hanya sekedarnya saja karena mereka lebih memikirkan bagaimana cara untuk mencari makan.
"Nomong pa?" tanya Ega tiba-tiba.
"Ya nomong apa tek. Nomong-nomong tosong uga oleh" ucap Alan dengan sedikit kesal.
Andre dan Nadia menahan tawanya melihat interaksi anaknya dengan orang yang baru dikenalnya itu. Ternyata kesabaran Alan itu seperti Andre, yang hanya setipis tisue dibagi empat. Sepertinya Alan memang tak sabaran dalam menunggu Ega agar berbicara dan berbincang padanya.
"Alan, kasihan adiknya. Dia kan juga baru ketemu orang yang lagi dikenalnya. Masa iya semua orang seperti kamu yang langsung sok akrab dengan seseorang yang baru dikenalnya" ucap Arnold dengan sedikit menegur Alan.
Alan mencebikkan bibirnya kesal terlebih saat ini Ega langsung diajak duduk disebelah Arnold. Pelayan masuk kemudian menyiapkan beberapa makanan susulan yang dipesan. Akhirnya mereka makan dengan ditambah Ega dan Zunai yang terlihat begitu lahapnya.
Bahkan Anara dan Abel langsung sigap menyuapi Zunia yang terlihat kebingungan saat menggunakan sendok. Nadia sedikit berpikir dengan kedua anak-anak ini yang terlihat begitu kaku dalam menggunakan sendok. Pasti ada kisah yang mereka sembunyikan sehingga keadaan keduanya seperti ini.
__ADS_1
"Abang Alan cuapin" ucap Alan yang kemudian menyuapi sedikit demi sedikit nasi dan suwiran ayam kearah mulut kecil Ega.
Ega hanya menurut saja padahal Alan sendiri makannya masih belepotan. Namun dengan sigap Arnold juga membersihkan nasi yang berjatuhan. Bahkan terkadang Arnold yang menyuapi keduanya makanan agar tak lama dalam mengunyah.
"Nenak..." gumam Ega sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ndak nenak ni. Olang laca yayamna acin banet" ucap Alan dengan ceplosannya.
"Kita harus bersyukur masih bisa makan ayam seperti ini. Coba lihat di luaran sana, banyak yang cuma makan nasi dan garam saja lho" ucap Arnold memberitahu.
Ega yang tak paham hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sedangkan Alan langsung memainkan nasinya dengan bercampur lauk untuk kemudian ia suapkan pada Ega. Sedangkan Alan sendiri langsung disuapi oleh Arnold walaupun abangnya itu harus sabar.
"Cukul..." seru Alan menimpali ucapan abangnya.
Bahkan kini Alan langsung merebahkan tubuhnya diatas karpet dengan kepalanya ada pangkuan Arnold. Padahal Arnold ingin juga rebahan namun adiknya malah sudah menempel padanya. Arnold langsung memberi kode pada Ega dengan lambaian tangannya agar mendekat.
"Sini kaya abang Alan. Kepalanya tiduran sebelah sini" ucap Arnold dengan menepuk paha sebelah kirinya.
Ega menganggukkan kepalanya kemudian menirukan Alan yang rebahan dengan kepala berada di pangkuan Arnold. Arnold dengan sigap langsung mengelus rambut keduanya dengan lembut membuat mereka berdua mengantuk. Benar saja, tak berapa lama mereka berdua tertidur setelah kekenyangan.
"Eh... Ega kok malah tidur? Nanti Zunai bawanya gimana ini?" ucap Zunai sambil menggaruk pipinya yang tak gatal.
__ADS_1
Semua orang yang tadinya menatap fokus pada pemandangan ketiga bocah laki-laki itu langsung saja mengarahkan panangannya pada Zunai yang sedikit panik. Nadia bahkan langsung menggendongnya karena Zunai sudah turun dari kursinya hendak membangunkan adiknya.
"Tidak usah dibangunkan dulu, biarkan adiknya tidur. Nanti kami antar kalian pulang ke rumah" ucap Nadia yang langsung mengelus lembut rambut Zunai yang begitu kasar.
Mendengar Nadia mengucapkan kata rumah, Zunai langsung terdiam bahkan kini matanya langsung tersenyum sendu. Sontak saja hal itu membuat semua orang disana penasaran. Bahkan Nadia langsung memeluk dengan erat tubuh Zunai yang tiba-tiba bergetar. Nadia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa, nak? Tenang saja, nanti kami juga akan menjelaskan pada keluargamu kalau tadi kalian ikut dengan kami sebentar agar tak dimarahi" ucap Mama Anisa menenangkan.
Bukannya langsung terdiam dan tenang, namun Zunai malah memeluk erat Nadia kemudian menangis tersedu-sedu. Mereka yang melihat hal itu hanya bisa diam saja karena memang kebingungan dengan apa yang terjadi. Pasalnya tadi yang diucapkan oleh Nadia dan Mama Anisa itu sama sekali tak ada hal yang menyinggung.
Akhirnya mereka memilih diam sambil menunggu Zunai untuk meceritakan semuanya jika mau. Nadia terus mengusap lembut punggungnya dengan harapan gadis kecil yang ada dipelukannya bisa segera tenang. Tak berapa lama, Zunai mulai tenang kemudian Nadia dengan telatennya membersikan wajah gadis itu dengan tisue.
"Zunai dan Ega ndak punya orangtua. Kami hanya tinggal di emperan toko saja dan itu berpindah-pindah, jadi nanti Ega harus dibangunkan" ucap Zunai dengan sesenggukan.
Deg...
Jantung semua orang yang mendengarnya itu tentu saja langsung berdetak lebih kencang. Mereka seakan menjadi linglung dan tak bisa berpikir apapun. Ternyata ucapan Nadia dan Mama Anisa tadi menyinggung Zunai sehingga gadis kecil itu menangis. Bahkan kini semuanya langsung saling tatap untuk melakukan apa setelah ini.
"Memangnya orangtua Zunai kemana?" tanya Nadia dengan hati-hati.
Nadia sebenarnya tak mau mengorek lebih dalam informasi tentang kehidupan Zunai. Namun ini nanti akan menyangkut dimana mereka akan menurunkan kedua bocah kecil ini. Kalau asal menurunkan, bisa saja malah mereka dikira menelantarkan dan membuang anak. Sedangkan Anara dan Abel sendiri matanya sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Zunai juga langsung terdiam bahkan sangat lama dalam menjawab pertanyaan dari Nadia. Bahkan berulangkali gadis itu menatap kearah Nadia dan Mama Anisa untuk mencari sesuatu pada mata keduanya. Ternyata ada keraguan dalam mata Zunai untuk menceritakan kisah hidupnya pada orang yang baru dikenalnya. Namun Nadia dan Mama Anisa seolah meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja setelah dia menceritakan semuanya.