Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Sebelum baca part ini, pastikan kamu membaca "bab 102. Meluruskan dan bab 103. Pingitan" secara beurutan karena ternyata kemarin part nya kebalik waktu update, biar nanti nyambung dengan part ini!!!!


Jangan sampai terbalik ya guys...


*****


Kurang 1 hari pernikahan antara Nadia dengan Andre akan digelar. Setelah menjalani pingitan, hari ini di rumah kontrakan Nadia akan diadakan pengajian. Pengajian ini dihadiri oleh ibu-ibu pengajian yang biasanya ada di masjid dekat rumah kontrakan Nadia. Suasana begitu hikmat dengan lantunan ayat suci yang dibacakan oleh beberapa ibu pengajian. Nadia dan kedua orangtuanya juga ada disana ikut mendengarkan dan melantunkan ayat suci.


Suasana yang begitu hikmat ini membuat Nadia begitu terharu. Pasalnya sampai saat ini dia masih tidak menyangka kalau dirinya akan sampai pada tahap ini. Sebentar lagi dirinya akan menikah dengan laki-laki yang ia cintai, rasanya hati sangat campur aduk namun dominan bahagia.


Acara pengajian selesai, ibu-ibu pengajian segera saja membubarkan diri dengan membawa beberapa souvenir dan makanan yang sudah disiapkan oleh pihak keluarga. Setelah pengajian berakhir, hati Nadia begitu tenang bahkan kegundahannya menanti esok hari hilang seketika. Kini Ibu Ratmi masih duduk lesehan di ruang tamu bersama dengan Nadia yang tengah melamun.


"Kamu udah siap mental kan buat nikah sama Andre?" tanya Ibu Ratmi memastikan.


"Kok ibu tanya seperti itu? Nadia menikah tinggal esok hari lho, masa ditanyain mentalnya udah siap apa belum" ucap Nadia sedikit terkejut sambil terkekeh pelan karena merasa lucu dengan pertanyaan ibunya.


"Ibu serius, Nad. Bisa saja lho, kalau memang belum siap masih ada waktu untuk membatalkannya. Banyak kasus seperti ini disekitar kita karena belum siap mental akhirnya pernikahannya gagal bahkan ada yang berlanjut namun kehidupannya tidak bahagia. Ibu hanya ingin memastikan kalau kamu siap menjadi istri dan ibu, apalagi saat kamu menikah nanti maka kamu juga harus bertanggungjawab atas anak-anak Andre" ucap Ibu Ratmi dengan serius.


Nadia terdiam mendengar ucapan ibunya itu. Ia setuju dengan apa yang diucapkan oleh ibunya, kedua orangtuanya juga pasti tak ingin anaknya tak berakhir bahagia. Apalagi ini ibadah seumur hidup, sekali sudah membuat keputusan maka akan berimbas pada kehidupan rumah tangganya kelak.

__ADS_1


"Nadia siap. Baik secara mental maupun hati. Nadia sudah menerima dengan ikhlas Andre sebagai calon imam dan kepala keluarga serta ketiga anaknya sebagai calon buah hatiku" ucap Nadia dengan menganggukkan kepalanya yakin.


Ibu Ratmi tersenyum lega mendengar ucapan Nadia yang tegas dan yakin atas pilihannya. Sebagai orangtua, dirinya takkan pernah membiarkan anaknya memilih jalan yang salah. Ibu Ratmi segera meninggalkan Nadia dari ruang tamu untuk menyiapkan hal-hal kecil untuk kelancaran esok pagi.


***


Pada malam harinya, suasana di rumah Nadia tampak sepi karena memang tak ada acara apapun setelah para tetangga datang untuk menerima berkat syukuran pernikahan tadi sore. Seharusnya malam ini akan diadakan acara midodareni, namun dari Andre dan Nadia sendiri tak ingin mengadakannya agar bisa istirahat dengan leluasa. Mereka berdua tak ingin esok hari akan kecapekan dan mengantuk karena acara yang diadakan itu.


Nadia kini tengah duduk di teras rumah yang halamannya didirikan tenda dan juga banyak kursi untuk menyambut tamu yang sedari kemarin terus berdatangan. Berulang kali Nadia menghela nafasnya untuk mengusir kegugupan yang melanda. Waktu untuknya menikah tinggal hitungan jam saja, namun sampai saat ini dirinya sama sekali tak bisa tidur.


"Andre lagi ngapain ya di rumah? Apa dia juga nggak bisa tidur kaya aku? Atau malah udah tidur nyenyak karena santai menghadapi akad besok. Ah iya... Pasti Andre sedang tidur nyenyak sekarang toh dia sudah pernah menghadapi hal ini" ucap Nadia menggerutu.


Malam ini dirinya ingin tidur bersama ketiga anaknya, jadinya Andre sekarang berada dikamar mereka. Namun bukannya tidur, Andre malam bergumam tak jelas membuat Arnold yang melihat hal itu kesal. Kedua kakaknya telah tertidur lelap, namun Arnold sama sekali tak bisa tidur dengan nyenyak. Pasalnya Andre bergumam keras dan berjalan mondar-mandir di sebelahnya.


"Papa, angan belisik. Ikin Anol ndak bica tidul aja. Alo mau belicik angan dicini, diluang kelualga cana" kesal Arnold dengan sedikit keras.


Andre yang mendengar ucapan Arnold pun terkejut dan langsung menghentikan gumamannya. Ia hanya bisa meringis malu saat anaknya melihat tingkahnya yang begitu tak jelas itu. Andre pun akhirnya duduk di ranjang tempat tidur Arnold kemudian ikut berbaring disana. Matanya menatap kearah langit-langit kamar anak-anaknya itu.


"Mbul, besok papa nikah nih sama bunda. Kamu senang nggak?" tanya Andre tanpa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Cenang, api ndak cenang kalna dianggil mbul" ucap Arnold dengan ketus.


Andre hanya menahan tawanya saat tahu kekesalan dari anaknya itu akibat dari panggilan yang disematkan untuknya. Tanpa mempedulikan kekesalan anaknya, Andre terus mengajak Arnold berbicara untuk menghilangkan kegundahannya.


"Mulai besok papa udah bisa tidur sama bunda. Ah akhirnya ada yang temani papa tidur juga setiap malamnya. Bisa dipeluk terus dicium, ah senangnya hati papa" ucap Andre sambil membayangkan hari-hari yang akan dilaluinya bersama istrinya itu.


"Nak ja, ulai becok unda tu tidul cama Anol, Kak Nala, dan Kak Bel" protes Arnold.


"Enak aja, bunda tidurnya sama papa terus ya" ucap Andre tak mau kalah.


"Papa akal" seru Arnold memekik tak terima.


Bahkan kini Arnold mulai beranjak dari baringannya kemudian naik keatas perut papanya dan duduk disana. Andre yang melihat tindakan Arnold pun hanya terkekeh pelan, apalagi melihat wajah cemberutnya itu. Arnold segera saja mengarahkan kedua tangan mungilnya untuk memukuli dada papanya. Hal itu hanya membuat Andre tertawa saja karena pukulannya sama sekali tak terasa sakit.


"Udah mukulnya nanti tangan adek sakit. Bobok yuk..." ajak Andre sambil menghentikan pukulan kedua tangan Arnold dari dadanya.


Arnold pun menuruti ucapan papanya itu, pasalnya dia sebenarnya juga sudah mengantuk. Apalagi sekarang jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Jam tidur Arnold sudah terlewat sedari tadi, namun bocah laki-laki itu masih tetap saja menggubris ucapan papanya walaupun telah mengantuk.


Arnold tetap tidur diatas dada bidang papanya karena malas untuk turun. Andre pun tak mempermasalahkan hal itu karena sudah lama sekali dirinya tak tidur dengan anak-anaknya. Keduanya pun tidur terlelap dan berharap bahwa acara yang akan dilangsungkan keesokan harinya berjalan dengan lancar.

__ADS_1


__ADS_2