Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Sadar


__ADS_3

Sudah satu bulan lamanya Andre terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Seharusnya juga hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh dua keluarga besar itu. Pernikahan yang digadang-gadang akan dilaksanakan, faktanya harus diundur karena kondisi Andre yang belum sadarkan diri hingga hari ini. Belum ada perubahan signifikan pada kondisi Andre membuat semuanya tampak khawatir dan takut.


Ketiga anak Andre pun sehari-harinya kini tinggal di rumah kontrakan Nadia karena Mama Anisa yang sibuk menunggu Andre di rumah sakit dan Papa Reza yang harus menggantikan posisi anaknya sebagai pimpinan perusahaan. Anara dan Abel tetap bersekolah seperti biasanya dengan Nadia dan Arnold yang akan menunggu di tempat tunggu para wali.


Awalnya Nadia ingin Mama Anisa pulang istirahat di rumah, namun beliau kekeh tidak mau meninggalkan anaknya. Alhasil setiap ketiga bocah kecil itu sudah tertidur pada malam hari, Nadia selalu ke rumah sakit agar Mama Anisa bisa istirahat. Beruntungnya ketiga anak Andre tidak terlalu rewel, hanya saja akhir-akhir ini mereka tampak sedikit sedih karena papanya tak kunjung bangun. Setiap kali menjenguk di rumah sakit, ketiganya hanya menunduk lesu saja.


"Bunda, papa nggak bangun-bangun apa karena kita nakal ya?" tanya Anara waktu itu.


"Enggak dong, kalian kan anak baik dan nggak pernah nakal. Mungkin papa disana lagi mimpi indah jadi nggak bangun-bangun" ucap Nadia dengan menahan tangisnya.


"Papa lagi mimpi main sama anak-anak lain ya, Bunda? Jadi lama bangunnya" tuduh Anara.


"Alau papa ain cama nak lain, anti aktu angun langcung Anol malahin" kesal Arnold.


"Iya, nanti kita marahin aja papa karena nggak bangun-bangun" jawab Nadia dengan terkekeh pelan.


Ketiga bocah kecil itu menganggukkan kepalanya dengan wajah yang lucu. Pemandangan yang awalnya mengharukan itu berubah menjadi guyonan lucu khas anak-anak.


"Ya Allah... Sadarkanlah Andre. Aku tak tega melihat ketiga anaknya yang begitu polos ini menunggu terlalu lama" batin Nadia dengan tersenyum menatap Anara, Arnold, dan Abel yang sedang bermain monopoli.


***

__ADS_1


Nadia berjalan di lorong rumah sakit pada malam hari. Suasana begitu sunyi dan sepi di area lobby gedung itu, dia terus berjalan sambil sesekali melihat kearah taman yang tampak berkilau dengan kerlipan dari kunang-kunang. Tak lama setelah berjalan, Nadia sampai didekat ruang ICU. Dia mengernyitkan dahinya heran saat suasana disana terlihat sangat ramai, bahkan Mama Anisa tengah dipeluk oleh Papa Reza dikursi tunggu.


Perasaannya tak tenang, seketika didalam hatinya merasa takut terjadi sesuatu dengan calon suaminaya itu. Dia segera mempercepat langkanya mendekat kearah Mama Anisa dan Papa Andre.


"Ada apa ini tante, om?" tanya Nadia dengan panik.


Mama Anisa segera melepaskan pelukannya dari Papa Reza saat mendengar suara Nadia. Terlihat sekali kalau Mama Anisa sehabis menangis dengan mata yang begitu sembab bahkan di matanya terpancar ketakutan yang begitu besar.


"Andre kejang-kejang, Nad. Bahkan tadi detak jantungnya sempat berhenti, ini baru ditangani oleh dokter" ucap Nadia dengan meneteskan air matanya.


Detak jantung Nadia terasa ingin berhenti bahkan kini otaknya seketika kosong. Rasa takut mulai menjalar ditubuhnya. Kedua kakinya terasa lemas, bahkan kini mulai limbung membuat Papa Reza segera menahannya. Dibantu dengan Papa Reza, Nadia duduk disamping Mama Anisa.


"Kita berdo'a untuk keselamatan Andre. Apapun yang terjadi nanti, itu sudah terbaik menurut kehendak Tuhan" ucap Papa Reza berusaha tegar.


"Kumohon bertahanlah, Ndre. Kalau bukan untukku, setidaknya itu untuk ketiga anakmu" batin Nadia dengan menundukkan kepalanya.


***


Ceklek...


Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang ICU itu. Terlihat sekali keringat bercucuran dari dahi sang dokter, sepertinya mereka sangat bekerja keras malam ini demi menyelamatkan nyawa seseorang. Mama Anisa, Nadia, dan Papa Reza segera berdiri dari duduknya kemudian mendekat kearah sang dokter.

__ADS_1


"Bagaimana dengan keadaan anak saya, dok? Dia baik-baik saja kan?" tanya Mama Anisa dengan raut paniknya.


"Ibu tenang dulu ya. Pasien dalam kondisi baik, bahkan sangat baik. Saat ini kondisinya sudah stabil dan keluar dari masa kritisnya. Berkat keajaiban Tuhan, saat ini pasien telah sadar. Namun saya memberikan obat anti nyeri dan penenang agar pasien bisa istirahat sampai besok pagi" jelas dokter itu.


"Sadar?" tanya Nadia dengan tatapan tak percaya.


Dokter itu hanya menganggukkan kepala dan tersenyum manis sebagai jawaban. Nadia, Mama Anisa, dan Papa Reza langsung saja berpelukan saat memastikan kalau Andre telah sadar itu bukanlah sebuah bualan. Ketiganya menangis haru dan mengucap syukur didalam hati.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Malam ini juga, pasien aka dipindahkan ke ruang rawat inap" pamit dokter itu.


Ketiganya segera melepaskan pelukannya kemudian menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pamitan dari dokter itu. Brankar tempat tidur milik Andre didorong keluar dari ruang ICU, Mama Anisa dan Nadia segera saja mengikutinya dari belakang. Sedangkan Papa Reza akan membereskan barang-barang yang ada di ruang tunggu terlebih dahulu.


***


Mama Anisa dan Papa Andre memutuskan untuk pulang ke rumahnya malam ini dan Nadia yang akan menjaga Andre. Sepertinya semua orang akan tidur nyenyak malam ini karena telah melewati rasa takut yang berlebihan selama satu bulan lebih ini. Nadia duduk disamping brankar tempat tidur Andre dan menggenggam tangannya erat.


"Terimakasih sudah mau bertahan demi kita semua. Kamu tahu, hari ini seharusnya kita menikah dan membangun rumah tangga bersama namun karena kamunya masih betah tidur jadi diundur deh. Tapi nggak papa, yang penting hari ini kamu bangun dari tidur panjangmu" ucap Nadia.


Walaupun ia tahu kalau Andre tengah tertidur pulas dan tidak mendengar ucapannya, namun Nadia terus berbicara panjang lebar. Rasanya ia sangat bahagia melihat Andre sudah dalam kondisi stabil dan sadar. Sebentar lagi mereka akan berkumpul dengan ketiga anaknya.


"Besok kita ngobrol lagi ya. Aku mau istirahat dulu biar besok bisa menyambut kamu dengan wajah yang fresh. Selamat malam calon suamiku" ucapnya dengan terkekeh geli.

__ADS_1


Nadia segera berdiri dari kursinya kemudian berjalan menuju kearah sofa yang ada di ruangan itu. Dia segera merebahkan badannya kemudian memejamkan matanya. Tak berapa lama, Nadia tertidur dengan pulasnya karena kini pikiran dan hatinya telah sedikit lega. Esok hari adalah hari panjang untuk semua keluarga Andre dan Nadia karena mereka harus mencoba menguatkan laki-laki itu agar mau bangkit dan sabar menerima keadaan.


__ADS_2