
Papa Reza memilih untuk menjaga keempat cucunya di rumah sakit, sedangkan Andre pergi dengan Nadia dan Mama Anisa ke kantor polisi. Mereka akan menyelesaikan semua permasalahan yang sudah berlarut-larut ini. Pikiran dan tenaga yang terkuras akibat mengurus kasus ini membuat Nadia dan Mama Anisa sudah tak sabar untuk menyelesaikan semuanya.
Mobil yang dinaiki ketiganya kini telah sampai di kantor polisi. Mereka masih duduk didalam mobil sambil menetralkan emosi yang tiba-tiba masuk dalam jiwa ketiganya. Terutama Andre yang akan selalu muak saat melihat dua orang pelaku yang seperti tak merasa bersalah sama sekali.
"Sabar... Sabar... Kita balas kelakuan mereka dengan main cantik" ucap Nadia sambil mengelus dadanya.
Mereka bertiga seakan mensugesti dirinya sendiri agar tak emosi saat menghadapi pelaku. Berulang kali juga mereka terlihat menghela nafasnya agar emosinya bisa diturunkan walaupun sedikit. Setelah dirasa semuanya telah sedikit membaik, ketiganya turun dari mobil dengan raut wajah yang datar.
Ketiganya melangkahkan kakinya kedalam kantor polisi itu setelah dilakukan beberapa pemeriksaan barang bawaan. Setelah itu mereka menunggu sebentar sebelum akhirnya dipanggil oleh seorang polisi untuk memasuki sebuah ruangan. Ketika masuk ruangan itu, disana sudah ada dua pelaku dan keluarganya beserta pihak sekolah dan dinas terkait.
Andre, Nadia, dan Mama Anisa duduk disana dengan angkuhnya. Ketiganya mengangkat dagunya tinggi-tinggi serta menatap sinis kearah mereka semua. Tak ada yang bisa menginjak-injak harga diri keluarganya setelah apa yang telah mereka lakukan.
"Hmm... Disini saya sebagai pihak ketiga dalam kasus ini akan meluruskan semuanya dan meminta keterangan dari berbagai pihak. Jika memang kasus ini terbukti maka kami akan langsung melengkapi berkas pengajuan ke pengadilan" ucap salah satu polisi yang ada disana.
Andre, Nadia, dan Mama Anisa mendengus kesal mendengar pernyataan dari polisi itu. Mereka bisa mengambil kesimpulan jika para polisi itu masih meragukan dengan keterangan dari pihak korban. Sedangkan para pelaku yang konon sudah ditangkap pun masih bisa sombong dengan memasang wajah angkuhnya.
Tak berapa lama, pengacara keluarga Farda dan juga perwakilan dari instansi perlindungan anak datang. Mereka yang ada disana tak ada yang menduga jika akan kehadiran salah satu lembaga tinggi di negara itu kecuali Nadia, Andre, dan Mama Anisa.
"Mohon maaf kami terlambat. Kami juga sudah melaporkan dan menceritakan kejadian ini kepada lembaga perlindungan anak karena memang kasus ini berkaitan dengan anak dibawah umur. Beliau-beliau ini yang akan membeberkan beberapa fakta tentang kondisi ananda Arnold tanpa ditutup-tutupi" ucap pengacara Andre.
__ADS_1
Wajah-wajah disana tampak pucat karena biasanya jika sudah dilindungi oleh salah satu lembaga itu pasti akan panjang urusannya. Terlebih mereka pasti sudah memeriksa keadaan korban dengan teliti tanpa ada celah dari pihak manapun untuk memanipulasinya. Nadia dan Mama Anisa begitu menikmati wajah-wajah ketakutan yang ada dihadapannya.
Setelah kedatangan polisi beberapa waktu yang lalu bahkan seakan meragukan kondisi Arnold walaupun sudah ada medical recordnya membuat Nadia dan Mama Anisa bergerak cepat. Keduanya langsung saja melaporkan kejadian ini pada instansi perlindungan anak dan menceritakan semua keluhannya. Benar saja, instansi itu bergerak cepat dengan membentuk tim untuk kembali memeriksa semua kesehatan Arnold.
"Hmm..." dehem polisi yang tadi berbicara mengalihkan perhatian semua orang.
Akhirnya semua orang kembali fokus pada agenda yang sudah disusun. Salah satu polisi pun meminta instansi perlindungan anak itu untuk membeberkan hasil penyelidikan dan pemeriksaannya dihadapan semua yang ada disana karena hasilnya akan tentu akan dimasukkan dalam berkas pengajuan ke pengadilan.
"Disini kami dari tim dokter menemukan beberapa bekas pukulan dan juga kondisi kejiwaan korban yang terguncang. Terlebih saat membahas tentang sekolah dan kejadian yang terjadi. Korban juga mengalami trauma sehingga harus diperlukan pendampingan oleh seorang psikolog atau psikiater" lapor salah satu perwakilannya.
Bahkan mereka juga langsung menyerahkan beberapa pemeriksaan ulang mendetail yang diserahkan pada pihak kepolisian. Pihak kepolisian menerimanya dan memeriksa semuanya dengan respons hanya menganggukkan kepalanya.
"Lah... Situ nyindir siapa? Yang kasih keterangan dan bukti palsu itu kami atau kalian?" sinis Nadia.
"Jangan asal bicara ya, kami tak pernah memberikan keterangan palsu" sentak Ica tak terima.
"Oh ya... Muka aja palsu apalagi ucapannya" ucap Nadia santai.
Memang benar jika wajah dari Ica sudah dipermak sehingga tampak tak asli. Hal ini juga yang menjadi senjata Nadia untuk menjatuhkan mentalnya.
__ADS_1
"Ati-ati nanti wajahnya merah-merah kalau masuk penjara kan nggak bisa pakai skincare" timpal Mama Anisa.
"Mana bisa pakai skincare? Kecuali sih kalau ada yang bantuin atau dapat perlakuan istimewa, apa sih yang nggak bisa" ucap Nadia.
Tentunya beberapa pihak yang merasa melakukan hal itu tersinggung. Bahkan dari raut wajah-wajah orang disana kelihatan kalau ada sesuatu yang memang disembunyikan dan ditahan.
"Kalau marah berarti memang melakukannya" timpal Mama Anisa yang melihat ada beberapa orang tak terima.
Nadia hanya bisa menahan tawanya saat melihat wajah-wajah orang yang menahan amarahnya itu kini seperti mati kutu. Tak ada yang menimpali ucapan pedas keduanya karena tentu saja akan membuat nama baiknya jelek didepan orang-orang penting. Mama Anisa dan Nadia berasa diatas awan kini karena inginnya hanya menyindir satu orang namun banyak yang merasa tersinggung.
"Hmm... Kita lanjutkan keterangan dari pihak pelaku menanggapi ucapan dari instansi yang bersangkutan" ucap salah satu polisi mengalihkan pembicaraan.
"Sebentar... Saya ingin menjawab mengenai tuduhan pelaku kepada keluarga korban. Saya tegaskan disini jika tak ada pembayaran atau apapun sejenisnya kepada kami. Kami bekerja murni karena memang tugas kami untuk melindungi korban dan anak" ucap salah satu perwakilan lembaga itu dengan tegas.
Bahkan beberapa mata langsung menajamkan penglihatannya kearah pelaku dan beberapa orang penting disana. Dengan penegasan ini diharapkan tak ada pemikiran negatif pada salah satu lembaga negara itu. Pelaku dan beberapa orang lainnya hanya bisa menelan salivanya kasar karena sepertinya akan sangat susah membujuk mereka untuk menjadi tamengnya.
"Baik, terimakasih atas penjelasannya. Silahkan pihak pelaku untuk menjelaskan apa yang terjadi didepan para keluarga korban" ucap polisi itu.
"Yang jelas kami tak melakukan apa yang dituduhkan. Yang memukul kaki Arnold bukanlah saya tapi teman-temannya" ucap Ica membela diri.
__ADS_1
"Sebelum mereka memukulnya, kalian berdua dulu yang memukul kaki anak saya. Jelas-jelas dalam video CCTV yang ASLI terlihat. Buta kalau semua tak bisa melihat apa yang terjadi" sarkas Nadia sambil menekankan kata "asli" dalam ucapannya.