Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Penyelesaian


__ADS_3

Perjalanan yang begitu lama telah Papa Reza dan Mama Anisa lalui demi menemui Aneta yang kini meringkuk di balik jeruji besi. Kini mereka turun dari mobil dengan raut muka marah karena menahan emosi yang bergejolak didada keduanya. Hidup keluarga mereka yang masih dirundung duka akibat kecelakaan yang menimpa Andre, malah ditaburi garam dengan masalah yang kembali datang.


Keduanya berjalan dengan angkuhnya memasuki area rumah tahanan. Saat sampai disana, mereka mendaftarkan diri untuk menemui Aneta setelahnya diperiksa seluruh bawaannya. Setelah lolos dari pemeriksaan, keduanya segera saja duduk menunggu di sebuah ruang tunggu.


"Mama yang tenang, jangan membuat keributan disini. Bisa-bisa kita diusir kalau membuat keributan" pesan Papa Reza kepada istrinya.


Papa Reza sengaja berpesan seperti itu kepada istrinya mengingat tingkah bar-bar Mama Anisa kalau sudah emosi melandanya. Terlebih sedari tadi didalam mobil, Mama Anisa hanya diam dan mengepalkan kedua telapak tangannya membuat dirinya begitu was-was.


Mendengar ucapan Papa Reza, Mama Anisa segera menghela nafasnya panjang-panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Ia berusaha menetralkan segala emosi yang sudah membuncah didalam dada.


Tak berapa lama, orang yang mereka tunggu datang juga dan masuk kedalam sebuah ruangan untuk menemui tamu. Aneta yang awalnya berjalan menunduk seketika saja mengangkat kepalanya dan terkejut melihat kedatangan mantan mertuanya. Dia juga bingung dengan kehadiran mereka disini, pasalnya yang ia tahu semua permasalahan dengannya sudah selesai.


Aneta duduk dengan ragu-ragu di hadapan keduanya. Dengan wajah ragu, Aneta memandang mantan mertuanya itu dan menanyakan semua kebingungannya.


"Maaf tante dan om ada keperluan apa ingin menemui Aneta? Bukannya kita sudah tak ada masalah atau hal lainnya lagi?" tanya dengan raut bingung.


"Apa kamu bilang? Tak ada masalah atau hal lain lagi? Sebelumnya memang tak ada masalah bahkan hidup kami sudah tenang. Namun apa ini?" pekik Mama Anisa tertahan sambil melemparkan sebuah amplop coklat dari pengadilan.


Aneta yang melihat kemarahan Mama Anisa pun semakin dibuat bingung apalagi dengan adanya surat dari pengadilan. Aneta tahu itu surat dari pengadilan karena saat terlempar, sebuah kertas putih dengan kop surat pengadilan itu sedikit terlihat. Tanpa basa-basi, dirinya segera saja mengambil amplop itu kemudian membuka dan membacanya dengan seksama.

__ADS_1


Aneta terkejut bukan main saat membaca kata demi kata yang tertulis dalam surat itu. Yang lebih membuatnya shock adalah tanda tangan yang ada dalam kertas itu. Nama dan tanda tangan itu atas namanya. Aneta menggelengkan kepalanya tak percaya melihat hal itu, padahal dirinya sama sekali tak tahu menahu tentang ini.


"Aku tidak pernah menandatangani surat ini. Aku juga tidak pernah mengajukan peninjauan kembali atas hak asuh ketiga anakku dan Andre" ucap Aneta sambil terus menatap tak percaya kearah kertas putih itu.


Pantas saja Mama Anisa dan Papa Reza terlihat marah, alasan yang dibuat dalam surat itu pun seakan menyudutkan Andre.


"Lalu siapa kalau bukan kau? Jelas-jelas itu ada nama dan tanda tanganmu" ketus Mama Anisa.


"Ini bukan tanda tanganku, tante" ucap Aneta tak terima.


"Coba kau ingat-ingat lagi, akhir-akhir ini ada orang yang ingin mengambil hak asuh ketiga cucuku atau tidak. Pasti ini adalah orang terdekatmu yang melakukan" ucap Papa Reza dengan tenang.


Ketiganya terdiam memikirkan beberapa kemungkinan orang-orang yang mereka curigai. Terutama Aneta yang sepertinya mengingat sesuatu mengenai hal ini namun ia lupa berbicara dengan siapa. Tak beberapa lama, Aneta memekik tertahan saat teringat seseorang yang pernah merencanakan hal ini.


Mama Anisa dan Papa Reza seketika memfokuskan pandangannya kearah Aneta. Mereka memandang Aneta dengan intens agar tak ada lagi kebohongan yang diucapkannya.


"Mama Sukma..." ucapnya.


"Buat apa mertuamu itu melakukan hal ini?" tanya Mama Anisa heran.

__ADS_1


Dia setengah tak percaya dengan ucapan Aneta itu pasalnya keduanya sama-sama wanita licik. Jika memang Sukma yang melalukan itu pasti juga atas persetujuan Aneta. Lagi pula Sukma tak ada hubungannya sama sekali dengan ketiga cucunya itu jadi untuk apa dia menginginkan peninjauan kembali hak asuhnya.


"Satu bulan yang lalu Mama Sukma menyuruhku untuk mengajukan peninjauan kembali hak asuh anakku karena mendengar bahwa Andre tengah mengalami kelumpuhan. Dengan cara mendapatkan hak asuh mereka, maka kami bisa keluar dengan cepat karena ada anak sebagai pertimbangan" ucap Aneta.


"Itu berarti kamu juga pelakunya. Kamu bersekongkol dengan Sukma untuk mengambil hak asuh ketiga cucuku dari Andre" ketus Mama Anisa.


"Ma, tenang dulu. Biarkan Aneta melanjutkan ucapannya" tegur Papa Reza.


Mama Anisa hanya bisa mendengus sebal melihat kesabaran Papa Reza menghadapi keluarga suaminya Aneta. Padahal sudah jelas-jelas mereka pelakunya malah disuruh tenang. Melihat wajah Aneta saja, dia rasanya ingin mencakar-cakarnya.


"Tapi Aneta memang tidak ikut campur mengenai ini, tante. Aneta sama sekali tidak tahu kapan ini diajukan ke pengadilan. Setelah mama mengucapkan hal itu, Papa Rudi sudah menegurnya untuk tak berbuat masalah. Aku, Mas Lian, dan Papa Rudi pergi dari hadapan Mama Sukma lalu kami tak pernah lagi membahas hal ini. Jadi aku sama sekali tak tahu" bantah Aneta.


Papa Reza sudah dapat menyimpulkan bahwa ini memang perbuatan dari Sukma karena ingin segera keluar dari sini sehingga menempuh jalan membuat masalah dengan keluarganya. Sedangkan Mama Anisa sudah siap meluapkan amarahnya kepada rivalnya sejak dulu itu.


"Kalau dari cerita Aneta, semua sumber masalah ada di Sukma. Kalau begitu surat ini tidak sah karena bukan Aneta sendiri yang mengajukannya. Saya minta untuk kamu agar menghubungi pengacara yang mengurus hal ini agar dibatalkan. Kalau tidak, kami akan mengusut tuntas hal ini ke pengadilan juga. Pasti ada oknum-oknum tertentu yang terlibat sehingga surat dengan tanda tangan palsu ini bisa lolos begitu saja" ucap Papa Reza.


Aneta menganggukkan kepalanya mengerti, kali ini dirinya sedang tak mau berbuat masalah apapun karena tak mau hidupnya bertambah rumit. Apalagi bermasalah dengan keluarga Andre, bisa di penjara seumur hidup dirinya kalau sampai mereka mengambil jalur hukum lagi untuk menuntut dirinya.


"Oh ya, pesan untuk mertuamu dari mantan mertuamu ini adalah kalau ketemu saya, siap-siaplah untuk saya cabik-cabik itu muka sok cantiknya" ucap Mama Anisa dengan gemas.

__ADS_1


Aneta bergidik ngeri dengan ucapan Mama Anisa, pasalnya wanita paruh baya itu takkan main-main dengan ancamannya. Mama Anisa dan Papa Reza pun berdiri kemudian pergi berlalu dari hadapan Aneta yang tengah melamun.


"Mama, nggak kapok-kapoknya sih bikin masalah sama keluarga Andre" gerutu Aneta kemudian beranjak dari kursinya untuk kembali menuju sel tahanan sambil membawa kertas putih itu.


__ADS_2