
Ketiga anak sambungnya terlihat duduk diatas kasur dengan saling memeluk setelah meminum air putih yang tadi Nadia sodorkan. Ketiganya terlihat diam bahkan tak mengeluarkan satu patah katapun dari mulutnya. Hal ini membuat Nadia sedikit cemas akan kembalinya trauma pada diri Abel dan membuat kedua anaknya yang lain mengalami hal itu juga. Papa Reza dan Mama Anisa yang masih berada di kantor pun tak bisa ia hubungi sedari tadi karena bagaimanapun ia harus berbicara dulu dengan Andre dan meminta mereka menjaga ketiga bocah kecilĀ ini.
"Bunda ambilkan makan siang kalian dulu ya" ucap Nadia dengan lembut sambil mengelus lembut rambut ketiga anak sambungnya.
Tak ada jawaban dari ketiganya, mereka hanya terdiam sambil terus menundukkan kepala. Nadia yang melihat hal itu tentunya sangat sedih dengan perubahan ketiga anaknya. Nadia pun akhirnya pergi berlalu dari kamar kemudian mengambilkan makan siang untuk mereka. Sesampainya di dapur, Mbok Imah yang melihat kedatangan Nadia pun segera menginterogasinya. Pasalnya tadi ia mendengar adanya bentakan keras namun tak berani untuk melihat dan mendekat.
"Neng Nadia, tadi den Andre bentak-bentak siapa kok keras banget?" tanya Mbok Imah tanpa basa-basi.
"Salah dengar kali, mbok. Nggak ada suara orang bentak-bentak kok" elak Nadia.
Merasa bahwa itu adalah aib suaminya, sebagai seorang istri tentunya dia harus menutupinya dari oranglain. Nadia mempunyai prinsip untuk rahasia apapun tentang rumah tangganya hanya akan ia simpan untuk keluarganya saja. Mbok Imah yang mendengar jawaban Nadia pun mengerti kalau majikannya itu tak mau membicarakan aib suaminya.
Nadia segera saja mengambil piring kemudian mengisi nasi dan lauk pauknya serta membawa gelas berisi air minum yang diletakkan diatas nampan. Setelah semua siap, Nadia segera membawanya ke kamar anak-anak meninggalkan Mbok Imah yang bingung dengan tingkah majikan barunya itu.
"Sudah Imah, tak usah kau kepo sama urusan oranglain apalagi majikanmu sendiri" gumam Mbok Imah setelah melihat Nadia pergi dari dapur.
***
Ceklek...
Nadia membuka pintu kamar ketiga anaknya dan terlihat mereka masih berada dalam posisi yang sama seperti saat dia meninggalkan bocah-bocah kecil itu. Nadia hanya bisa menghela nafasnya pasrah saja karena pasti sikap ketiga anaknya nanti akan berbeda dari biasanya.
"Makan dulu yuk" ajak Nadia dengan lembut.
__ADS_1
Nadia duduk didepan ketiganya walaupun mereka masih tak mau membuka mulutnya ataupun menjawab pertanyaannya. Nadia segera mengarahkan satu sendok nasi kearah Abel terlebih dahulu namun gadis kecil itu tak mau membuka mulut.
"Kakak Abel" panggil Nadia.
"Kakak Nara... Adek gembul" lanjutnya memanggil semua anaknya.
"Jangan buat bunda khawatir dong, makan ya" lanjutnya terus membujuk.
Berulangkali Nadia membujuk dan melayangkan rayuan, namun ketiganya sama sekali tak bergeming. Hanya terdengar isakan lirih yang terdengar membuat hati Nadia begitu ngilu. Nadia meletakkan piring keatas nakas samping tempat tidur kemudian memeluk ketiganya dengan lembut.
"Maafkan Bunda belum bisa melindungi kalian. Kalian nggak usah takut kalau papa marah-marah. Papa lagi capek, nanti pasti dia balik lagi seperti semula. Biar urusan papa nanti bunda yang ngurusin, kalian jangan pikirkan ucapan papa ya. Anggap saja seperti kentut, yang akan hilang baunya ketika terbawa angin. Ayo dong anak-anak bunda senyum lagi" ucap Nadia dengan antusias.
Walaupun bentakan dan ucapan Andre itu akan membekas di ingatan ketiga bocah kecil itu, namun sebisa mungkin Nadia mencoba untuk menghindarkan mereka dari rasa trauma.
Setelah mendengar ucapan Nadia, ketiganya segera menegakkan kepalanya dan terlihatlah mata mereka yang memerah serta sembab bahkan wajah yang sudah basah karena air mata. Nadia yang melihat hal itu langsung saja menghapus jejak-jejak basah di kedua pipi anak-anak itu.
Yang paling Nadia tak duga adalah tatapan Arnold terlihat kosong walaupun isakan lirih masih terdengar dari bibir mungilnya. Bukan hanya Arnold, Abel pun seperti itu sedangkan Anara sepertinya hanya shock saja.
"Hei... Adek, kakak Abel" panggil Nadia dengan menepuk-nepuk pipi keduanya.
Bahkan Anara yang melihat kepanikan Nadia pun segera ikut menggoyang-goyangkan tubuh Arnold yang ada disampingnya. Namun hasilnya nihil karena Arnold dan Anara hanya diam membeku sambil menatap kearah depan dengan tatapan kosongnya.
"Astaga..." panik Nadia.
__ADS_1
"Hei... Adek, kakak..." serunya dengan panik.
Anara yang melihat bundanya panik pun malah menangis dan hal itu membuat Nadia bertambah kacau pikirannya. Nadia masih terus menyadarkan kedua anaknya sambil terus memeluknya namun tak juga berhasil. Benar dugaannya jika kejiwaannya terguncang akibat bentakan dan ucapan dari Andre.
"Nara, jagain kakak dan adeknya ya. Bunda mau panggil papa buat antar ke rumah sakit" pesan Nadia pada Anara yang hanya dijawab anggukan pelan oleh gadis kecil itu.
Nadia segera saja turun dari kasur dengan tergesa-gesa, ia segera berlari menuju kamar suaminya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Nadia segera saja masuk dengan mendorong pintu hingga menimbulkan bunyi yang sangat memekakkan telinga.
"Mas, antar aku dan anak-anak ke rumah sakit" seru Nadia tanpa basa-basi.
Padahal Andre tengah menatap dirinya dengan tajam karena ulahnya yang masuk tanpa sopan. Namun Nadia tak peduli akan hal itu karena anak-anaknya jauh lebih penting. Nadia pun tanpa aba-aba langsung saja menarik tangan Andre yang hanya diam saja tak bergerak sama sekali. Namun tanpa Nadia duga, Andre menghempaskan tangan istrinya itu membuat gadis itu sedikit oleng. Beruntungnya tadi ia tak terjatuh, kalau jatuh bisa-bisa kepalanya terantuk tembok.
Nadia menganga tak percaya dengan perlakuan Andre. Ia kira setelah masuk kamar, suaminya itu sadar akan apa yang dilakukannya tadi pada Arnold. Namun ternyata apa yang dipikirkannya sama sekali tak sesuai harapan, bahkan Andre kini semakin menatap tajam kearah dirinya. Nadia tak peduli, yang penting anaknya segera dibawa ke rumah sakit.
"Ayo, mas. Buruan bawa Arnold dan Abel ke rumah sakit" seru Nadia tanpa takut.
"Urus saja anak-anakmu itu. Jangan melibatkan aku" ketus Andre tak peduli kemudian malah masuk kedalam kamar mandi.
Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah baru Andre yang baru ia ketahui. Entah setan apa yang merasuki tubuhnya hingga sikapnya berubah seperti ini. Bahkan ia seperti tak mengenali suaminya itu.
"Dasar nggak punya hati. Aku yakin setelah ini kau akan menyesal karena memperlakukan ketiga anakmu seperti ini" seru Nadia kemudian menendang pintu kamar mandi dengan kerasnya.
Brakkk...
__ADS_1
Setelahnya Nadia segera pergi dari kamar milik Andre sambil terus mengumpati Andre. Nadia segera masuk kedalam kamar anaknya kemudian menggendong Arnold dan Abel secara bersamaan dibantu dengan Anara yang mengawasi dari belakang. Entah kekuatan darimana, namun Nadia tak merasakan berat sama sekali saat menggendong keduanya di depan dan belakang tubuhnya hanya dengan menggunakan sebuah selendang.