Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Aduan


__ADS_3

"Bunda..." teriak Arnold saat memasuki rumah keluarganya.


Setelah pamit pulang dari rumah Nilam, Arnold langsung saja kembali ke rumahnya. Ia berlari tergopoh-gopoh untuk menceritakan kejadian ini kepada bundanya. Bahkan dengan sekuat tenaga ia harus berlari pasalnya tubuhnya yang begitu gembul itu membuatnya kesusahan.


"Bunda ada di ruang keluarga sama adek Alan" teriak Nadia.


"Ciapppp.... Arnold meluncur" teriak bocah laki-laki itu.


Sahut-sahutan teriakan itu membuat suasana rumah yang tadinya sepi menjadi ramai dan heboh. Bahkan Mbok Imah yang berada di rumah itu merasa terkejut mendengar teriakan membahana dari sepasang anak dan ibu itu.


"Astaga, ini rumah atau hutan" gumam Mbok Imah dengan mengelus dadanya sabar.


***


"Bunda, Arnold mau kasih tahu berita penting" ucap Arnold yang langsung duduk disamping bundanya.


Bahkan kini wajahnya tampak serius dengan Alan yang juga langsung menghentikan acara bermainnya. Nadia memperhatikan anaknya yang kini terengah-engah seperti sudah berlari berpuluh-puluh kilometer saja.


"Ada apa, nak?" tanya Nadia dengan lembut.


"Bantu Arnold lapor ke komnas anak" ucap Arnold dengan nada seriusnya.


Nadia yang mendengar hal ini tentunya terkejut. Dia terlihat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya ini sehingga bisa berkaitan dengan salah satu lembaga tinggi itu.


"Maksud abang apa? Coba jelasin pelan-pelan sama bunda" ucap Nadia dengan lembutnya.

__ADS_1


"Gini bunda..."


Arnold menceritakan tentang nasib Nilam dan kakaknya yang selalu dimarah-marahin sama mama tirinya. Bahkan disuruh membersihkan rumah dan mencuci piring kotor setelah pulang sekolah. Sedangkan mama tirinya itu hanya duduk dan tak mau membantu.


Nadia yang mendengar penjelasan Arnold pun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Namun ia sangat menyayangkan sikap Arnold yang terlalu dewasa hingga harus menghadapi masalah-masalah seperti ini. Padahal masalah seperti ini adalah urusan orang dewasa.


"Biarlah itu menjadi urusan kami yang dewasa, nak. Kamu harusnya bisa tumbuh sesuai dengan usiamu, bermain dan belajar tanpa memikirkan masalah seperti ini. Tapi bunda janji akan bantu teman kamu" ucap Nadia dengan hati-hati.


Rasa keingintahuan Arnold pada masalah orang dewasa membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dengan anak sesusianya. Hal ini membuat Nadia khawatir jika anaknya itu tak bisa menikmati masa kanak-kanaknya dengan baik.


"Benar ya, bunda. Aku nggak ingin teman-temanku tersakiti oleh orang dewasa. Kita sebagai anak kecil juga punya hak untuk menyampaikan pendapat dan keluh kesah kan?" tanyanya pada sang bunda.


"Tentu, kamu bebas menyampaikan pendapat. Namun setelah menyampaikannya, biarkan orangtua yang menyelesaikannya. Bunda nggak ingin Arnold nanti malah yang jadi kena masalah karena terlalu ikut campur" ucap Nadia sambil mengelus rambut anaknya itu.


***


Ando dan ibunya sudah pulang dari rumah sakit, bahkan mereka langsung dibawa ke yayasan sosial oleh Mama Anisa hari ini. Ando sedikit sedih karena tak ada Arnold disana, namun Mama Anisa yang melihat hal itu tentunya paham dengan apa yang dirasakan oleh bocah laki-laki itu.


Ando yang sudah menceritakan tentang kehidupannya di kolong jembatan yang sama sekali tak punya teman pun sempat merasa bahagia karena Arnold menjadi sahabat pertamanya. Disana bahkan hanya anak-anak yang mau bermain dengan sesamalah yang akan dianggap sebagai teman, jika seperti Ando harus mengurus ibu dan bekerja tentunya akan sulit melakukan hal seperti itu.


"Arnoldnya lagi ada misi penting katanya jadi nggak bisa ikut menjemput kamu. Besok-besok pasti dia akan menyempatkan untuk menjenguk kamu" ucap Mama Anisa memberi pengertian.


Akhirnya Ando hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga paham kalau Arnold itu temannya bukan hanya dirinya saja, terlebih bocah cilik itu sangat baik hati. Pasti dia mempunyai teman yang sangat banyak. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Mama Anisa sampai didepan sebuah yayasan sosial.


Gedung mewah berlantai 3 dengan luas tanah mencapai 2 hektar ini memang didesaign oleh Mama Anisa dan teman-temannya untuk membangun sebuah yayasan sosial. Bukan hanya untuk para orangtua atau lansia saja, namun gedung itu bercampur dengan anak-anak yatim piatu.

__ADS_1


"Wah... Ini rumahnya besar sekali, bahkan lebih indah dari bawah kolong" ucap Ando begitu takjub.


Ibu Ando pun juga sama takjubnya dengan sang anak. Ketiganya pun turun dari mobil kemudian memasuki gedung berlantai tiga itu. Mereka disambut oleh beberapa pengurus yang langsung memberikan kamar pada keduanya. Sepasang ibu dan anak itu akan berpisah kamar agar bisa beradaptasi dengan teman atau lingkungan sekitar.


"Saya pamit dulu ya. Kalian berdua baik-baik disini" ucap Mama Anisa berpamitan setelah dirasa semuanya selesai.


"Sekali lagi terimakasih atas semua bantuannya" ucap Ibu Ando yang kemudian memeluk Mama Anisa dengan erat.


"Nenek, jangan lupa pesan sama Arnold untuk sesekali jenguk Ando disini ya" pesan Ando.


Mama Anisa menganggukkan kepalanya dan berjanji kalau ia akan menyuruh Arnold untuk sering-sering berkunjung kesini. Akhirnya Mama Anisa masuk kedalam mobilnya meninggalkan Ando dan ibunya yang terlihat menahan haru.


***


Saat Mama Anisa fokus melihat jalan, tiba-tiba pandangannya menatap sebuah mobil yang tak asing tengah terparkir di halaman parkir sebuah cafe. Mama Anisa melirik sebentar jam yang ada ditangannya, masih pukul 11 siang. Ia melihat lagi plat mobil itu yang ternyata adalah milik anaknya, Andre.


"Ngapain itu anak ada di cafe jam segini? Bukannya hari ini tak ada meeting di luar? Apalagi tadi Nadia akan datang ke kantor untuk bawain makan siang" gumam Mama Anisa bertanya-tanya.


Karena penasaran dengan apa yang dilakukan oleh anaknya, Mama Anisa memutuskan untuk putar balik kemudian melajukan mobilnya menuju ke cafe itu. Tak berapa lama, Mama Anisa sudah memarkirkan mobilnya disamping mobil milik anaknya.


Tanpa basa-basi, Mama Anisa segera turun dari mobil itu kemudian memasuki cafe. Didepan pintu, Mama Anisa mengedarkan pandangannya ke seluruh area dalam cafe tersebut. Terlihat Andre tengah duduk disana bersama seorang perempuan berpakaian formal.


"Apa Andre punya sekretaris baru? Kok dia nggak pernah cerita ya. Coba ah aku selidiki dulu" gumamnya.


Mama Anisa segera duduk dibelakang meja milik Andre. Ia berada didekat meja anaknya itu agar bisa mengetahui apa yang sedang dibicarakan keduanya. Ia tak mau jika kecurigaannya malah nanti akan membuat semuanya ribut sehingga dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih saat perempuan itu menatap Andre penuh minat padahal anaknya itu sedang fokus membaca sebuah proposal.

__ADS_1


__ADS_2