Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Restu


__ADS_3

Andre menunjuk kearah Nadia untuk memberitahukan bahwa mama baru yang ia maksud adalah babysitter ketiganya. Namun ketiga bocah kecil itu masih tak paham dengan kode yang diberikan oleh papanya. Ketiganya hanya menatap Nadia yang ditunjuk oleh Andre dengan tatapan bertanya.


"Kak Nadia yang akan menjadi mama baru untuk kalian bertiga" ucap Andre dengan tersenyum.


Ketiganya seketika terdiam dan menatap kearah kedua orang dewasa yang tengah gugup menanti jawaban. Biarpun nanti ketiganya belum merestui hubungan mereka, yang terpenting sudah mencoba untuk meminta restu.


"Setuju/ Uju..." seru ketiganya bersamaan.


Tanpa disangka ketiganya segera memeluk Nadia sambil menciumi pipinya. Nadia yang diperlakukan seperti itu pun hanya bisa tertawa geli. Andre yang melihat pemandangan itu merasa terharu karena ketiga anaknya mau dekat dengan gadis pilihannya.


Setelah merasa lelah, ketiga bocah kecil itu melepaskan Nadia yang nafasnya masih terengah-engah akibat ciuman pipi yang diberikan oleh mereka. Bahkan pipinya kini memerah dengan mata berair akibat banyak tertawa. Hal itu juga terjadi pada ketiga anak kecil itu. Akhirnya semuanya duduk sendiri-sendiri kemudian meminum minuman yang sudah tersedia disana.


"Jadi kak Nadia akan tinggal di rumah ini? Kita bisa main dan tidur bersama. Bisa diantar dan ditunggu sekolah setiap hari" ucap Anara.


"Iya, Kak Nadia akan tinggal disini kalau papa sudah menikah dengannya. Kalian bisa main ditemani sama Mama Nadia, bahkan sekolahpun juga" ucap Andre.


"Kalau untuk tidur bersama, ya itu jatah bapaknya dong" lanjutnya dengan berbisik di telinga Nadia.


"Awwww... Sakit"


Andre terpekik kesakitan saat Nadia mencubit kecil perutnya. Nadia begitu kesal saat Andre suka berbicara seenaknya apalagi ini masih ada anak kecil. Nadia mengedikkan bahunya acuh tak acuh melihat Andre masih kesakitan.


"Horeeeee..."


Ketiganya berseru dengan senang akhirnya apa yang mereka impikan akan segera terwujud. Kedua orangtua yang lengkap dan saling menyayangi sebentar lagi akan mereka rasakan. Terutama bagi Abel yang masih diliputi trauma dan rasa takut, itu adalah PR besar untuk Nadia.

__ADS_1


"Berarti kita bisa panggil kak Nadia dengan mama dong" ucap Anara dengan antusias.


"Bunda aja ya, Nara. Kak Nadia lebih suka dipanggil bunda atau ibu" ucap Nadia sambil tersenyum.


Ketiganya mengangguk menyetujui ucapan Nadia dengan semangat, terutama Abel yang sedari tadi selalu murung jika ada yang menyebut kata mama. Sebenarnya Nadia meminta dipanggil bunda atau ibu itu ada alasannya yaitu agar Abel tak terus menerus mengingat seseorang yang dipanggil mama yang dulunya sering memukul dan membentaknya. Beruntung, Abel sepertinya nyaman dengan panggilan baru itu. Bahkan kini matanya terlihat berbinar dengan senyuman lebar yang terpatri dari bibirnya.


***


Setelah berhasil mendapatkan restu dari ketiga anak Andre, keduanya segera memberitahukan hal ini kepada Mama Anisa dan Papa Reza. Tentunya juga untuk meminta restu kepada keduanya.


"Ma, pa... Ada yang ingin Andre bicarakan" ucap Andre dengan gugup.


"Ada apa, Ndre? Kok gugup gitu" tanya Papa Reza.


"Hmm... Kami berdua mau meminta ijin untuk menikah" ucap Andre.


"Katanya nggak mau buru-buru nikah? Masalah dengan keluarga Aneta belum selesai, lalu kesehatan Abel?" tanya Mama Anisa.


"Justru dengan Andre menikah, ada yang semakin intens menjaga ketiga anak Andre dari Aneta dan keluarganya. Mental Abel pun perlahan sudah membaik, bahkan kami sudah meminta ijin untuk mempunyai mama baru dirumah ini kepada anak-anak Andre. Dan mereka setuju, namun ketiganya akan memanggil Nadia dengan sebutan Bunda" jelas Andre.


Mama Anisa dan Papa Reza terdiam setelah mendengar ucapan Andre. Mereka berdua memikirkan tentang Abel, namun melihat pancaran ketulusan dari mata Nadia membuat keduanya akhirnya menganggukkan kepala setuju.


"Kalau kalian memang sudah yakin, kami merestuinya. Niatkan hati kalian kalau menikahnya kali ini memang untuk ibadah dan demi ketiga cucu mama" ucap Mama Anisa.


Andre dan Nadia merasa lega saat Mama Anisa dan Papa Reza merestui keputusan mereka untuk menikah. Setelahnya mereka membahas kapan akan diadakannya acara lamaran sekaligus penentuan tanggal terjadinya pernikahan.

__ADS_1


***


Nadia pulang dengan hati gembira saat sudah menentukan tanggal diadakannya lamaran. Andre dan kedua orangtuanya akan datang melamar Nadia satu minggu lagi.


Nadia masuk kedalam rumahnya setelah mengucap salam dan terlihatlah kedua orangtuanya tengah bercengkerama didepan TV. Nadia segera menyalami keduanya kemudian memberitahukan tentang kejadian hari ini.


"Yah, Bu... Minggu depan, Andre dan kedua orangtuanya akan datang kesini. Mereka akan melamar Nadia sebagai calon istri Andre" ucap Nadia to the point.


Kedua orangtua Nadia segera saja mengalihkan pandangannya kearah anaknya yang terlihat berbinar-binar matanya.


"Kok cepet? Bukannya kamu sama si Andre itu pacaran belum lama ya? Kamu nggak hamidun kan, Nad?" tanya Ibu Ratmi dengan heboh.


"Omongannya, bu. Ya masa anak kita hamidun sebelum nikah" tegur Ayah Deno.


"Ya bisa aja kan, yah. Mereka setiap hari ketemu, terus Nadia sering ada dirumah Andre. Mana tahu nabung duluan" ucap Ibu Ratmi.


Nadia yang melihat perdebatan kedua orangtuanya hanya bisa menepuk dahinya pelan. Bukannya ditanya mau bagaimana acara lamarannya, ini malah sibuk bahas hamidun.


"Nadia nggak hamidun, kami murni mau menikah karena memang sudah saling cocok" kesal Nadia.


Kedua orangtua Nadia pun seketika berhenti berdebat saat mendengar ucapan anaknya. Keduanya segera membahas tentang beberapa persiapan acara lamaran yang akan diadakan minggu depan. Sepertinya mereka akan membahasnya lagi keesokan harinya dengan Nenek Darmi karena bagi mereka, wanita tua itu sudah menjadi orangtua sekaligus nenek bagi semuanya.


"Nadia, kami merestui hubungan kalian. Jika kalian menikah nanti, tolong jaga harkat dan martabat suamimu. Jika dia melakukan kesalahan, jangan diumbar ke orang lain namun selesaikanlah dengan baik-baik. Kamu sebagai seorang wanita juga akan menjadi ibu sambung bagi ketiga anak Andre, perlakukanlah mereka sebagai anak kandungmu. Jangan sakiti fisik dan batinnya. Hanya do'a yang bisa kami berikan untuk kelancaran acara dan keutuhan rumah tanggamu kelak" pesan Ayah Deno.


Nadia segera memeluk kedua orangtuanya yang sudah lebih banyak berubah setelah dirinya kabur. Mereka tak lagi menekan dan menuntut Nadia sesuai dengan keinginan keduanya. Nadia sangat bersyukur akan hal itu.

__ADS_1


"Besok kita bicarakan hal ini dengan Nenek Darmi juga, pasti beliau bahagia" ucap Ibu Ratmi.


Setelah membicarakan tentang acara lamaran, Nadia segera masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri dan istirahat.


__ADS_2