
Andre menghiraukan orangtua Fikri yang berada disana. Bahkan Andre masih tak habis pikir dengan kedua orangtua Fikri disaat kondisi seperti ini masih saja cekcok. Lagi pula ini juga di rumah sakit namun mereka walaupun duduk bersama dan berdua tetap saja masih terdengar dalam telinga Andre kalau keduanya sedang adu debat.
"Kalian ini bisa diam tidak? Ini rumah sakit, bukan hutan yang bisa kalian jadikan tempat untuk war" murka Andre.
Andre yang khawatir dengan kondisi Fikri malah dibuat pusing dengan debat kedua orangtua bocah laki-laki itu. Harusnya mereka berpikir mengurus administrasi atau bagaimana, bukan malah debat seperti ini. Keduanya terdiam setelah melihat wajah Andre yang terlihat marah bahkan menatap tajam mereka.
Saat Andre akan meluapkan kalimat-kalimat ajaibnya kembali, ternyata dokter dan dua orang perawat keluar dari ruang IGD. Ketiganya segera saja menghadap pada dokter yang kini tampak lelah karena sudah bergulat dengan alat medis hampir dua jam malam-malam begini.
"Bagaimana keadaan Fikri, dok?" tanya Andre mewakili kedua orangtua bocah laki-laki itu.
"Kondisinya bisa dibilang baik dan buruk, tuan. Pendarahan pada kepalanya sudah berhenti, beruntung karena cepat dibawa ke rumah sakit. Hanya saja untuk kakinya, ada sedikit keretakan pada tulangnya. Mungkin ini efek dari jatuhnya atau terkena benda keras" ucap dokter itu.
"Kalau boleh tahu sebenarnya apa yang terjadi?" lanjutnya dengan bertanya.
Andre terdiam karena memang tak tahu apa penyebab dari Fikri bisa begini. Pasalnya tadi saat ia datang kondisinya memang sudah tergeletak dibawah tangga. Andre hanya bisa menyimpulkan kalau Fikri jatuh dari tangga.
"Anak saya tadi jatuh dari tangga, dok. Dia berlarian saat turun dari tangga, mungkin karena terpleset hingga bisa jatuh" ucap wanita dewasa yang tak lain adalah Mama Fikri.
Dokter itu menganggukkan kepalanya mengerti. Memang sedari awal ia sudah menduganya jika penyebab ini adalah jatub dari tangga. Dokter dan perawat itu segera pergi setelah pamit dan memberitahukan kepada pihak keluarga untuk mengurus administrasi juga memindahkan ruang rawat Fikri.
__ADS_1
"Bayar sana, mas" titah Mama Fikri pada suaminya.
"Mana sini ATM mu" ucap Papa Fikri dengan menengadahkan tangannya dihadapan sang istri.
Mama Fikri menatap tak percaya kearah sang suami. Keduanya sama-sama bekerja namun pada faktanya mereka begitu perhitungan dalam mengeluarkan uang. Untuk jatah rumah tangga dan Fikri saja mereka harus berdiskusi hingga memutuskan jika keduanya memberikan dalam jumlah yang sama.
"Enak saja, pakai uangmu lah. Kan dia anakmu" sentak Mama Fikri tak terima.
"Dia anak kita berdua. Kalau begitu kita harus bagi dua semua pengeluarannya selama di rumah sakit ini. Oh ya jangan lupa, kita harus meminta dokter agar mengeluarkannya dari perawatan rumah sakit tak boleh lebih dari tiga hari" ucap Papa Fikri.
Mendengar ucapan suaminya itu pun membuat Mama Fikri akhirnya dengan pasrah menyetujuinya. Andre yang mendengar perdebatan dua orang dihadapannya ini benar-benar muak. Ia tak menyangka jika ada orangtua yang pelit dengan anaknya sendiri.
Dia yang kini sudah menjadi orangtua saja akan rela melakukan apapun demi kesembuhan anaknya walaupun harus menjual semua asetnya. Namun orangtua dihadapannya ini sungguh luar biasa bagi Andre apalagi sampai memaksa dokter agar dipercepat proses perawatannya.
"Kalau memang kalian tak sanggup membiayai Fikri dengan normal, saya yang akan menanggung semua biayanya sampai dia bisa sembuh seperti sedia kala" lanjutnya.
Setelah mengucapkan hal itu, Andre segera saja meminta pada perawat yang akan memasuki ruang IGD untuk memasukkan Fikri ke ruang VVIP. Setelah meminta tolong pada perawat itu, Andre segera pergi berlalu dari hadapan orang-orang yang tak punya hati itu untuk mengurus semua administrasi rumah sakit milik Fikri. Ia tak peduli jika nanti harus menggelontorkan banyak uang demi teman anaknya itu.
Sedangkan kedua orangtua Fikri masih menatap Andre yang menjauh dai keduanya dengan tatapan tak percayanya. Pasalnya mereka walaupun orang kaya namun sangat perhitungan mengeluarkan uang walaupun untuk keperluan keluarganya sendiri. Sedangkan ini Andre yang tak ada hubungan keluarga dengan mereka malah memasukkan Fikri ke ruang rawat inap VVIP.
__ADS_1
"Kebaikan apa yang dilakukan oleh Fikri hingga laki-laki itu mau memberikan perawatan terbaik untuk kesehatannya?" tanya Papa Fikri pada dirinya sendiri.
Keduanya akhirnya memilih untuk berjalan mengikuti brankar Fikri yang dibawa oleh beberapa perawat. Keduanya masih terdiam dengan pikirannya masing-masing yang entah berada dimana. Pasalnya keduanya masih tak percaya dengan Andre dan malah berpikiran buruk kalau laki-laki itu akan kabur dari rumah sakit dengan alasan mengurus administrasi.
***
"Pa, jangan-jangan dia kabur lagi. Cuma alasan aja buat bayar administrasi Fikri" panik Mama Fikri.
Pasalnya sudah setengah jam berlalu semenjak Fikri dipindahkan ke ruang rawat inap, Andre sama sekali tak menampakkan batang hidungnya. Hal ini membuat mereka khawatir kalau Andre benar-benar kabur dan keduanya harus menanggung semua biaya perawatannya.
"Kalau sampai dia kabur beneran, kita laporkan saja dia ke pihak kepolisian karena tak bertanggungjawab pada ucapannya" ucap Papa Fikri.
Mama Fikri sedikit tak percaya kepada sang suami pasalnya mereka tak punya bukti tentang percakapan jika Andre adalah yang bertanggungjawab tentang kejadian ini. Pasti polisi juga akan mempertanyakan dimana tanggungjawab dari orangtua kandungnya sendiri. Disaat keduanya tengah pusing memikirkan hal itu, tiba-tiba saja pintu ruang rawat Fikri terbuka.
Terlihat Andre berjalan masuk kedalam ruang rawat inap itu sambil membawa beberapa buah dan paper bag. Andre tadi memang meminta sopir keluarganya mengantarkan pakaian ganti untuknya karena malam ini akan menginap di rumah sakit. Istri dan orangtuanya pun mendukung apa yang dilakukan oleh Andre.
Diam-diam kedua orangtua Fikri menghela nafasnya lega karena melihat Andre kembali. Itu artinya mereka takkan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membiayai Fikri.
"Cieee... Ada yang takut kalau saya kabur dan suruh bayar biaya rumah sakit yang mahallll. Nggak mampu ya?" ucap Andre yang sudah mirip sebuah sindiran.
__ADS_1
Andre bukannya tak tahu tentang gerak-gerak mereka, hanya saja dia lebih memilih menikmati perubahan raut wajah keduanya. Pasalnya saat masuk tadi wajah keduanya tampak tegak dan panik namun ketika melihatnya langsung terlihat sumringah.
Kedua orangtua Fikri yang mendengar ucapan Andre tentunya merasa tersindir dan tersinggung. Mereka seperti tak terima jika dikatakan tak mampu membiayai biaya rumah sakit pasalnya keduanya sedang berhemat.