Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_1


__ADS_3

Menikah karena dijodohkan memang sangat sulit untuk diterima, apa lagi dengan orang yang sama sekali belum dikenal, jangankan kenal, bertemu saja belum pernah.


Itulah yang terjadi antara Rafael Reifansyah dan Kaysila Arzetty.


Mereka menikah karena perjodohan kedua orang tuanya agar mempererat hubungan dua keluarga ini.


Takdir yang harus Rafael dan Kaysila terima.


Dan jangan pernah menyalahkan takdir, jika kita menjalani hidup dengan orang yang mungkin sangat kita benci, karena takdir setiap orang sudah digariskan oleh sang pencipta.


Hari ini adalah hari di mana Sila dan Rafael akan menikah, mereka akan melaksanakan sebuah ikatan janji suci, di mana keduanya akan hidup dalam kehidupan rumah tangga.


Menikah dengan orang yang sama sekali tidak dikenal memang sulit untuk diterima, tapi keduanya sama akan menerima takdir yang telah ditentukan.


Kini Sila sudah siap dengan gaun pengantin berwarna putih, riasan wajah yang sederhana, menambah aura cantik tersendiri.


Sila masih berdiri mematung di depan cermin, entah apa yang kini dia rasakan, bahagia atau mungkin sebaliknya.


"Sekarang aku akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal, apa lagi cinta," ucap Sila sembari menatap dirinya didepan cermin.


Sementara itu, di luar acara ijab qobul akan segera dimulai.


Para tamu undangan sudah memenuhi kediaman keluarga besar Kaysila.


Terdengar ijab qobul telah memulai, dan hanya beberapa menit, kata SAH terdengar menggelegar di telinga Sila.


Sila yang mendengar dari dalam, hanya bisa terdiam, namun tiba-tiba hatinya terasa terenyuh mendengar itu semua.


Selang beberapa menit Marisa Ibunda Sila datang, beliau menjemput putrinya untuk menuntunku turun ke bawah.


Senyum tak pernah pudar dari wajah wanita itu. Tapi berbeda dengan Sila, ia tersenyum dengan keterpaksaan.


"Sayang ayo keluar, nak Rafael dan para tamu undangan sudah menunggumu di sana," ajak Ibundanya dengan lembut.


"I-iya ma," jawabnya gugup. Sila segera menormalkan keadaan hati dan pikirannya.


"Sayang kamu cantik banget, pasti mereka akan pangling sama anak mama ini," puji Ibunda Sila yang takjub akan kecantikan putrinya itu.


Sila hanya tersenyum kecil, setelah itu Marisa membantu putrinya untuk berjalan menuruni anak tangga.


Semua mata terpanah melihat kecantikan Sila.


Ia pun menjadi gugup, jantung Sila berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Sila sekarang kamu sudah sah menjadi istri nak Rafael, sekarang kamu cium tangan suamimu ya," pinta Marisa pada putrinya dengan lembut.


Sila sangat gugup, tapi sebisa mungkin ia aku mencoba untuk menormalkan keadaan, tangannya gemetar saat akan meraih tangan pria yang ada di hadapannya saat ini.


Setelah berhasil meraihnya, Sila mulai menundukkan kepalanya dan mencium punggung tangan pria yang sudah sah menjadi suaminya.


"Nah, sekarang giliran nak Rafael yang mencium kening Sila, ayo," pinta Marisa lagi.


Dengan menatap lekat ke arah Sila, Rafael mulai meraih kepala gadis itu, lalu mencium keningnya dengan sangat lembut.

__ADS_1


Para tamu undangan bertepuk tangan dengan sangat meriah, setelah itu, Rafael dan Sila berdiri berjejer untuk menyalami para tamu undangan yang hadir.


***


Hampir seharian penuh Sila dan Rafael berdiri di atas pelaminan.


Rasa capek dan juga pegal telah menyusuri persendian Sila dan pastinya Rafael juga.


"Kak, Sila capek nih," rengek Sila seraya menatap lelaki yang berdiri di sampingnya itu.


"Udah diem, emang kamu doang yang capek, aku juga capek," jawabnya tanpa melirik ke arah Kaysila.


Sila hanya mendengus kesal.


Gadis itu tak habis pikir, kenapa orang tuanya menjodohkan dirinya dengan pria aneh seperti dia, Sila akui, Rafael memang tampan, tapi sikapnya yang seperti itu, bikin enek, dan membuatnya merasa jengkel.


Pukul 8 malam acara telah selesai, Sila yang merasa sudah sangat capek bergegas naik ke atas menuju ke kamar.


Sila berjalan dengan mengangkat bagian bawah gaunnya ke atas,agar mempermudah langkah kakinya.


Setibanya di kamar, Kaysila langsung mengganti pakaiannya, dan tanpa membersihkan diri dulu, gadis itu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Hah, akhirnya selesai juga, rasanya capek banget," ucapnya, seraya merentangkan kedua tangannya.


Saat Sila akan memejamkan mata, tiba-tiba ia mendengar suara derit pintu, dan ternyata pria itu yang masuk, yang tak lain adalah suaminya sendiri.


Rafael berjalan menuju ke arah koper yang terletak di samping almari, terlihat dia tengah mengambil baju ganti dan handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak ada percakapan antara mereka berdua, hanya keheningan yang ada, keduanya sama-sama merasa canggung, dan sampai akhirnya, Rafael buka suara.


"Kamu belum tidur?" tanya Rafael. Tapi matanya fokus pada benda pipih yang ia pegang.


"I-ini mau tidur," jawab Sila sangat gugup.


Sila pun segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dia terlihat tengah sibuk dengan benda pipih yang dipegangnya.


Entah apa yang tengah dia lakukan.


"Kakak nggak tidur?" Sila pun memberikan diri untuk bertanya.


Dia melirik Sila sesaat, lalu kembali fokus dengan benda yang dipegangnya. Entah apa yang tengah Rafael lakukan.


Rasa penasaran pasti merasuki pikiran Sila.


"Nanti." Jawabnya, sangat singkat, padat, jelas, dan sangat irit.


"Astagfirullah, baru kali ini aku ketemu sama orang model kayak dia, irit banget ngomongnya," gumam Sila dalam hati.


Setelah itu, Kaysila memutuskan untuk tidur, lagi pula besok ia harus ngampus, jangan sampai terlambat, dan jangan tanyakan masalah malam pertama.


***


Keesokan harinya, Sila terbangun, perlahan ia membuka kelopak mataku, dan setelah terbuka sempurna, Sila sangat terkejut saat mendapati pria itu tertidur di sofa, dengan masih memegang benda pipih itu.

__ADS_1


"Astagfirullah, bisa-bisanya dia tidur dengan posisi seperti itu, emang nggak capek apa," ucapnya. Matanya tertuju pada Rafael yang tertidur di sofa.


Setelah itu, Sila menyibak selimutnya dan ia pun beranjak bangun, dan sebelum Sila mandi, ia akan membangunkan Rafael terlebih dahulu.


"Kak, bangun udah siang," ucap Sila. Tangannya mengguncangkan tubuh Rafael.


Perlahan Rafael membuka matanya, setelah terbuka sempurna, pria itu pun duduk.


Lalu Sila bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Setelah Sila masuk ke kamar mandi, Rafael bergegas bangun dari tidurnya dan langsung mengambil handuk.


20 menit kemudian, Sila keluar dari kamar mandi, dan sekarang giliran Rafael yang masuk.


30 menit berlalu, dan sekarang keduanya sudah siap untuk pergi, Rafael sudah siap dengan baju kerjannya, sedangkan Sila sudah siap untuk berangkat ke kampus.


Namun saat Sila sedang membereskan buku-bukunya, ia baru ingat jika tugas kuliahnya belum dikerjakan, seketika Sila tersentak.


"Astagfirullah, tugas kuliahku," pekik Sila.


"Ada apa Sil?" tanya Rafael.


"Aku lupa nggak ngerjain tugas kuliah aku, semalam aku capek banget jadi kelupaan," keluh Sila, dengan wajah yang terlihat lesu.


Rafael menghela nafas panjang, lalu ia mendekati istri kecilnya itu.


"Sini aku lihat," ucap Rafael, lalu mengambil alih tugas yang Sila pegang.


Rafael pun duduk di samping Sila, dan tanpa meminta izin, Rafael mulai mengerjakan tugas kuliah istrinya itu.


"Aku boleh minta tolong nggak," kata Rafael, sembari terus tetap fokus mengerjakan tugas.


"Minta tolong apa Kak?" tanya Sila.


"Tolong buatkan aku teh manis ya," pinta Rafael.


"Oh, iya Kak, sebentar ya," jawab Sila, lalu beranjak menuju ke dapur.


10 menit kemudian Sila kembali ke kamar, dan saat itu juga, tugas yang menurut Sila akan membutuhkan waktu lama dalam mengerjakannya, sudah selesai, dan bukunya pun sudah tertata rapi.


***


Sila membuka pintu kamarnya, lalu ia berjalan menghampiri suaminya, dan meletakkan secangkir teh manis di meja dekat sofa, di mana Rafael tengah duduk.


"Ini Kak tehnya," ucapnya sesopan mungkin.


"Terima kasih," jawabnya, lalu meraih gagang cangkir yang baru saja Sila letakkan.


Tanpa menunggu lama, Rafael mulai menyeruput teh buatan istrinya, tapi detik itu juga, teh yang baru saja masuk ke mulutnya, dengan cepat ia semburkan, byuuurrr.


Seketika Sila terlonjak kaget, ada apakah gerangan, apa yang salah dengan teh yang ia buat, apakah terlalu manis, padahal Sila tidak menambahkan gula terlalu banyak, karena memandang wajahnya saja sudah manis, atau mungkin.

__ADS_1


__ADS_2