Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 244 (Mengalah)


__ADS_3

Yudi dan Rahma berhenti sejenak di depan pintu kamar Andri dan Beeve.


“Mereka kenapa bu?” sapa Yudi pada istrinya.


“Ibu enggak tahulah yah, kan kita sama-sama dari luar, gimana sih,” sahut Rahma.


“Iya Juga, mudah-mudahan saja mereka cuma cekcok biasa,” ucap Yudi.


“Aamiin, apa kita tanya langsung yah?”


“Jangan bu, sudah malam, kalau mereka enggak cerita langsung, biarkan saja,” ujar Yudi.


“Ya sudah kalau begitu.” Yudi dan Rahma pun bergegas menuju kamar mereka.


Sementara di dalam kamar, teriakan Andri membuat mata Beeve berkaca-kaca.


“Aku enggak suka jika kau mengulangi kata-kata yang sama, Allah juga enggak suka itu, dewasalah Bee, kau itu sebentar lagi akan menjadi ibu dari 4 anak, memangnya kalau kita pisah kau bisa urus mereka sendirian?”


“Ini semua karena mu mas! Kalau kau baik di luaran sana, pasti aku enggak begini!” pekik Beeve.


“Aku itu selalu lurus Bee! Masalah yang selalu menghampiri ku, aku enggak pernah sekali pun ada niat main gila, kau tahu itu!”


“Alah! Memangnya dengan Arinda dulu apa?!” Beeve kembali mengingatkan tentang masa lalu mereka.


“Hem! Jangan di bahas masa lalu lagi. Pokoknya, kalau kau sampai macam-macam awas saja ya! Jika kekeh mau kabur-kaburan, keluarkan dulu anak-anak ku, aku bisa kok urus mereka berempat, pergi sejauh apa yang kau mau, aku enggak perduli, asal anak ku bersama ku!” Andri yang lelah dan tak ingin berdebat lagi, memilih untuk tidur di kamarnya, yang berada di lantai 2.


Beeve yang di tinggal tidur sendiri malah semakin makin sedih.


“Kok aku di tinggal? Yang salahkan mas Andri, bukan aku? Hiks...” perlahan air matanya pun mengalir deras.


Andri yang telah tiba di kamarnya tanpa sengaja bertemu Emir yang baru keluar dari kamar.


“Hei, ngapain kau kemari?” tanya Emir, sebab setahunya Andri tidur di lantai 1.


“Bukan urusan mu!” pekik Andri.


“Ya Tuhan! Orang tanya baik-baik juga!”


“Ssstt! aku mau masuk, cape!” ketika Andri ingin masuk ke kamarnya, Emir menahan bahunya.


“Turun sekarang!” titah Emir dengan wajah serius.

__ADS_1


“Apa-apaan kau! Terserah aku mau tidur dimana!” Andri melepas tangan Emir dari bahunya.


“Turun, temani istri mu, dia pasti sedih kau tinggal dalam keadaan bertengkar!” Emir yang penciumannya tajam, tahu betul Jika Andri dan Beeve tak baik-baik saja.


“Kita enggak ada apa-apa, sok tahu banget kau!”


“Ya Tuhan Andri, kalau enggak ada apa-apa, mana mungkin kau pisah ranjang dengannya, kau juga bukan tipe yang suka marah-marah, ayo-ayo cepat turun!” Emir menarik tangan Andri menuju tangga.


“Emir... kita sudah masing-masing sekarang, jadi jangan urusi urusan ku, tolong! Ini privasi keluarga ku, kau jangan terlalu ikut campur!” wajah tegang Andri membuat Emir menelan salivanya.


“Ya sudah kalau begitu, paling kau sendiri yang repot, kalau enggak turun sekarang.” berkat Helena, Emir jadi tahu bagaimana manjanya sifat seorang wanita.


“Berisik!” ucap Andri seraya masuk ke dalam kamarnya.


Emir juga masuk kembali ke dalam kamarnya, Helena yang masih dalam selimut tanpa busana pun bertanya pada suaminya.


“Tadi abang bicara dengan bang Andri ya?”


“Iya dek,” jawab Emir.


“Ngapain dia ke lantai 2? Kamar mereka di lantai 1 kan bang?” ujar Helena.


“Kurang tahu dek, sudah ah, enggak usah urus dapur orang lain.” ucap Emir yang tak ingin bergosip.


“Astaga dek, mulut mu itu loh, aku saja yang baru bicara dengannya enggak tahu apa yang terjadi, kenapa kau malah membuat cerita palsu begini?” ujar Andri seraya duduk.ke atas ranjang.


“Kalau bukan apa lagi bang? Buktinya dulu bang Andri pernah poligami kak Beeve, kalau sudah pernah nakal sekali, akan terung kembali bang, kasihan kak Beeve, pada hal lagi hamil anak bang Andri, hem...” Helena geleng-geleng kepala akan sikap iparnya.


“Helena!”


“Iya bang?” sahut Helena.


“Kau sebenarnya di ajar tata kerama enggak oleh kedua orang tua mu?”


“Tentu saja bang,” jawab Helena.


“Kalau begitu kau pasti tahu dong, membicarakan orang lain tanpa fakta yang jelas itu dosa dan enggak sopan? Terlebih itu kakak ipar mu, beraninya kau malah menjelekkan saudara ku pada ku sendiri, kau benar-benar sesuatu ya, enggak ada kapoknya!”


“Maaf bang, kalau aku salah.” Helena merasa takut akan Emir yang marah padanya.


“Setiap hari kau harus di nasehati, tapi habis itu di ulang lagi, jangan sampai aku cape!” pekik Emir.

__ADS_1


“I-iya bang, maafkan aku.” Helena pun bangkit dari tidurnya, kemudian memeluk tubuh Emir.


“Sekali lagi kau berbuat salah, kita puasa selama 2 bulan!” Emir mengancam takkan memberi nafkah batin pada istrinya jika sikap jilid istrinya terulang.


“Ya ampun abang, jangan itu juga kali!”


“Enggak mau tahu! Pokoknya, kalau mulut mu enggak bisa di rem! Hum... rasakan akibatnya!” setelah itu, Emir pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang, yang di ikuti oleh Helena.


Aku yakin, pasti dia akan melakukan kesalahan lagi, biar saja, mana tahu lama tak berhubungan, dia langsung hamil, batin Emir.


Kejam kau bang! Ancaman mu begitu menusuk hatiku! batin Helena.


Beeve yang ada di kamarnya menangis, perasaannya jauh lebih sensitif dari biasanya.


“Mas Andri kemana sih? Kenapa belum kembali juga? Apa aku keterlaluan ya?” gumam Beeve.


Ia pun mengingat-ingat kembali kata-kata kasarnya pada sang suami.


“Iya sih, pas dulu mas Andri bilang cerai pada ku, sakitnya memang tiada dua, hiks... ya Allah, kok aku jadi pemarah dan cemburuan enggak jelas gini sih, pada hal enggak ada bukti, kalau mas Andri selingkuh, tapi aku terus menyudutkannya.” ternyata setelah emosinya mereda, Beeve baru bisa berpikir dengan jernih.


“Mas... kau ada dimana... sudah jam 00:00 belum kembali juga.” Beeve tak bisa tidur karena khawatir dengan suaminya.


Sementara Andri di dalam kamarnya terus memikirkan pertengkarannya dengan Beeve.


“Kenapa dia harus securiga itu pada ku? Pakai ungkit masa lalu lagi, aku ini bukan gila wanita! Yang paling bikin kesal minta-minta cerai! Dia pikir hubungan kami ini apa!” Andri yang suntuk menuju balkon kamarnya, kemudian ia pun duduk di atas sofa dan menyalakan sebatang rokok untuk menenangkan hatinya.


Setelah satu batang rokok habis ia hisap, pikirannya pun mulai jernih.


Ya Tuhan... kenapa aku harus meninggalkannya dalam keadaan marah? Sebelumnyakan dia enggak begini, mungkin saja ini efek hamil, haah!! Bee... Bee... cemburu mu bikin aku repot saja!” ia yang telah sadar memutuskan untuk kembali ke istrinya.


Ceklek! Sesampainya Andri ke kamar, ia melihat istrinya duduk tegap di pinggir ranjang, sambil sesekali menyeka wajah cantiknya yang basah akan air mata.


Sudah berapa lama dia menangis? batin Andri.


Andri pun menutup pintu kamar kembali, “Hem.. hem!” Andri mendehem, lalu duduk di sebelah istrinya.


“Hei mama, kenapa menangis tengah malam begini?” Andri mencolek pinggang istrinya. Namun Beeve malah memutar tubuhnya membelakangi Andri.


“Mama! Mama kembar! Jangan nangis lagi mama!” Andri memeluk tubuh Beeve dari belakang.


“Jangan sentuh aku!” pekik Beeve.

__ADS_1


“Ih! Percaya diri banget, aku aku kan lagi memeluk anak-anak ku.” tangan jenjang Andri pun mengelus perut besar Beeve.


...Bersambung......


__ADS_2