
Pada pagi harinya, setelah selesai mandi, Beeve yang ingin pergi bekerja pun segera bersiap-siap. Ia melihat Andri di atas ranjang masih tertidur lelap.
Beeve yang telah selesai berpakaian pun mengelus kepala Andri sebelum ia berangkat.
Beeve pun keluar dari dalam kamar, kebetulan Emir juga baru keluar dari dalam kamarnya.
“Kau mau berangkat?” tanya Emir yang telah rapi dengan pakaian formal kerjanya.
“Iya mas, kau juga?” tanya Beeve kembali.
“Iya, ayo ku antar.” Emir yang ingin berduaan dengan Beeve pun mencari alasan agar bisa bersama.
“Oke mas.” Beeve yang setuju pun membuat Emir kegirangan.
Sesampainya mereka di lantai satu, Emir membelok ke arah ruang makan.
“Mas, masih mau sarapan?”
“Iya, kita sarapan dulukan baru berangkat?” ucap Emir.
“Oh, kalau begitu aku duluan ya mas, karena sudah terlambat banget nih!” Beeve yang buru-buru pun berjalan terlebih dahulu.
“Loh, kalau gitu aku sarapan di kantor saja!” Emir yang tak ingin di tinggal pun memutuskan untuk tak sarapan di rumah, pada hal sarapan adalah ritual wajib bagi keluarga Han tiap pagi sebelum bekerja.
“Ya ampun mas, harusnya kau makan dulu kalau memang lapar,” ujar Beeve.
“Habis kau tinggalkan aku, jadi bagaimana bisa aku sarapan dulu?!” Beeve tersenyum karena Emir begitu lucu dimatanya. Akhirnya keduanya berangkat bersama.
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 20 menit, akhirnya mereka tiba juga di restoran milik Beeve.
Emir melihat dengan seksama, restoran yang menurutnya lumayan besar.
“Wah! Kau hebat juga Bee.”
“Hebat gimana mas?”
“Restoran mu besar juga, kena modal berapa kesini?” tanya Emir penasaran.
“Ini enggak di jual,” ucap Beeve.
“Astaga Bee, aku hanya bertanya loh.”
“Buat apa tanya-tanya?”
“Aku ingin kasih kau modal tambahan,” ujar Emir.
“Hahaha, makasih banyak mas.” Beeve pun mulai keluar dari mobil Emir, yang kemudian di susul oleh Emir juga.
“Mas, ini sudah jam 07:30, kau mau ngapain ikut turun?”
“Aku mau makanlah.” Emir yang ingin mencicipi masakan di restoran Beeve pun memutuskan untuk singgah.
“Ck, astaga! Benar-benar atasan yang buruk,” gumam Beeve.
keduanya pun masuk ke dalam restoran, para karyawan yang melihat kehadiran Beeve pun menyapa dengan hormat, seraya berbisik-bisik.
__ADS_1
“Selamat pagi bu,” ucap para karyawati Beeve.
“Pagi semuanya, bagaimana pagi ini? Semua bersemangat?!” seru Beeve.
“Siap semangat bu!” sahut para karyawati.
“Hei Bee, kenapa mau di panggil dengan sebutan ibu sih?” bisik Emir.
“Memangnya kenapa mas?” tanya Beeve.
“Terkesan tua tahu, lebih baik kau di panggil kakak, atau lady, biar lebih elegan,” ujar Emir.
“Ih, banyak gaya deh!” pekik Beeve.
“Ya sudah kalau begitu, di kasih saran bagus malah enggak terima.”
“Jangan banyak omong mas, kau mau makan apa? Biar di siapkan koki?” tanya Beeve.
“Sabu-sabu!”
“Bubur?”
“Iya, aku mau makan bubur,” pinta Emir.
“Ya sudah kalau begitu, Laura!” Beeve memanggil salah satu pramusajinya.
“Iya bu?” sahut sang pramusaji.
“Tolong siapkan 1 mangkuk bubur untuk kakak ini.” ujar Beeve, yang membuat Emir langsung menoleh ke arah Beeve.
“Bee, apa-apaan itu? Jangan kakak juga dong!” Emir merasa risih di panggil kakak.
“Kalau kau yang panggil sih ku maklumi, ku anggap panggilan rasa sayang mu pada ku,” ucap Emir.
“Pfft... jangan mulai lagi deh mas! Geli tahu!” Beeve mengarahkan Emir untuk duduk di salah satu kursi yang ada dalam restorannya.
“Bee, terima saja modal dariku, enggak perlu bayar.”
“Enggak usah mas, lagi pula aku sudah dapat modal dari bang Julian,” terang Beeve.
“Ini ku berikan cuma-cuma Bee, aku sedekahkan, untuk merenovasi restoran mu ini, jujur saja interiornya jelek banget, mirip rumah makan pinggir jalan loh! Kurang berkelas!” Emir yang sangat terus terang membuat Beeve jengkel.
“Dasar enggak ada akhlak! Biarkan saja jelek, yang penting milik sendiri!”
“Oh, jadi tanahnya juga sudah milik mu? Ku pikir kau masih sewa loh Bee,” ucap Emir.
“Sudah beli dong mas! Ini hasil dari kerja keras ku yang selama 4 tahun, ku gunakan untuk membeli tanah dan juga bangunan ini,” terang Beeve.
“Ohh... dengarkan apa kata ku, aku kan melihat dari segi pelanggan dan juga artis, sudah banyak restoran yang aku masuki, jujur punya mu enggak banget, sekarangkan zamannya anak-anak kalau photo cari latar yang bagus, kau ubahlah restoran mu ini semenarik mungkin, karena selain rasa, orang juga melihat desain bangunannya, kalau kau mau, aku akan memberikan contoh desain bangunan restoran di London, pelanggannya itu ramai terus, baru 5 bulan, sudah buka cabang karena larisnya,” terang Emir.
“Wah, boleh tuh mas!” Beeve benar-benar tertarik dengan usulan Emir.
“Oke, nanti ku kirim, masalah biaya renovasi, kau tenang saja, akan aku berikan!” Emir yang senang Beeve menerima sarannya pun berusaha agar wanita yang di cintainya mau memakai uangnya.
“Kalau aku harus minta modal, bukannya lebih pantas pada mas Andri ya?” ucap Beeve.
__ADS_1
“Apa bedanya aku dengan Andri? Justru uang ku lebih banyak dari dia sekarang!”
“Astaga! Bukan masalah uang siapa yang lebih banyak mas, tapi... diakan suami ku!” ujar beeve mengingatkan Emir.
“Terus, siapa yang harus menghabiskan uang ku?” Emir bergumam tanpa sadar.
“Ya suruh saja si Helena,” ucap Beeve.
“Diakan bukan siapa-siapa ku Bee! Kau ini!” saat keduanya masih berdebat, Laura pun datang dengan membawa semangkuk bubur ayam panas di atas nampan.
“Silahkan kak.” ucap Laura yang membuat Emir geleng-geleng kepala.
“Ini pacarnya bu?” ucapan Laura membuat Beeve dan Emir mendongak.
“Buk...”
“Iya, aku pacarnya!” Emir memotong perkataan Beeve yang belum selesai.
“Wah! Serasi banget loh bu, jangan di lama-lamain lagi, barang bagus biasanya gampang di lirik orang, hehehe!” Laura yang senang bosnya membawa pasangan pun sangat bersemangat.
“Kau benar! Beeve ini sudah lama menggantung ku, pada hal di luar sana, banyak wanita yang mengantri ingin menjadi pasnagan ku!” ucap Emir dengan percaya diri, yang membuat Beeve memukul punggung adik iparnya.
“Sembarangan, hanya orang sinting yang mau pada mu!” pekik Beeve.
“Tuh! Kau lihat kan! Gayanya sombong banget, ku yakin kau juga mau pada ku, kalau aku mau pada mu, ya kan?” ucap Emir pada Laura, yang membuat pramusaji cantik itu jadi malu.
“Ya, kalau kak Emir mau pada ku, aku juga pasti maulah kak, kebetulan aku penggemar kakak, di yutub dan juga insta*ram.” terang Laura.
“Nah, benarkan apa kata ku Bee, kalau kau menolak ku, suatu saat pasti kau akan menyesal, karena tak ada lelaki yang seperti ku lagi di dunia ini!” Beeve yang merasa pembahasan Emir sudah kemana-mana pun mulai merasa gerah.
“Ya Robbi! Cepat kau makan bubur mu! Kalau enggak bisa dingin! Kau juga harus kerja! Jangan banyak bacot lagi! Kau juga Laura! Restoran 30 menit lagi mau buka, dari pada kau mengobrol dengannya, lebih baik kau bersihkan meja-meja yang masih kotor!”
“Ba-ba-baik bu!” Laura pun meninggalkan Emir dan Beeve untuk bekerja kembali. Sementara Emir memberi tatapan mata sinis Pada Beeve yang marah-marah.
“Biasa saja dong! Kalau cemburu jangan meledak-ledak gitu!”
“Ih! Mas Emir! Jangan bikin kesal deh! Aku marah bukan karena cemburu, tapi karena mulut mu enggak ada rem! Cepat kau habiskan makan mu! Dan pergi kerja!”
“Iya-Iya! Dasar bawel!” Emir pun mulai memakan buburnya.
Setelah selesai makan, Emir yang ingin berangkat kerja pun membayar bubur yang baru saja ia makan.
“Nih!” Emir mengeluarkan uang senilai 100.000 dari dompetnya.
“Enggak usah bayar,” ucap Beeve.
“Enggak bisa gitu dong, aku kan lagi jadi pelanggan ceritanya, kalau kau kasih makan orang gratis sering-sering yang ada akan membuat mu bangkrut!” terang Emir.
“Ya sudah, terimaksih banyak mas!” ucap Beeve. Akhirnya, setelah penuh drama, Emir pun berangkat ke kantor.
“Huff... rusuh banget sih dia!” gumam Beeve.
...Bersambung......
Kesal dengan kisah Beeve? Coba mampir ke Save Yalisa, Ku yakin kau akan jatuh cinta pada Riski Lail!
__ADS_1