Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 181 (Berseteru)


__ADS_3

Sesampainya mereka di rumah, ternyata Emir belum tidur. Emir yang cemburu melihat Andri dan juga Beeve pulang bersama memberi wajah masam pada keduanya.


Andri yang ingin membalas perbuatan Emir kemarin pun mengecup pipi Beeve di hadapan adiknya.


“Sayang, aku lapar banget.” Andri memeluk tubuh Beeve, yang membuat Beeve merasa canggung pada Emir.


“Bukannya kau baru makan mas?”


“Iya sih, tapi ini berkat vitamin penambah nafsu yang kau berikan, makanya aku lapar lagi,” terang Andri.


“Ya sudah kalau begitu, ayo kita ke ruang makan.” keduanya pun menuju ruang makan meninggalkan Emir sendirian di ruang tamu.


Emir mengelus dadanya menahan rasa cemburu yang membakar hatinya.


Plak!


“Siapa sih!” pekik Emir, karena tiba-tiba ada yang memukul kepalanya.


“Ibu! Kenapa? Kau mau marah?” tanya Rahma seraya bersedekap.


“Apa maksudnya sih bu?”


“Sudah jelaskan! Memperingatkan mu tiada henti, untuk mengubur perasaan mu pada Beeve, lagi pula dia itu istri Andri, mas mu! Berhenti menyukainya, jangan nekat! Kalau Andri sampai sakit lagi, dan itu karena ulah mu, awas kau! Ku nikahkan langsung kau dengan Helena!” Rahma mengancam putra bungsunya yang teramat nakal.


“Astaga bu, aku sudah dewasa loh!” Emir kesal pada Rahma yang ingin mengatur masa depannya.


“Enggak, kau belum dewasa, pikiran mu masih labil! Sebaik-baik manusia, yang tidak mengambil hak orang lain! Mengerti!” setelah cukup memarahi Emir, Rahma pun beranjak ke ruang makan.


Hem! Dasar ibu! Pilih kasih terus, aku ini anak kandung apa tiri sih? batin Emir.


__________________________________________


Rahma yang baru sampai ke ruang makan, melihat menantunya sedang menyuap anak sulungnya.


Ya Allah, berdosa banget aku yang telah menyakiti Beeve selama ini, pada hal dia adalah wanita yang baik, dan anak ku juga sangat mencintainya, batin Rahma.


“Loh, ibu belum makan juga?” tanya Andri yang melihat Rahma berdiri di hadapan mereka berdua.


“Enggak, ibu sudah makan, ibu kesini hanya ingin melihat kalian berdua,” ujar Rahma.


“Oh, ya sudah ibu sekalian ikut makan saja.” ucap Andri yang masih di suap oleh istrinya.


“Hem, ibu sudah kenyang, oh ya Ndri, setelah makan, datang ke ruang kerja ibu sebentar ya.”


“Ada apa bu?”


“Bukan apa-apa, hanya ingin mengobrol,” ucap Rahma.


“Baik bu.” Andri menganggukkan kepalanya.


“Ya sudah, ibu duluan ya nak.” Rahma pun meninggalkan Beeve dan Andri di meja makan.


“Kira-kira ibu mau bicara apa ya mas?” tanya Beeve penasaran.


“Mungkin soal kerjaan sayang.” Setelah selesai makan, Andri pun menuju ruang kerja ibunya.


Ceklek! Andri membuka pintu, Rahma menoleh ke putranya yang baru datang.


“Kemarilah nak.” ucap Rahma, Andri pun masuk, dan duduk di sebelah ibunya.

__ADS_1


“Ada apa sih bu menyuruh ku kesini?”


“Hem, bukan apa-apa nak, enggak perlu tegang begitu.” Rahma pun menggenggam tangan Andri.


“Bagaimana perkembangan hubungan mu dengan Beeve?”


“Seperti yang ibu lihat, baik-baik saja.”


“Ibu tahu kalau soal itu, tapi... apa kalian enggak punya rencana untuk menambah cucu untuk ibu?” pertanyaan Rahma membuat Andri malu.


“Ya ampun bu, jadi karena itu ibu memanggil ku?”


“Andri, jangan sepelekan perkataan ibu, kau tahu sendirikan, kalau adik mu menyukai istri mu?”


“Iya, aku tahu bu, tapi ibu kan tahu, kalau Bia belum ketemu, walau pun aku mau memiliki anak dengan Beeve, rasanya sekarang waktunya kurang tepat,” terang Andri.


“Hem... baiklah, kalau begitu, kau dan Beeve jangan tinggal di rumah ini, ibu enggak mau, ada masalah baru dalam kehidupan rumah tangga mu ke depannya.” Rahma yang takut Emir menjadi perusak hubungan anak sulungnya, mencoba mencegah sedini mungkin.


“Aku juga berpikir begitu bu, paling lusa bu, aku dan Beeve lihat-lihat rumah.”


“Baguslah kalau begitu, oh ya... ibu akan bantu juga untuk mencari Bia, semoga anak kalian cepat ketemu.”


“Terimakasih banyak bu.”


“Sama-sama, sudah nak, kembalilah ke kamar mu.” Andri pun bangkit dari duduknya dan bergegas meninggalkan Rahma.


Sesampainya ia ke kamar, Beeve yang telah mengenakan piyama mulai bertanya.


“Mas, ibu bilang apa?”


“Bukan apa-apa.” Andri enggan mengatakan percakapannya dengan Rahma.


“Ayo dong mas, ceritakan pada ku, masa enggak apa-apa?”


“Makanya aku enggak mau bilang pada mu, karena kau kan belum siap melakukannya kembali dengan ku.” ucap Andri seraya mengambil handuk dalam lemarinya.


“Sudah, jangan terlalu di pikirkan, aku mau mandi dulu.” Andri pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


10 menit kemudian, Andri yang telah selesai keluar dari kamar mandi, dan ia melihat Beeve telah terlelap di atas ranjang.


Andri kini memakai piyama naik ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Beeve.


Sayang, sampai kapan kau akan mengabaikan kewajiban mu? batin Andri.


Ia yang rindu pada Beeve pun, mendekat ke wajah istrinya.


“Ku rasa, kalau hanya mencium mu itu enggak akan masalah.” Andri pun mulai mengecup bibir manis istrinya.


Beeve yang saat itu belum tidur, merasakan sensasi dingin dari kulit bibir suaminya.


Lebih baik aku enggak membuka mata, batin Beeve.


Selesai memberi kecupan, Andri yang masih normal merasa terangsang, ia pun menyusupkan tangannya masuk ke dalam baju Beeve.


Jemarinya dengan hati-hati mencari ujung gundukan yang selama ini membuatnya panas dingin.


Ngapain sih mas Andri, buka mata jadi canggung, di biarkan nanti makin liar nih! batin Beeve.


Setelah mendapatkan yang ia cari, Andri mulai berbuat nakal, hingga Beeve yang merasa terganggu membuka matanya.

__ADS_1


“Mas! Kau ngapain sih?!” pekik Beeve.


“Ma-maaf, aku hanya memeriksanya, takut ada yang kurang.” Andri merasa malu atas perbuatannya.


“Semua masih lengkap mas, sekarang singkirkan tangan mu, aku ngantuk.” wajah judes Beeve membuat Andri jadi takut.


“Maafkan aku sayang.”


“Sudahlah mas, jangan bahas lagi, aku lelah, lebih baik kita tidur.” Beeve pun memiringkan badannya, Andri yang tidur di belakang Beeve pun mengambil nafas panjang.


Hampir saja kelepasan, aku kok begini sih! Akh! Tangan ku benar-benar nakal! batin Andri.


Setelah beberapa saat, akhirnya keduanya tidur pulas.


__________________________________________


Keesokan harinya, Arinda yang masih terlelap harus bangun karena telapak kaki Lilis mendarat di bibirnya.


“Apa lagi sih ini!” Arinda pun membuka matanya.


“Kau sudah bangun?” ucap Lilis padanya, yang membuat Arinda jengkel.


“Heh! Kenapa kau selalu membuat aku enggak tenang? Ini masih pagi, dan kau sudah membuat ulah!” pekik Arinda.


“Ya ampun, si babu ini benar-benar lupa, siapa bosnya disini, atau kau memang suka di hajar ya?” Lilis yang mudah tersulut emosi, menjambak rambut Arinda, hingga Arinda duduk.


“Lepaskan gila!” Arinda yang geram tak mau pasrah di aniaya oleh Lilis lagi.


Keduanya pun jadi adu otot, meski Arinda tak dapat dengan leluasa membalas setiap pukulan Lilis, namun ia merasa puas ketika ia dapat menggigit tombol bukit kebanggaan Lilis.


“Lepaskan bangsat!!!” pekik Lilis kesakitan.


Namun Arinda yang dendam terus menggigitnya, hingga sipir penjara mereka pun datang.


“Hei! Hentikan kalian berdua! Jangan buat rusuh!” Arinda pun melepas gigitannya dengan senyum lepas.


“Kalau kalian membuat kerusuhan lagi, maka kalian berdua, akan di hukum!”


“Saya enggak akan ribut, kalau bukan dia yang memulai pak!” Arinda mengadukan perbuatan Lilis pada sipir yang berjaga.


“Yang mulai duluan kau kan kemarin!” Lilis yang tak mau salah, membela dirinya.


“Sudah! Siapa yang memulai saya enggak perduli! Yang jelas! Jangan bikin ribut! Jangan bertengkar! Mengerti kalian berdua?!” Arinda dan Lilis menganggukkan kepala.


Setelah sang sipir pergi, Lilis membuka bajunya dengan perlahan.


“Ssst!!” ia pun mendesis karena harta satu-satunya yang paling berharga hampir putus.


“Itu belum seberapa, kau dari kemarin sungguh membuat ku murka!” Arinda memberi tatapan mata tajam pada Lilis.


“Awas saja kau!” hardik Lilis.


“Jangan banyak tingkah! Jika kau nekat, aku juga bisa berbuat hal yang sama, jadi jangan macam-macam! Atau aku akan menghabisi nyawa mu!” Arinda yang makin berani membuat Lilis merasa tertantang.


Kalau aku lemah, maka akan di injak-injak oleh tahanan lain, pokoknya si Lilis, tak boleh jadi bos disini! Akan ku singkirkan dia! Aku enggak mau jadi korban kebiadaban penjara ini secara terus menerus, batin Arinda.


Teman-teman Arinda yang lain hanya menyaksikan perseteruan Antara dirinya dan Lilis, mereka seolah tak mau ikut campur.


__________________________________________

__ADS_1


Saat makan siang, Arinda dan yang lainnya duduk berhadapan, Lilis yang masih dendam, membuang salivanya ke piring Arinda.


...Bersambung......


__ADS_2