Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 260 (Salah)


__ADS_3

Malang sekali nasib mu Ndri, batin Emir.


Saat mereka masih dalam keadaan berduka, Rahma datang ke kolam, karena ketiganya tak kunjung datang ke meja makan.


“Ngapain kalian bertiga berpelukan?” tanya Rahma, ketika ia melihat anak dan suaminya berderai air mata, ia jadi bingung.


“Ada apa yah? Kenapa kau menangis?” tanya Rahma penuh selidik.


“Ibu...” bibir Yudi tak sanggup berucap, hanya air mata sebagai jawaban.


“Mir! Katakan pada ibu!” pekik Rahma, ia yang tak mengetahui apapun jadi jantungan.


“Andri bu...” Emir pun menceritakan apa yang telah Andri katakan pada mereka.


Dunia Rahma seketika runtuh, ia yang terguncang, tak dapat menahan getaran tubuhnya yang hebat.


Brak!!!


Tubuh besar Rahma ambruk ke granit kolam berenang.


“Ibu!” ketiganya mendekat ke Rahma, Yudi dengan segera menggendong tubuh istrinya menuju kamar yang di ikuti oleh Emir.


Andri sendiri malah terpaku, hal yang ia takutkan selama ini terjadi, karena dirinya, orang-orang yang ia sayangi terluka.


Karena terlalu khawatir dan banyak pikiran, kepala Andri pun kembali pusing, ia yang ingin melangkah terpaksa mengurungkan niatnya, ia pun mendaratkan bokongnya ke atas kursi santai yang ada di pinggir kolam.


“Astaghfirullah, ya Allah, lagi-lagi semua masalah muasalnya dariku,” gumamnya.


Rahma yang telah berada dalam kamar mendapat pertolongan pertama dari anak dan suaminya, Yudi sibuk mengoles minyak kayu putih ke hidung Rahma, sedang Emir memijat telapak kaki ibunya.


Perlahan, Rahma pun sadar dari pingsannya, “Mana Andri!” netranya mencari tak beraturan.


“Ada bu, ibu tenangkan diri dulu, jangan panik!” ujar Yudi.


“Bagaimana aku enggak panik ayah! Anak ku sedang di ambang kematian, meski itu belum pasti, dia sakit kepala saja aku kepikiran, apa lagi yang separah itu!” hari Rahma benar-benar tak tenang.


“Iya, ayah tahu bu, tapi jangan teriak-teriak juga, bagaimana kalau Beeve dengar? Dia sedang hamil muda bu, kasihan dia... kalau sampai khawatir juga,” terang Yudi.


Rahma mengatur nafasnya yang memburu agar lebih tenang, setelah itu ia pun menangis.


“Ini semua karena ku yah, andai saja aku tak memisahkannya dari Beeve dulu, andai aku berbesar hati menerima orang yang putra ku cintai, pasti semua takkan begini, ini hukuman Tuhan pada ku yah, karena aku menganiaya anak saudara ku, Allah membalas dengan meluluh lantakan hati ku, ayah... ibu enggak mau kehilangan Andri... hiks...” Rahma memeluk suaminya.


“Jangan sesali yang telah terjadi bu, sebaiknya kita berdo'a, semoga ada jalan keluar atas cobaan yang kita hadapi saat ini.” Yudi memeluk erat tubuh istrinya.


“Kirim dia ke Amerika yah, dia harus berobat, pokoknya harus sembuh, putra ku hanya dua, aku enggak mau kehilangan siapapun, hanya mereka harta ku di dunia ini, hiks...” hati Rahma terasa berat dan sesak, ia pun tak sanggup menerima kenyataan yang ada.


____________________________________________


Beeve yang baru bangun tidur, mencari keberadaan suaminya dalam kamar.


“Mas... mas Andri....” karena tak ada jawaban, Beeve pun keluar kamar, mencari suaminya ke setiap sudut rumah, sampai ia pun menemukan Andri merebahkan diri di atas kursi santai berwarna putih.

__ADS_1


“Disini ternyata,” gumamnya.


Ia pun mendekati suaminya, yang nampak tidur pulas.


“Mas... kenapa tidur disini?” Beeve duduk di pinggir kursi yang suaminya tempati.


“Mas! Bangun!” Beeve menggoyang bahu Andri.


“Hum? Eh... sayang!” Andri pun bangkit dari duduknya, dan memeluk Beeve.


“Pindah ke kamar mas, jangan tidur disini.” ujar Beeve.


“Aku bosan di kamar, kita disini saja.” ucap Andri yang tak mau melepas pelukannya dari Beeve.


“Malu mas, masa pelukan disini, nanti ada yang lihat,” Bisik Beeve. Namun ucapan Beeve tak di respon oleh Andri.


Ketika Beeve menoleh, ternyata Andri telah menutup matanya kembali.


“Aduh berat banget, mas Andri sepertinya cape banget.” perlahan Beeve melepas dekapan suaminya, lalu membantu Andri membenarkan posisi tidur di atas kursi santai.


“Aku salah lihat enggak sih? Kok wajah mas Andri terlihat pucat?” Beeve pun mengelus wajah mulus dan tampan milik Andri.


Entah mengapa, perasaan Beeve tiba-tiba merasa rindu berat pada suaminya, sedang orangnya ada si sampingnya.


Ia yang tak tahu sebenarnya Andri tengah pingsan, malah ikut merebahkan diri di sebelah suaminya. Ia pun kembali memeluk Andri, tanpa tahu apapun yang terjadi.


Emir, Rahma dan Yudi yang menyaksikan hal itu tak dapat menahan air mata mereka masing-masing.


“Itu pinta Andri bu, lagi pula dia tahu pun hanya akan buat masalah baru,” ucap Yudi.


Besok aku dan Andri akan berangkat ke Amerika, katakan pada Beeve bisnis trip.” Rahma yang tak mau menyerah, ingin berjuang sampai akhir, agar tak ada penyesalan di hatinya suatu saat nanti.


“Tapi Andri enggak mau bu,” ucap Emir.


“Disini aku yang memutuskan!” pekik Rahma.


_____________________________________


Helena yang berada dalam kamarnya menunggu telepon dari suaminya.


“Kenapa bang Emir belum menghubungi ku juga? Apa dia benar-benar serius ingin menceraikan ku?” ia terus menatap layar handphonenya.


Ia yang tak makan sejak di dari rumah mertuanya pun merasa mual, ketika ia akan beranjak, tiba-tiba handphonenya berdering.


“Bang Emir!” seru Helena, namun sayang seribu sayang, itu adalah panggilan video dari Yezi.


“Ngapain lagi sih dia mengganggu ku!” Helena pun mengangkat telepon dari Yezi.


📲 “Ada apa?” Helena.


📲 “Kalau hari ini bisa ketemu enggak?” Yezi.

__ADS_1


📲 “Aku sibuk!” Helena.


📲 “Wah! Sayang sekali, pada hal saat ini aku sedang banyak waktu, kau malah tak ada bisa,” Yezi.


📲 “Lain kali saja, sudah dulu ya, aku banyak kerjaan,” Helena.


📲 “Baiklah, sampai nanti,” Yezi.


Setelah sambungan telepon berakhir, Helena melempar handphonenya dengan sembarang ke atas ranjang.


________________________________________


“Kalau aku enggak dapat mengerjai Beeve, Helena pun jadi, yang penting keluarga itu tak boleh bahagia,” gumam Yezi.


________________________________________


Malam harinya, Helena semakin gelisah, sebab Emir tak kunjung menghubunginya.


Apa besok aku sudah menerima surat cerai? batinnya, ia yang masih mencintai dan ingin bersama Emir pun terpaksa menghubungi sauminya terlebih dahulu, namun Emir yang sibuk tak menjawab panggilan yang di lakukan Helena sebanyak 3 kali.


“Benarkan dugaan ku, dia akan menceraikan ku!” Helena makin prustasi, ia yang salah faham kembali berprasangka buruk pada suaminya.


Namun, karena takut menjadi janda muda di usia yang terbilang muda, ia pun terpaksa mengambil hati Beeve, dengan cara mengirim photo Yezi, yang berhasil ia screenshoot (tangkap layar) saat melakukan panggilan video tadi.


Semoga saja dengan photo ini, Beeve tahu diri, dan bersedia membantu ku, batin Helena.


_______________________________________


Beeve yang kebetulan sedang memegang handphonenya pun melihat pesan yang di krim oleh Helena.


“Apa ini?” lalu ia pun membuka pesan yang Helena kirim.


Deg!!!


Jantungnya berdetak kencang, saat melihat orang yang di sebut Yezi oleh Helena adalah Arinda. Kemudian ia dengan sigap mendial Helena.


📲 “Halo! Jangan pernah bertemu dengan wanita itu lagi, dia bukan Yezi, tapi Arinda, mantan istri kedua mas Andri yang kabur dari penjara!” Beeve.


📲 “Apa?! Kau serius kak?” Helena.


📲 “Iya, pokoknya hindari dia, dan hati-hati dimana pun kau berada, karena dia sangat berbahaya, Arinda baru saja membunuh seorang penyidik kepolisian! Pokoknya waspada! Kita harus segera lapor polisi!” Beeve


📲 “Ba-baik kak,” Helena.


Setelah panggilan telepon di tutup, Beeve segera menemui keluarganya yang lain, untuk melaporkan tentang Arinda yang masih berkeliaran di sekitaran mereka.


...Bersambung......



__ADS_1


__ADS_2