
Keluarga kecil itu pun sarapan dengan penuh nikmat, sebelum ke rumah sakit, Andri dan Beeve terlebih dahulu mengantar Bia ke sekolahnya.
Setelah itu mereka berdua menuju rumah sakit, tak butuh waktu lama, pasangan suami istri itu pun tiba di sebuah rumah sakit yang yak jauh dari restoran Beeve.
Setelah mengambil nomor antrian di dekat pintu lobby dengan tujuan dokter umum, keduanya pun menunggu giliran di kursi tunggu.
Tak lama, giliran mereka pun tiba, keduanya masuk ke dalam ruang dokter umum.
“Silahkan masuk pak, bu.” ucap dokter wanita paruh baya pada mereka berdua.
“Terimakasih dok.” sahut Andri dan Beeve seraya duduk di kursi yang ada tepat di hadapan sang dokter.
“Keluhannya apa bu?” tanya sang dokter.
“Sudah dua hari saya merasa pusing, badan rasanya gerah dan panas, lalu perut saya terasa begah dan mual dok,” terang Beeve.
“Sampai sekarang, apa masih merasakan hal yang sama bu?” tanya sang dokter kembali.
“Masih dok,” jawab Beeve.
“Baik bu, mari kita periksa dulu.” sang dokter pun menuntun Beeve untuk naik ke atas ranjang. Selanjutnya sang dokter memasukkan stetoskop ke dada dan perut Beeve.
Kemudian dokter pun menekan dan memegang perut Beeve dengan perlahan.
“Coba kita usg ya bu.” ujar sang dokter yang membuat Beeve mengernyit. Sedangkan Andri sendiri sudah merasa yakin jika istrinya tengah berbadan dua.
“Usg dok?”
Ya Allah, habis deh aku, batin Andri.
“Iya bu.” dokter pun menyingkap baju atasan Beeve, kemudian meletakkan gel ke perutnya, selanjutnya dokter meletakkan alat transduser ke perut bidang Beeve.
Apa mungkin aku hamil? batin Beeve.
Sontak ia menoleh ke arah Andri yang tengah menundukkan kepala.
Awas kau mas, kalau sampai benar! batin Beeve.
“Ehm, wah... ternyata benar dugaan saya, ibu saat ini tengah mengandung, coba lihat bu, dede bayinya sedang membuat rumah di kantong rahim ibu,” terang sang dokter.
“Dokter yakin saya hamil?” tanya Beeve memastikan.
“Tentu saja bu, alhamdulillah selamat ya pak, bu.” setelah selesai pemeriksaan, Beeve turun dari ranjang menuju kursi duduk yamg ada di meja kerja sang dokter.
“Kapan hari pertama terakhir haidnya bu?” tanya sang dokter.
“Tanggal 9 Juni kemarin dok,” jawab Beeve.
__ADS_1
“Kalau tidak meleset hari prediksi lahirnya tanggal 23 Maret 2025 ya bu, tapi ini masih bisa maju atau pun mundur, sekali selamat ya bu.” ucap sang dokter.
“Terimakasih banyak dok.” ucap Andri dengan wajah ceria.
Beeve sendiri tidak tahu harus bahagia atau sedih dengan anak yang Ilahi titipkan di rahimnya.
Selesai pemeriksaan, Andri dan Beeve keluar dari ruangan sang dokter menuju mobil.
Sesampainya dalam mobil, wajah Beeve berubah menjadi tegang.
“Mas!” pekik Beeve yang membuat suaminya terkejut.
“Iya sayang?”
“Kan aku sudah bilang, di tunda dulu!” Beeve yang marah memukul bahu suaminya.
“Maaf sayang, waktu itu aku kelepasan.” ujar Andri dengan tertawa canggung.
“Ihh! Mas Andri bikin kesel deh! Kasihan Bia kan?! Belum lagi rencana ku untuk kuliah juga gagal, akh! Mas benar-benar enggak pengertian.” Beeve bersedekap, ia yang marah betul-betul malas melihat wajah suaminya.
“Maafkan aku sayang, aku benar-benar enggak sengaja waktu itu, jangan marah lagi ya, harusnya kita bersyukur atas kehendak Allah, yang memberikan keturunan pada kita.” Andri mengusap kedua pipi istrinya.
“Tapi mas...”
“Sayang, banyak orang di luar sana yang menginginkan keturunan, tapi Allah belum memberinya, kalau kau begini, yang ada Allah akan marah, semua yang terjadi adalah takdir baik dari yang maha kuasa.” Andri pun memeluk tubuh istrinya, sementara Beeve menghela nafas panjang.
“Jujur aku sangat bahagia dengan kabar baik ini sayang, akhirnya aku memiliki anak juga dengan mu, aku berjanji akan lebih perhatian ekstra untuk keluarga kita, dan kau juga enggak boleh cape-cape dalam bekerja, tak perlu juga setiap hari ke restoran, nanti aku kirimkan orang professional menangani restoran selama kau hamil, dan jangan juga sekali-kali kau menyetir mobil sendiri, tidak boleh! Mengerti?” Andri yang ingin calon bayinya berkembang dengan baik mulai membuat banyak aturan untuk istrinya.
“Iya mas, aku mengerti,” sahut Beeve.
“Sekarang aku akan antar kau pulang.” ucap Andri seraya melepas pelukannya.
“Jangan ah mas, aku tetap mau ke restoran, sudah dekat juga, bagaimana pun aku harus pantau langsung,” ujar Beeve.
“Baiklah, tapi kau hanya memantau dan duduk di kantor ya, enggak ada acara melayani pelanggan atau memasak di dapur! Aku enggak mau karena itu kau sakit, atau apalah lainnya, awas kalau sampai ketahuan!” Andri memperingati istrinya dengan keras kali itu.
“Iya mas Andri ku sayang.” Beeve mencubit pipi suaminya karena gemas.
Setelah itu, keduanya pun meluncur menuju restoran Kishi Bia.
__________________________________________
Emir dan Helena yang masih dalam tahap cuti liburan, memutuskan untuk melanjutkan bulan madu mereka dengan mengelilingi 21 tempat wisata terpopuler di Swiss.
Emir dan Helena pun telah membuat daftar, destinasi yang akan mereka kunjungi terlebih dahulu.
“Pertama kita ke Jungfraujoch ya bang, aku sudah lama ingin kesana.” ujar Helena dengan penuh semangat.
__ADS_1
“Enggak, kita ke danau Luzern saja dulu, baru ke Jungfraujoch,” ucap Emir.
“Abang kok gitu sih?! Enggak mau ngalah sama istri!”
“Kau juga begitu, kau tahu Helena, istri itu harus ikut apa kata suami!” ujar Emir yang tak mau kalah.
Helena menghela nafas panjang, demi mengabdi pada sang suami, ia pun menurunkan egonya.
“Baiklah bang, kesana juga oke.” ucap Helena dengan wajah masam.
Lalu Emir pun tertawa nakal, “Ya ampun dek, baru begitu saja wajah mu sudah cemberut, pada hal aku hanya bercanda, hehehe.” Emir mencubit pipi mulus istrinya.
“Aaahhh! Abang bikin kesal deh!” Helena pun tertawa genit, seraya memukul-mukul bahu suaminya.
“Sakit dek... jangan pukul abang dong!” Emir menggenggam kedua tangan Helena.
“Abis abang bikin ade panas dingin.” Helena mengedipakan sebelah matanya pada Emir.
“Dek... jangan mulai lagi deh, kita baru selesai 30 menit yang lalu loh... yang ada nanti kita malah kehabisan tenaga.” Emir yang takut tak dapat menahan godaan istrinya mencoba memberi peringatan.
“Makanya banyakin puding bang.” Helena masih dalam tahap bergelora mulai menunjukkan goyangan seksinya.
“Dek... jangan sekarang, abang lelah, nanti malamkan kita mau berangkat!” Emir menutup kedua matanya dengan tangannya.
“Ayolah bang.” Helena terus menari-nari ala gadis club malam di hadapan suaminya.
“Pokoknya enggak, kita lakukan setelah sampai di Swish!” Emir bergegas beranjak dari kamar menuju lantai satu.
Helena yang tak ingin di tinggal sendirian menyusul suaminya.
“Abang, tunggu ade!” Helena menggandeng lengan suaminya dengan manja.
“Jangan berisik! Malu-maluin banget kalau orang dengar suara mu yang aneh itu,” ucap Emir.
“Malu sama siapa? Hah?” tanya Helena.
“Siapa saja!” jawab Emir.
“Ehm, kenapa harus malu, kitakan sudah sah menjadi suami istri.” terang Helena, karena menurutnya kalau sah mereka bisa bebas bermesraan.
“Helena...Helena.. susah banget di kasih nasehat.” Emir geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.
Sesampainya mereka di lantai satu, keduanya tanpa sengaja berpapasan dengan Rahma. Sontak keduanya yang sedang menempel satu sama lain memisahkan diri.
“Ibu enggak ke kantor?” tanya Emir, mengingat saat itu telah menunjukkan pukul 10 pagi.
“Ibu berangkat siang, kalian sendiri kenapa baru turun?” tanya Rahma kembali.
__ADS_1
...Bersambung... ...