
“Akulah seharusnya yang berterimakasih, walau pun aku sudah menyakiti mu, tapi kau masih mau menerima ku, dan juga mengizinkan ku memberi nama pada putri kita,” terang Cristian.
“Aku hanya ingin Bia hidup bahagia, tentang perasaan ku itu sebenarnya enggak penting,” ucap Beeve.
Kemudian Cristian menarik tangan Beeve untuk duduk di atas ranjang bersama.
“Bee, apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga mu? Apa suami mu benar-benar membuang mu, atau bagaimana? Jelaskan pada ku, karena aku ingin tahu,” ucap Cristian dengan rasa pemasaran.
“Dia enggak membuang ku, justru aku yang meninggalkannya, karena dia enggak mau menceriakan Arinda, hanya itu Crist,” terang Beeve. Ia tak mau jujur pada Cristian, karena takut urusan dengan Arinda tambah panjang.
“Malang sekali nasib mu, maafkan aku, ini semua adalah salah ku, andaikan dulu aku tepat janji, keluarga kita enggak akan berantakan begini, ayah ku mungkin masih hidup, begitu juga dengan kedua orang tua mu, semua duka ini muasalnya dariku, kau enggak salah apapun, maafkan aku Bee.” Cristian memeluk Beeve, yang kini menangis.
“Aku lelah Crist, bisakah kau benar-benar berubah? Rasanya aku mau gila menjalani hidup ku yang penuh cobaan ini, satu hempasan lagi mungkin akan membuat ku mati.” Beeve menangis meratapi nasibnya, ia yang masih muda harus menjalani tragedi pelik tiada henti di hidupnya.
“Iya Bee, aku akan benar-benar berubah demi mu dan aku akan menebus semua kesalahan ku, dengan merawat mu dan juga Bia,” ucap Cristian.
Aku enggak tahu pasti, apa saja yang telah kau lalui Bee, yang jelas kau pasti menderita karena kesalahan yang telah ku lalukan, dulu kau adalah gadis yang ceria penuh percaya diri, kini kau begitu rapuh dan menyedihkan, batin Cristian.
Setelah Beeve merasa tenang, Cristian membantunya untuk menyusun baju-baju yang mereka beli ke dalam lemari.
Setelah itu Cristian menyuruh Beeve untuk tidur, karena hari sudah larut malam.
Keesokan harinya, Cristian yang masuk ke dalam kamar melihat Beeve sedang memberi Bia asi.
“Halo anak papa, pagi-pagi sudah minum susu ya, lapar ya nak.” Cristian mengajak putrinya bercanda.
“Maaf ya Crist, kalau aku terlambat bangun.”
“Enggak apa-apa kok.”
“Setelah Bia tidur, aku akan turun untuk memasak,” ucap Beeve.
“Enggak usah, bibi sudah menyiapkan makanan kok, tunggu Bia tidur, baru kita turun untuk sarapan bersama,” ujar Cristian.
“Ya sudah kalau begitu.” setelah minum asi cukup, Bia pun terlelap. Kemudian Beeve dan Cristian menuju meja makan yang ada di lantai satu.
Sesampainya mereka, Cristian mempersilahkan Beeve duduk, lalu mengambil nasi dan menyuap Beeve. Meski Beeve menolak, Cristian tetap memaksa, pagi itu Cristian benar-benar perhatian pada Beeve.
Setelah makan, Beeve yang tahu diri pun mencuci puring mereka, sedangkan Cristian kembali ke kamarnya untuk melihat Bia.
Saat itu ternyata Bia telah bangun, karena mata hari pagi itu sangat terik, maka Cristian membawa putrinya Bia berjemur menuju halaman rumahnya.
__ADS_1
“Berjemur ya nak, biar tulang-tulang mu cepat kuat, setelah ini nanti Bia ayah mandikan ya sayang.” Cristian begitu sayang pada Bia, hingga ia lupa kalau hari itu ia ada janji dengan dosen.
Saat Cristian asik menggendong putrinya, tiba-tiba Celine pulang dengan menaiki taksi.
Ia pun heran dengan Cristian yang sedang mengendong bayi.
“Anak siapa itu?” gumam Celine. Selanjutnya Celine pun masuk ke halaman rumah mereka.
“Crist, anak siapa yang kau gendong?” tanya Celine.
“Oh, ibu sudah pulang? Coba tebak bu anak siapa?” ujar Cristian.
“Jangan bercanda ah,” Celine yang lelah pun tak ingin main tebak-tebakan dengan anaknya
“Coba ibu lihat dulu.” Cristian pun memperlihatkan wajah Bia pada Celine, tentu saja Celine sang nenek pun dapat menebak anak siapa yang di gendong oleh putranya.
“Crist, dia mirip sekali dengan mu, cantik cucu ibu.” sungguh di luar dugaan, Celine terhipnotis pada wajah Bia yang memiliki paras cantik, kulit bersih bibir semerah buah delima.
“Berikan pada ibu, ibu ingin menggendongnya," pinta Celine. Cristian pun memberikan Bia pada ibunya.
“Cantik sekali cucu nenek, ya ampun kau benar-benar membuat nenek jatuh cinta sayang.” Celine berulang kali mencium wajah mungil Bia.
“Bia? Kau sudah memberinya nama?”
“Iya, namanya Kishi Bia bu,” ucap Cristian.
“Nama apa itu?! Harusnya ibu yang memberinya nama, ibu kan nenek nya, bagusnya kau beri dia nama Felicia, atau yang lainnya,” terang Celine.
“Tapi, aku dan Beeve sudah setuju dengan nama itu bu,” ucap Cristian.
“Beeve? Apa dia ada disini?” tanya Celine.
“Iya bu, dia telah berpisah dengan suaminya, memang belum resmi bercerai, dan rencananya aku akan menikahinya bu,” terang Cristian.
“Ibu enggak setuju.”
“Loh, kenapa bu? Bukannya ibu suka Bia? Harusnya ibu bisa menerima ibunya juga dong.”
“Dia dan Bia berbeda, Bia adalah darah daging mu, darah ibu juga masih mengalir padanya, Sedangkan Beeve, kita tidak punya ikatan apapun dengannya,” terang Celine.
“Bu, jangan begitu dong, aku sudah janji pada Beeve.”
__ADS_1
“Makanya kalau melakukan sesuatu di pikir dulu Crist, kau memang enggak pernah belajar dari masa lalu ya, selalu saja bertindak semau mu, mana dia, ibu akan bicara padanya.” Celine dengan menggendong Bia masuk ke dalam rumah.
Beeve yang ingin menyapu ruang tamu pun bertemu mata dengan Celine.
“Letakkan sapunya, mari kita bicara,” ujar Celine.
“Ba-baik tante.” Beeve pun meletakkan sapunya di sudut dinding, kemudian ia duduk di hadapan Cristian dan Celine.
“Aku sudah mendengar rencana Cristian dengan mu, tapi maaf Bee, aku enggak bisa merestui hubungan kalian.” Beeve yang sudah dapat menebak pun menerima keputusan Celine.
“Kau boleh pergi dari rumah ini, dengan meninggalkan Bia bersama kami.” sontak mata Beeve membulat sempurna mendengar keputusan Celine.
“Tante, enggak bisa begitu dong, kalau aku harus pergi, itu harus bersama putri ku," ucap Beeve.
“Enggak bisa, bagaimana pun ini adalah cucu ku, aku akan hubungi pengacara ku, agar mengurus hak asuh Bia pada kami,” terang Celine.
“Bu, jangan lakukan itu, aku enggak setuju!” pekik Cristian.
“Diam kau! Ibu yang memutuskan, kalau kau mau bekerja sama, aku akan memberi mu izin untuk bertemu Bia satu kali sebulan, kalau menolak, jangan harap bertemu dengannya lagi.”
“Tante, jangan begini pada ku, Bia masih kecil dia membutuhkan aku tan.” Beeve menangis karena masalah baru mendatanginya lagi.
“Enggak bisa, ibu juga tahu Crist, kau menarik uang sebanyak 250 jutaan kemarin, itu untuk Beeve kan?”
“Ba-bagaimana ibu tahu?” tanya Cristian.
“Karena kemarin ibu kebetulan mencek saldo atm mu! Tapi enggak apa-apa Bee, ku anggap kau menjual Bia pada kami,” ucap Celine.
“Tante aku mohon, tolong jangan lakukan itu, aku mohon tan, aku enggak mau berpisah dari Bia!” Beeve menangis sejadi-jadinya.
Meski Cristian membujuk ibunya namun keputusan Celine telah bulat, ia tetap tak mau menerima Beeve.
Celine yang tak ingin bertele-tele menghubungi pengacaranya untuk mengurus hak asih Kishi Bia agar jatuh ke tangan keluarga Cristian.
Bersambung...
__ADS_1