
Keesokan harinya, sebelum Andri berangkat ke Surabaya, ia terlebih dahulu mengantar Beeve dan Bia ke kediaman mereka.
Sesampainya di rumah, Andri berpamitan pada anak dan istrinya.
“Aku berangkatnya ya sayang.” Andri mengecup kening Beeve dengan lembut.
“Iya hati-hati di jalan mas, dan cepat pulang.” Beeve membalas ciuman Andri.
“Iya sayang, nak... papa berangkat dulu ya, baik-baik sama mama di rumah, jaga mama ya, karena mama itu orangnya ceroboh,” Andri meminta tolong lada putri kecilnya.
“Apa sih mas!” Beeve memelototi suaminya.
“Iya pa, papa cepat pulang ya.” Bia yang pintar pun menjabat tangan Andri serta mencium punggung tangannya. Begitu pula dengan Beeve.
Setelah itu, Andri berangkat menuju bandara tanpa di antar anak dan istrinya.
________________________________________
Arinda yang berada di penjara menyaksikan gelagat Lilis, yang tiap harinya makin sering sakit-sakitan.
Bagus, sebentar lagi kau akan mati, batin Arinda.
Lilis yang kini lemah dan tak berdaya menjadi bulan-bulanan Arinda dan teman-temannya.
“Hei! Geser!” Arinda menendang-nendang kecil betis Lilis dengan kakinya.
“Apa sih?! Kan masih luas, duduk di tempat lain saja.” ucap Lilis yang rebahan di atas tikar.
“Aku maunya disini! Ini dari awal kan tempat ku! Minggir!” hardik Arinda yang mulai gusar.
“Enggak mau, aku lagi demam!” Lilis menolak permintaan Arinda.
“Oh... berani sekali kau pada ku!” Arinda yang merasa di remehkan mendaratkan bokongnya di atas perut Lilis.
“Menyingkir dari perut ku sialan! Berat!” hardik Lilis yang mulai sesak nafas.
“Makanya pindah! Kalau kau enggak mau! Aku akan menambah penderitaan mu!” Arinda yang berkuasa menekan Lilis.
“Aku enggak mau!” Lilis yang tak mau di rendahkan pun melawan, membuat Arinda jadi merasa tertantang.
Ia pun memanggil 2 orang temannya untuk menduduki tubuh besar Lilis.
“Dewi! Marna! Sini kalian!” kedua teman yang ia panggil pun mendekat.
“Marna! Kau duduki wajah si kurang ajar ini, kau Dewi, duduki pahanya!” titah Arinda.
Dewi dan Marna pun menjalankan perintah Arinda, tanpa berperasaan ketiganya melakukan tindak perundungan pada Lilis.
__ADS_1
“Um! Lepas! Menyingkir ka-kalian!” nafas Lilis menjadi sesak, akibat wajah dan perutnya kena timpa beban puluhan kilo.
“Makanya jangan keras kepala! Kau pikir kau hebat? Kau hanya pecundang bangsat! Kau enggak ada apa-apanya dariku! Ini balasan atas kekejian mu pada ku waktu itu! Hahaha...” Arinda sangat puas bisa menyiksa lawannya.
Lalu Arinda pun memaksa Marna untuk buang gas di wajah Lilis.
“Hei, cepat keluarkan kentut mu! Kalau enggak! Ku kebiri kau!”
“Tapi aku enggak mau buang angin Nda,” ucap Marna.
“Aku enggak mau tahu! Cepat lakukan!” Marna yang takut pada Arinda pun berusaha mengeluarkan gasnya dengan berbagai cara, hingga akhirnya...
Putthhh!! Ia berhasil mengeluarkannya, Arinda dan yang lainnya tertawa cekikikan, terlebih saat Lilis terus berusaha bangkit namun tak bisa.
“Hahaha, kentut mu bau sekali sialan!” Arinda memukul kecil kepala Marna.
“Ya maaf, yang menyuruhnya kan kau sendiri,” ucap Marna.
“Iya-iya, aku mengerti!” Arinda kembali cengengesan.
“Su-sudah! Aku akan pindah, tolong bangkit dari tubuh ku, nanti aku bisa mati kalau begini.” Lilis yang kesakitan terpaksa menurunkan egonya.
Sialan! Arinda benar-benar mengerjai ku, lihat saja Arinda! Akan ku balas semua perbuatan mu! batin Lilis.
Arinda dan kedua temannya pun bangkit dari atas tubuh Lilis.
“Nah, gitu dong, jangan susah-susah kalau di bilangin!” ucap Arinda seraya memelintir telinga Lilis.
“Kondisikan mata mu, kalau enggak mau ku colok pakai kuku ku!” Arinda yang dulunya hanya bisa adu mulut kini meningkat jadi bisa adu otot, berkat kekejaman penjara yang ia dapatkan selama ini.
Lilis yang ingin rebahan, menuju tikar yang ada di sebalah tikar yang baru ia tiduri, di cegah oleh Marna dan yang lainnya, tak ada yang memberi izin dirinya untuk tidur menggunakan alas.
“Kau tidur di lantai saja sialan!” Marna mendorong keras tubuh Lilis yang tak bertenaga hingga jatuh ke lantai.
“Ya Tuhan, baru segitu saja kau sudah ambruk! Pada hal pas baru datang garangnya minta ampun, menghajar kita semua, sekarang rasakan pembalasan dari kami! Hahaha.” Dewi yang masih menyimpan dendam pada Lilis, menarik keras rambut wanita besar itu hingga rontok.
Aku harus kasih dosis yang lebih tinggi, agar si Lilis sialan ini cepat lenyap, nanti kalau dia pulih kembali, bisa habis aku di tangannya, batin Arinda.
Karena tak ada yang memberi tempat padanya, akhirnya Lilis tidur di atas lantai.
___________________________________________
Pada sore harinya, Beeve mengajak Bia untuk mandi.
“Ayo nak, kita mandi.” Keduanya pun mandi bersama, Beeve menggosok lembut tubuh anaknya yang masih banyak lebam.
Setelah selesai, Beeve menggendong Bia ke kamarnya, lalu mengoleskan krim yang telah dokter berikan ke tubuh Bia.
__ADS_1
Kemudian Beeve memakaikan baju dress indah pada sang putri tercinta.
“Ma, papa kapan pulangnya?” tanya Bia yang sudah rindu pada Andri.
“Minggu depan nak,” jawab Beeve.
“Minggu depan? Itu artinya masih lama ya ma?”
“Iya sayang, apa kau rindu papa nak?”
“Iya ma, aku senang kalau ada papa, karena papa selalu baik pada Bia.” terang Bia yang telah nyaman bersama Andri.
“Sabar ya nak, papa pergi untuk bekerja, nanti pulang akan bawa oleh-oleh untuk Bia.” Beeve mengelus lembut rambut putrinya.
“Iya ma, Bia pasti sabar menunggu papa.” Bia yang telah rapi di antar oleh Beeve ke depan televisi untuk menonton.
Sementara ia menuju kamar untuk berpakaian, setelah selesai, tiba-tiba ada yang menekan bel pintu mereka. Beeve pun buru-buru keluar untuk melihat siapa yang datang.
Ceklek! Ketika pintu telah terbuka, ternyata yang datang adalah kurir.
“Paket bu!”
“Iya pak.” Beeve dengan wajah bingung menerima paket dari sang kurir. Setelah memberi tanda tangan, si kurir pun pergi.
“Siapa yang belanja online?” gumam Beeve. Ia pun duduk di atas sofa ruang televisi mereka.
Hum? Dari Abraham? batin Beeve.
Beeve pun buru-buru menyibak kardus paket persegi empat tersebut.
Setelah terbuka, ternyata isinya adalah photo-photo Bia semasa bayi bersama Cristian.
Di dalam kardus juga terdapat kalung pemberian Beeve yang dulu pada Bia, serta ada sepucuk surat dalam amplop berwarna merah muda.
Saat Beeve memeriksanya, ia melihat kalau surat tersebut pengirimnya adalah dirinya, pada hal sebenarnya surat itu Cristian sendiri yang menulis.
Beeve pun membuka surat yang Cristian buat untuk Bia.
💌 Dear Kishi Bia, putri ku sayang, apa kabar mu nak? Hari ini kau telah genap 1 tahun sayang.
Semoga kau selalu sehat dan panjang umur ya nak, anak baik jangan nakal pada papa ya. Jadilah anak yang pintar, berguna bagi Nusa dan bangsa, yang terpenting kau harus menjadi anak yamg berbakti kepada kedua orang tua.
Mama menyayangi mu sayang, dimanapun kau berada.
Dari mama tercantik Beeve An Mahveen. 💌
Beeve terharu, ia tak menyangka Cristian membuat pesan ulang tahun untuk putri mereka atas namanya.
__ADS_1
Crist... terimakasih karena telah menyayangi anak kita, batin Beeve.
Bersambung...