
“Begitu ya? Jadi Beeve benar-benar enggak ada disini?” ucap Arman.
“Iya betul pak, tapi nanti kalau saya ada kabar terbaru soal dia, saya akan langsung menghubungi bapak,” ucap Arinda.
“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu.”
“Baik pak, hati-hati di jalan.” setelah Arman pergi Arinda pun merasa lega.
“Akhirnya, aku berhasil mengelabui pak Arman, ternyata dia sama bodohnya dengan mas Andri, untung dia enggak periksa ke kamar, bisa-bisa ketahuan lagi, karenakan kamar si jalan* belum di bersihkan.” Arinda yang takut ada utusan lain yang di suruh Andri pun memerintahkan pada Art nya untuk membersihkan kamar Beeve, termasuk mengganti baru ranjangnya dengan yang sama persis.
Beeve yang berada dalam gudang merasakan haus dan lapar yang sangat hebat.
“Kapan aku di keluarkan dari sini? Aku lapar banget.” Beeve yang dehidrasi merasa pusing.
Tak lama ia pun mendengar seseorang membuka pintu.
Ceklek!!!
Beeve menoleh ke arah pintu, ternyata itu adalah Desi, membawakan ia nasi putih beserta air minum dalam gelas yang ia letakkan di lantai.
“Kau sangat beruntung, karena nyonya ku masih mau memberi mu makan.” setelah mengatakan demikian, Desi kembali mengunci pintu.
Beeve yang lapar segera menuju nasi yang Desi bawakan.
Untuk menghemat air, Beeve makan tanpa mencuci tangan. Dan pengurungan itu pun berlangsung selama 2 minggu lamanya.
Andri yang tak kunjung mendapat kabar Beeve merasa sangat prustasi, ia berpikir Beeve benar-benar meninggalkannya.
Pada siang hari yang terik, Arinda memberi titah pada Karto untuk mengeluarkan Beeve dari gudang.
Usai menunggu selama 10 menit, akhirnya Beeve di bawa ke ruang tamu, setelah 2 minggu akhirnya Beeve bisa menghirup udara segar dan melihat cahaya matahari.
Beeve yang tak mandi dan buang air di tempat yang sama, membawa aroma busuk yang membuat mual semua orang.
“Heh! Bau banget sih kau! Dasar jorok!” Arinda hampir muntah mencium bau Beeve. Beeve hanya diam mendengar perkataan Arinda.
“Desi, apa Hana masih tidur?” tanya Arinda.
__ADS_1
Beeve mengernyitkan dahinya saat Arinda mengatakan nama Hana.
“Masih nyah,” jawab Desi.
“Bawa Hana turun,” titah Arinda.
“Baik nyonya.” Desi pun menjemput Hana yang tidak lain adalah putri Beeve ke kamarnya bayi yang ada di lantai satu.
Tak lama Desi pun kembali dengan menggendong Hana lengkap dengan bedong yang membalut tubuhnya.
“Hana? Jadi yang kau maksud Hana adalah putri ku?” ucap Beeve.
“Putri ku! Putri ku! Ini anak ku bodoh!” pekik Arinda.
“Jangan seenaknya memberi nama pada yang bukan anak mu!”
“Heh! Hana ini anak ku, bukan anak mu! Dan sekarang aku ada rencana untuk menjual Hana ke keluarga bule, dengan harga yang cukup fantastis!” terang Arinda.
“Apa! Enak saja! Jangan lalukan itu! Dia anak ku!”
“Sudah ku bilang Hana anak ku, aku akan menjualnya, ya kalau kau mau, aku akan menjualnya pada mu, untuk mu ku kasih diskon deh,” ucap Arinda.
“Mau lapor?! Lapor sana! Aku enggak takut! Maka anak mu akan ku bunuh! Lagi pula kau enggak ada saksi, memangnya akan ada yang percaya pada mu, dengan penampilan seperti orang gila begitu? Hah! Mimpi kali ya!”
“Arinda kembalikan anak ku! Jangan jual dia!” Beeve memohon pada Arinda.
“Enggak bisa, dia akan tetap ku jual pada orang lain, kalau kau mau, beli! Kalau sampai kau lapor polisi atau siapapun, Hana akan habis di tangan ku, mungkin kau berpikir kalau aku bercanda, sebagai tanda aku enggak main-main, aku akan melakukan ini.” Arinda mengeluarkan pisau lipat yang amat tajam dari sakunya, setelah itu ia menyayat sedikit ibu jari Hana.
“Akhh!! Arinda, jangan sakiti putri ku, ku mohon!! Aku enggak akan mengadu pada siapapun!!”
Hana yang menerima sayatan dari Arinda pun menangis dengan keras.
“Bagus kalau kau sudah mengerti, tenang saja, luka Hana akan ku obati, karena bagaimanapun juga, dia aset untuk ku, aku akan menjualnya sebesar 20 Milyar, karena kebetulan istri bule itu sedang sakit ginjal, ya lumayanlah kan, mereka membeli Hana, sudah dapat organ, dapat anak lagi, tapi kalau kau mau Hana kembali pada mu, itu bisa di atur, akan ku jual pada mu dengan harga 400 juta, plus! Ada tambahannya nih, kau harus minta cerai dari mas Andri, enggak ada penolakan, setelah itu baru Hana ku serahkan, katakan saja pada mas Andri, kalau kau mau balikan pada ayahnya Hana, bagaimana?” Arinda memberi pilihan yang tak ada untungnya pada Beeve.
“Akan ku bayar, tapi ku minta kembalikan black cart ku, ku yakin kau yang telah mengambilnya," ucap Beeve.
“Memang aku yang mengambil, tapi itukan uang suami ku, enak saja! Cari saja uang mu sendiri! Ku tunggu sampai besok, kalau enggak dapat jangan salahkan aku, kalau Hana berpindah tangan,” terang Arinda.
__ADS_1
“Kemana aku harus mencari uang sebanyak itu?!” ucap Beeve.
“Terserah, kemana pun kau mau! Jual diri juga boleh, pokoknya waktu mu hanya sampai besok, untuk itu aku akan membebaskan mu, agar kau bisa cari uangnya, ets! Ingat ya, enggak ada 1 orang pun yang boleh tahu soal masalah ini, dan untuk kebaikan hatiku yang selanjutnya, aku akan membiarkan mu mandi, dan memakai baju yang layak,” terang Arinda.
Setelah itu, Arinda bangkit dari duduknya, “Desi, Karto, awasi dia di kamarnya, selesai ia mandi, antar keluar gerbang, biar dia mencari tebusan untuk Hana,” titah Arinda.
“Siap nyah!” sahut Desi dan Karto.
Arinda pun kembali ke lantai dua dengan membawa Hana, selanjutnya Beeve masuk ke kamarnya untuk mandi.
Selesai mandi, Beeve pun keluar dari gerbang rumahnya tanpa membawa uang sepeserpun.
Aku harus cari uang kemana ya Allah, batin Beeve.
Ketika ia sedang berjalan di trotoar, tanpa sengaja Beeve menemukan uang tercecer sebanyak 100 rb.
“Alhamdulillah.” Beeve pun buru-buru memungutnya.
“Aku akan ke rumah, menemui bang Julian,” gumam Beeve.
Ia pun naik bis menuju rumahnya, setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya ia pun sampai.
Saat ia telah di gerbang rumah orang tuanya, sang satpam penjaga gerbang pun datang.
“Eh, non Beeve, apa kabar non?” sapa sang satpam tanpa membuka gerbang.
“Baik pak, apa bang Julian nya ada?” tanya Beeve.
“Ada non, sebentar saya kirim pesan pada tuan ya non," ujar sang satpam.
“Terimaksih pak,” ucap Beeve.
Sang satpam pun mengirim pesan teks pada Julian, yang mengabari tentang ke datangan Beeve.
“Silahkan masuk nona.” sang satpam pun membukakan gerbang untuk Beeve.
Beeve teramat senang, setidaknya ia mendapat sedikit harapan saat itu.
__ADS_1
...Bersambung......