Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_8


__ADS_3

30 menit kemudian, Rafael sudah dibaringkan di atas ranjang, tentu dengan bantuan Aldo, dan saat ini Dokter keluarga tengah memeriksa kondisi Rafael.


Sila terlihat sangat cemas dengan keadaan suaminya itu, tapi berbeda dengan Aldo, raut wajahnya melihatkan ketenangan, tapi belum tentu dengan hatinya.


Setelah selesai memeriksa, Dokter Fadli segera menemui Sila dan juga Aldo.


"Bagaimana keadaan kak Rafael Dok?" tanya Sila, dengan raut wajah khawatir.


"Rafael tidak apa-apa, dia hanya kelelahan saja, dan terlalu banyak pikiran, tadi saya sudah menyuntikkan obat tidur agar bisa beristirahat," jelas Dokter Fadli.


Sila bisa bernafas dengan lega, ia berfikir jika suaminya sakit parah, tapi nyatanya hanya kelelahan, dan butuh istirahat.


"Terima kasih ya Dok," sahut Sila.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu," balasnya, lalu berpamitan untuk segera pergi.


"Mari Do," sambungnya seraya menepuk pundak Aldo pelan.


"Sil, aku turun dulu ya," ujar Aldo, lalu bergegas turun mengikuti langkah Dokter Fadli.


Setelah Aldo dan Dokter Fadli keluar, Sila berjalan mendekati suaminya yang terbaring di tempat tidur.


Sila pun duduk di sampingnya, menatap lekat wajah sang suami.


Sementara itu di bawah, nampak Aldo dan Dokter Fadli tengah berbincang.


"Sebenarnya apa yang Rafael lakukan, kenapa bisa sampai drop seperti itu?" tanya Dokter Fadli, raut wajahnya terlihat khawatir.


"Biasa lah Dok, kak Rafael baru pulang dari Batam, mengurus cabang perusahaannya yang ada di sana," jelas Aldo.


Dokter Fadli nampak menghela nafas berat.


"Tolong kamu nasehati Kakakmu, agar selalu menjaga kesehatannya, jangan terlalu banyak bekerja, pikirannya juga harus dijaga," tutur Dokter Fadli, yang memberikan nasehat pada Aldo.


"Iya Dok, tapi Dokter kan tau sendiri, semenjak mama sama papa pisah, kak Rafael bekerja keras untuk mengsukseskan perusahaan, dan sekaligus untuk biaya kuliah aku," terang Aldo, Dokter Fadli manggut-manggut karena paham, dengan keluarga Aldo.


"Iya Aldo, saya mengerti, tapi tidak ada salahnya kan menjaga kesehatan," sahut Dokter Fadli.


"Iya Dok, aku ngerti," balas Aldo.


Mereka pun berjalan keluar, melalui pintu utama.


***


Waktu terasa begitu cepat berlalu, sore ini Sila sedang membantu bi Inah memasak di dapur.


Sementara itu Aldo berada di kamar bersama dengan Rafael, Aldo duduk di samping Kakaknya, sementara itu Rafael duduk dan menyenderkan kepalanya di punggung ranjang.


"Tadi Dokter Fadli bilang, kalau Kakak jangan terlalu banyak kerja, pikiran Kakak juga harus dijaga," ucap Aldo, sembari menatap wajah Rafael.


Rafael nampak membuang nafas berat, keningnya berkerut, dari raut wajahnya sudah terlihat jika Rafael memendam banyak masalah.


Sesekali Rafael juga memijit-mijit pelipisnya.


"Aku tau Do, tapi kamu tau sendiri kan, kalau di perusahaan sedang ada masalah, terutama yang berada di Batam," tukas Rafael, suaranya masih terdengar sangat lemah.


Aldo hanya diam, dia memang tau apa yang sedang Kakaknya pikirkan.


Sejak orang tua mereka berpisah, Rafael menjadi tulang punggung keluarga, perusahaan yang hampir bangkrut, bisa Rafael selematkan, dan sekarang ia juga telah membuka lebih dari 10 cabang di berbagai kota.

__ADS_1


Rafael yang dulu juga berbeda dengan yang sekarang, kini ia lebih menutup diri, sebab itu orang yang baru mengenalnya, akan merasa heran dengan sikap dingin dan jutek Rafael.


"Kuliah kamu bagaimana?" tanya Rafael.


"Lancar kok Kak," jawab Aldo.


"Syukurlah, kamu pikirkan saja kuliahmu, dan setelah lulus baru bantu aku untuk mengurus perusahaan," terang Rafael, dan dibalas dengan anggukan oleh sang adik.


Sementara itu, Sila telah selesai memasak, dan sekarang ia tengah sibuk menata hasil masakannya di atas meja, tentu juga dengan bantuan bi Inah.


Tak lama kemudian, Aldo dan Rafael turun, sebenarnya Aldo melarang Kakaknya untuk turun, tapi sang Kakak memaksa.


Kini Rafael dan Aldo sudah duduk berhadapan, sementara itu Sila masih sibuk menata makanan.


Aldo mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk serta sayur.


Sementara itu, Sila juga tengah mengambilkan Rafael nasi beserta lauknya.


"Andai saja aku yang ada di posisi kak Rafael, pasti aku akan menjadi lelaki yang paling bahagia," batin Aldo, ia merasa sedikit iri dengan dua insan yang berada di hadapannya sekarang.


"Segini cukup Kak?" tanya Sila pada suaminya.


"Cukup, segitu saja, terima kasih ya," ucap Rafael, dan tak lupa berterima pada sang istri.


Setelah itu, ketiganya menyantap makanan yang berada di hadapannya, dan dengan suasana yang hening.


***


Pagi telah menyapa, dan pagi ini Rafael bangun lebih awal, pasalnya pagi-pagi sekali ia mendapat pesan dari sekretarisnya kalau hari ini akan ada meeting, dengan terpaksa Rafael harus berangkat ke kantor.


Pukul 06.30 Rafael sedang bersiap-siap, dan detik itu juga Sila yang telah selesai membuat sarapan, langsung menuju ke kamar, berniat untuk membangunkan suaminya.


"Eh iya, hari ini ada meeting, dan nanti siang juga ada klien yang berkunjung, jadi aku harus ke kantor," jelas Rafael. Tangannya masih sibuk mengancingi kemejanya.


Sila yang melihat suaminya seperti terburu-buru, segera mendekat dan membantu Rafael untuk mengancingi kemejanya, setelah itu tak lupa Sila memasang dasi di leher suaminya.


"Nanti kamu berangkat kuliah bareng Aldo enggak apa-apa kan," ujar Rafael, sembari memasang arloji di pergelangan tangannya.


"Iya nggak papa kok Kak, lagian nanti siang baru di mulai kelasnya," jawab Sila.


"Terima kasih ya Kak," sambungnya. Kening Rafael berkerut, ia tidak tau apa yang dimaksud istrinya itu.


"Untuk apa?" tanya Rafael bingung.


"Untuk ini Kak," jawab Sila, sembari menunjukkan kartu ATM di tangannya.


"Sama-sama, kalau kurang kamu tinggal bilang saja," sahut Rafael seraya tersenyum.


"Ya sudah aku pergi dulu ya," sambung Rafael, lalu memakai jasanya.


"Enggak sarapan dulu kak," balas Sila.


"Nanti saja di kantor," ujar Rafael.


Setelah itu, Sila mencium punggung tangan suaminya, dan tanpa di duga, Rafael menarik pelan kepalanya istrinya, lalu menunduk dan mengecup kening sang istri.


Sila yang mendapat perlakuan seperti itu, seketika terdiam mematung.


Setelah itu, Rafael segera pergi meninggalkan istrinya yang masih berdiri mematung, bola matanya tidak berkedip, tetapi jantungnya seperti mau loncat ke luar.

__ADS_1


***


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, pukul 11 siang Sila tengah menyiapkan makanan untuk ia antar ke kantor, dan pastinya Sila sudah memberi kabar, jika dirinya akan mengantarkan makan siang terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus.


"Gimana Sil, udah siap belum?" tanya Aldo yang kini berdiri di sebelah meja makan.


"Iya udah siap kok," jawab Sila, lalu berjalan menghampiri Aldo.


"Ya udah ayo," ajak Aldo.


Keduanya pun bergegas keluar menuju mobil yang sudah terparkir di halaman depan rumah.


Kini Aldo dan Sila dalam perjalanan menuju ke perusahaan tempat Rafael bekerja.


Satu jam di perjalanan, kini mobil yang Aldo dan Sila tumpangi sudah terparkir di pelataran kantor, Sila pun bergegas turun, sementara Aldo menunggu di mobil.


"Aku tunggu di mobil aja ya, kalau aku keluar, nanti para cewek-cewek godain aku lagi," ujar Aldo dengan penuh percaya diri.


"Ih, PD banget sih, ya udah aku ke dalam dulu ya," jawab Sila, lalu bergegas keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam.


Sila berjalan menuju ke lantai 20 di mana terdapat ruangan suaminya.


Setibanya di sana, Sila segera menghampiri bagian resepsionis, untuk bertanya di mana ruangan Rafael.


"Maaf mba, ruangan pak Rafael di mana ya?" tanya Sila pada pegawai resepsionis.


"Mba tinggal lurus saja, nanti belok kanan," ucapnya memberikan petunjuk.


"Oh iya mba, terima kasih ya," jawab Sila mengerti.


Setelah itu Sila pun melangkahkan kakinya, ia berjalan menuju ke arah yang telah di tunjukkan.


Kini Sila sudah sampai di depan ruangan Rafael, Sila masih tertegun, ia merasa ragu, karena ini pertama kalinya Sila datang ke kantor suaminya.


Sila nampak ragu-ragu, ia harus mengetuk pintu dulu atau langsung masuk, namun saat Sila hendak mengetuk pintu, terdengar percakapan dari dalam, ia pun mengurungkan niatnya.


"Aku sudah bilang, hubungan kita sudah berakhir sejak tiga tahun yang lalu, sejak kamu pergi meninggalkan aku tanpa adanya alasan yang pasti, dan sekarang kamu datang lalu meminta aku untuk kembali, jangan harap, itu tidak akan pernah terjadi," jelasnya, dan Sila tau jika itu suara Rafael.


"Rafael, aku minta maaf, waktu itu aku terpaksa, kamu mau kan maafin aku, kamu mau kan kita melanjutkan hubungan kita lagi, aku tau kamu masih cinta sama aku, iya kan Rafael," tuturnya, terdengar jika itu suara seorang wanita.


Jantung Sila berdetak lebih kencang, pikirannya melayang entah kemana, nafasnya pun terasa sesak.


Namun karena di dorong oleh rasa penasaran, dengan sangat terpaksa, Sila membuka pintu ruangan suaminya dengan perlahan.


Setelah itu, Sila melangkah masuk, untuk melihat apa yang terjadi di dalam.


"Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini sebelum kesabaran aku habis," pinta Rafael, dengan menahan emosinya.


"Enggak, aku nggak akan pergi sebelum kamu mau maafin aku, dan kembali lagi padaku," kekeh wanita itu, kini dia melangkah menghampiri Rafael, dan mencoba meraih tangan Rafael, tapi dengan cepat lelaki itu menepisnya.


"Kamu pergi atau aku seret kamu keluar," tegas Rafael, kini emosinya sudah tidak bisa ia kendalikan lagi.


"Aku bilang enggak!" Bentak wanita itu, yang tak kalah emosinya.


"Aku bilang keluar!" Bentak Rafael seraya menunjuk ke arah pintu.


Sila yang mendengarnya terlonjak kaget, baru kali ini ia melihat suaminya semarah itu, terlihat dari raut wajah Rafael yang memerah, matanya melotot dan rahangnya mengeras, dan seketika rantang yang ia pegang jatuh.


Praaanng, sontak Rafael dan wanita itu menoleh ke sumber suara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2