Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 171 (Tak Sengaja)


__ADS_3

“Hei Bee, aku enggak gila harta ya, karena menurut ku ini milik kita bersama, yang kemarin aku hanya menghukum mu, agar kau benar-benar jera!” pekik Julian, yang membuat Beeve terdiam.


“Ma-maaf bang, kalau abang tersinggung atas perkataan ku,” ucap Beeve.


“Sudahlah, yang jelas kau terima saja apa yang menjadi hak mu, kalau kau memang suka mengelola bisnis mu, aku mendukung apapun pilihan mu,” ujar Julian.


“Terimaksih banyak bang,” ucap Beeve.


“Dan, terkait soal Andri, aku enggak bermaksud untuk memaksa mu Bee, tapi pikirkanlah, dia sama menderitanya dengan mu, kehilangan mu, membuat ia kehilangan sebagian kehidupannya juga, memang tragis kisah kalian di masa lalu, tapi dek diakan masih berstatus suami mu, kasihanilah dia.” Julian mencoba membujuk adiknya agar mau menerima Andri lagi.


“Ehm, akan ku pikirkan bang.” Beeve yang mendapat permintaan khusus dari sang abang pun merasa berat untuk menolak.


Setelah percakapan mereka selesai, Beeve kembali ke kamarnya. Ia yang lelah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Ia pun kembali mengingat kenangan indahnya bersama Andri, saat mereka masih bersama.


“Baiklah, aku akan merawatnya,” gumam Beeve.


Keesokan harinya, setelah mengurus restorannya, Beeve menuju rumah sakit dengan mengendarai mobil.


Ia yang parkir di basement harus menggunakan lift menuju lantai 2 rumah sakit tempat Andri di rawat.


Ketika Beeve sedang menunggu lift turun ke basement 1, tiba-tiba Emir berada di sebelahnya yang membuat ia terkejut


Deg!


“Mas! Bikin kaget saja, kalau datang bilang-bilang dong!” Beeve memarahi Emir yang membuatnya jantungan.


“Maaf, aku enggak sengaja.” ucap Emir seraya tersenyum tipis.


Ting!


Ketika Lift telah terbuka, Emir dan Beeve pun masuk, Saat pintu lift akan tertutup kembali, tiba-tiba ada 5 orang pria yang datang secara bersamaan.


“Tunggu dulu mas!” ucap salah seorang dari kelima pria itu. Emir pun menahan pintu lift agar tetap terbuka.


Kelima pria itu pun masuk, Emir yang takut Beeve di isengi oleh para pria itu pun inisiatif untuk membuat Beeve berdiri di belakangnya seraya memegang tangan Beeve.


Beeve menelan salivanya, karena ia tiba-tiba teringat kenangannya bersama Emir di Korea.


Ting!


Ketika lift berhenti di lantai 1, orang yang masuk pun bertambah, hingga mereka yang ada dalam lift seperti susunan ikan kaleng.


Emir berusaha membalik tubuhnya agar menghadap Beeve, saat telah berhasil, posisi keduanya sungguh tidak terduga, pasalnya bibir Beeve menempel di leher Emir.


Deg deg deg! jantung keduanya berdetak dengan sangat hebat, terlebih dorongan dari kiri dan kanan membuat bibir manis Beeve semakin terbenam dalam di leher jenjang Emir.


Ini sih gila, batin Beeve.


Astaga, kenapa nafsu ku jadi naik, batin Emir.


Emir terus melihat puncak kepala Beeve, andai tak ada orang lain disana, ingin rasanya Emir mengecup wanita di hadapannya itu.


Ting!


Saat mereka telah sampai ke lantai 2, keduanya pun keluar dengan bersusah payah.


Beeve yang malu akan kejadian yang mereka alami pun enggan untuk berbicara pada Emir.


“Bee!” Emir memanggil namanya.

__ADS_1


Aduh mau apa sih dia, dia enggak tahu apa kalau aku malu, batin Beeve.


“Beeve! Kau dengar aku?” Emir memegang bahu Beeve.


“Iya mas?” sahut Beeve tanpa melihat wajah Emir.


“Hei, wajah ku disini, bukan di lantai.” Emir menunjuk wajahnya. Kemudian Beeve pun mendongak.


“Hah!” mata Beeve melotot.


“Ada apa?” tanya Emir kebingungan.


“Mas, di leher mu, ada bekas lipstik ku!”


“Apa?” ucap Emir, lalu Beeve pun buru-buru mengeluarkan tisu basah dari dalam tasnya, dan membersihkan leher Emir.


Bisa gawat kalau ada yang lihat, batin Beeve. Setelah tak ada sisa, Beeve merasa lega.


“Hei, sepertinya kau panik banget ya,” Emir menertawai Beeve.


“Ya jelaslah, kalau ada yang lihat kan bisa bahaya,” ujar Beeve.


“Ya ampun, paling yang lihat ibu dan Andri.”


“Justru itu, jangan sampai mereka lihat.”


“Iya-iya, tapi Bee...”


“Apa mas?”


“Yang tadi itu lumayan geli, hum! Aku jadi ingin.” Emir tertawa nakal seraya berjalan terlebih dahulu.


“Jangan mengada-ngada kau mas!” pekik Beeve.


“Lama sekali datangnya, aku rindu,” ucap Andri.


“Maaf mas, tadi aku mengurus pekerjaan ku dulu, baru kesini,” ungkap Beeve.


Lalu Beeve menggantikan Rahma untuk menyuap Andri.


“Bagaimana kabar mu hari ini mas?” tanya Beeve seraya memberikan nasi ke mulut Andri.


“Kabar ku baik, barusan dokter datang memeriksa ku, dan perkembangan kesehatan ku makin meningkat, kalau terus ada kemajuan, 2 hari lagi, aku sudah bisa pulang, tak perlu menginap disini lagi,” terang Andri.


Beeve turut senang mendengarnya, “Baguslah mas kalau begitu, aku bahagia mendengarnya.”


“Aku juga sama, nanti setelah keluar dari rumah sakit, kita akan pergi melihat-lihat rumah untuk kita tinggali.” entah mengapa perasaan Beeve tak nyaman mendengar rencana Andri tersebut. Namun karena ia ingin Andri segera sembuh, ia pun pura-pura setuju.


“Iya mas, maka dari itu kau harus segera sehat.” Andri yang telah selesai makan pun di bantu minum oleh Beeve.


Emir yang ada disana pun dapat melihat ketidak nyamanan dari iparnya.


Apa perasaannya telah memudar pada Andri? batin Emir.


“Bee, kau mau kan temani Andri jalan-jalan ke taman rumah sakit? Sudah sebulan loh nak, Andri enggak keluar ruangan,” pinta Rahma.


“Baik tan.” Beeve pun bersedia membawa sang suami menghirup udara sore.


Lalu Emir membantu Andri untuk duduk di kursi roda, saat Emir ingin mendorong kursi roda Andri, Rahma menahan tangannya.


“Biar Beeve saja,” bisik Rahma.

__ADS_1


Emir menganggukkan kepalanya, ia mengerti kalau sang ibu ingin menyatukan kembali pasangan yang telah lama berpisah itu.


“Ayo Bee.” Rahma menuntun tangan Beeve untuk memegang gagang kursi roda.


“Iya, kami keluar sebentar ya tan, mas Emir.” setelah berpamitan, Beeve dan Andri pun bergegas menuju taman.


“Jangan ikuti mereka,” titah Rahma 0ada Emir.


“Enggak kok bu.”


“Lupakan Beeve, oh iya, karena kau tak kunjung move on dari istri mas mu, ibu memutuskan untuk menjodohkan mu.” Rahma yang takut Emir akan jadi benalu untuk hubungan Beeve dan Andri pun bertindak cepat.


“Hah? Bu, aku masih muda, belum mau menikah.” Emir menolak dengan cepat rencana dari ibunya.


“Tunangan saja dulu, yang jelas kau enggak boleh jomblo, ibu tahu Mir, kalau kau masih mengharapkan Beeve, yang lain bisa kau tipu, tapi itu enggak berlaku untuk ibu.” Rahma yang jeli pun mengantisipasi Emir agar tak merebut Beeve dari Andri.


“Terserah ibu deh mau apa, aku juga perlu lihat wanitanya seperti apa, kalau enggak cocok, jangan salahkan kalau aku menolak bu,” terang Emir.


“Ya sudah.” ucap Rahma, seraya merapikan ranjang Andri.


__________________________________________


Sesampainya Beeve dan Andri di taman, Andri yang duduk di kursi roda memetik satu tangkai bunga raya berwarna merah untuk istrinya.


“Kita duduk disana ya mas.” ucap Beeve seraya menunjuk ke sebuah bangku yang di sebelahnya ada pohon lengkeng yang sedang berbuah.


“Boleh.” sahut Andri dengan perasaan senang.


Sesampainya di tempat tersebut, Beeve duduk di kursi berhadapan dengan Andri yang duduk di kursi roda.


Lalu Andri menyelipkan bunga raya yang ia ambil tadi ke telinga Beeve.


“Pfff... mas.” Beeve merasa lucu, saat Andri melakukannya.


“Kau cantik sekali.”


“Benarkah?”


“Iya, mirip artis.”


“Artis siapa mas? Perasaan enggak ada yang mirip dengan ku mas,” ucap Beeve.


“Elvi Sukesih!”


“Hahaha, kau bisa saja mas.” Beeve tertawa karena ia disamakan dengan artis papan atas tersebut.


“Dulu aura mu jazz, sekarang dangdut.” Beeve menatap lekat mata Andri.


“Maksudnya gimana ya mas? Jazz ke dangdut?” tanya Beeve tak mengerti.


“Dulu kau membara, sekarang lebih bersahaja, tak di sangka, berpisah selama 4 tahun penampilan mu jadi lebih dewasa,” terang Andri.


“Semua orang pasti berubah mas.”


“Tentu, tapi perasaan ku ke kau enggak pernah berubah sedikit pun,” ungkap Andri.


...Bersambung......


Kisah cinta tiada akhir, meski telah di tinggal pergi, namun Riski selalu ada di hati, yuk temani Yalisa dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, hanya di SAVE YALISA.


__ADS_1



__ADS_2