Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 220 (Uji Coba)


__ADS_3

Emir yang telah selesai mandi duduk di balkon kamarnya di temani sebatang rokok yang di jepit oleh jemarinya.


Di tengah lamunannya, ia kembali teringat akan wajah ceria Helena yang baru saja ia saksikan.


“Bahagianya bila di cintai.” gumamnya seraya mengisap filter rokoknya.


Helena yang berada di halaman rumah melihat Emir yang berada di balkon, lalu si dokter unik itu pun membuat tanda love dengan kedua tangannya.


“Ck!” Emir geleng-geleng kepala atas sikap kekanak-kanakan gadis cantik itu.


Selanjutnya, Helena melambaikan tangan pada Emir, “Ayo turun!” ucap Helena dengan menggerakkan bibirnya.


Emir mengernyitkan dahi, ia yang malas untuk turun, tiba-tiba memiliki sebuah ide kepalnya “Coba kita uji.” ucap Emir pada dirinya sendiri. Ia pun memutuskan untuk turun, menemui Helena.


“Oh my God! Bang Emir mau datang kesini?!” Hati si dokter cantik begitu riang saat sang calon suami bersedia menemuinya.


Emir yang telah sampai di halaman rumah membuat jantung Helena berdebar tak karuan.


Deg deg deg!!


“Ada apa kau memanggil ku?” tanya Emir yang kini berdiri di hadapan Helena.


“A-aku hanya ingin mengobrol dengan abang,” suara Helena tiba-tiba bergetar, perubahan drastis Emir membuatnya salah tingkah.


“Oh, kalau begitu kita duduk disana saja!” Emir pun menunjuk ke arah kursi santai yang berada di kolam berenang.


“Ayo bang.” keduanya pun menuju kolam, setelah sampai, mereka duduk bersebelahan.


“Kau mau bicara apa?” tanya Emir. Helena yang biasa banyak topik pembahasan, tiba-tiba merasa isi kepalanya kosong.


“A-aku...”


“Kalau enggak ada, aku mau kembali ke kamar,” ucap Emir.


“Aku mau tanya, setelah menikah kita mau bulan madu kemana bang?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Helena karena tak punya pembahasan lain.


“Aku belum memikirkannya.” ucap Emir dengan sedikit rasa canggung.


“Bagaimana kalau kita ke New Zeland bang? Di sana sangat indah dan juga tenang, dan sudah lama aku ingin kesana.” Helena yang selalu ingin ke Negeri tersebut membuat rencana sejak ia masih gadis, akan ke tempat indah itu apa bersama pasangannya.


“Ehm... boleh sih, kalau itu memang mau mu.” Emir setuju saja dengan usulan Helena, sebab ia sendiri tak punya agenda kemana pun.


“Ih, abang lucu deh!” Helena mencubit pipi mulus Emir yang begitu menggoda.


“Aku lucu?” Emir menunjuk dirinya sendiri, sebab Helena adalah manusia pertama yang mengatakan demikian padanya.


“Iya, kau lucu bang, kau selalu membuat aku berdebar-debar.” Helena yang bersikap santai dan terbuka memeluk tubuh Emir yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


“Hei, kau sedang apa? Nanti kalau ayah dan ibu ku lihat, harga dirimu sebanyak mungkin, jangan terlalu murahan!” ujar Emir.


“Biar saja, aku enggak perduli, asalkan aku bisa memeluk mu, dan di dekat mu, pandmagan seperti apapun, alu terima.” ucap Helena tanpa pikir dua kali.


Helena sama saja dengan gadis bodoh lainnya, batin Emir.


“Helena, dengarkan aku, kita belum resmi, jaga jarak sedikit, itu lebih baik!” Emir mencoba melepas pelukan Helena. Namun Helena malah mengencangkan dekapannya.


“Bang!” Helena melihat wajah Emir yang tak jauh darinya.


“Iya?” sahut Emir.


“Aku cium ya.” belum sempat Emir menjawab boleh atau tidak, Helena telah menyerang bibir manis nan merona miliknya, bagai kilat si cepat.


karena sudah terlanjur, Emir mencoba berdamai dengan keadaan, ia pun ingin belajar menerima Helena.


Coba aku ikuti, mungkin aku akan merasakan sesuatu yang berbeda, batin Emir.


Ia pun membalas setiap sentuhan yang bibir Helena berikan padanya, kecupan lekat dan penyesapan indera perasa berulang kali mereka lalukan, hingga keduanya hanyut dalam waktu yang lama.


Setelah selesai dengan peraduan lidah yang mereka lakukan, keduanya mendadak canggung, Emir sendiri tak dapat menatap wajah Helena, pandangannya hanya terfokus pada air kolam yang ada di bawah kaki mereka.


Aku harus apa setelah ini, goblok banget sih! batin Emir.


Aneh, tiba-tiba kami diam seribu bahasa begini! lanjut lagi, atau gimana nih? batin Helena.


Helena yang tak ingin momen indah malam itu berakhir dengan masuk kamar masing-masing, mencoba mengulur waktu, agar ia bisa lebih lama bermesraan dengan Emir.


“Ya Helena??'


“Bagaimana perasaan mu?”


“Baik-baik saja.”


“Maksud ku, apa kau menikmati dosa yang baru saja kita lakukan?” tanya Helena seraya melirik wajah Emir.


Pertanyaan dari calon istrinya membuat Emir menelan salivanya, ia bingung harus berkata apa, sebab ia belum mengerti yang baru saja ia lakukan karena nafsu, atau mengikuti alur semata.


“Kok malah diam bang? Ayo dong, kasih sepatah dua kata pada ku?”


“Aku enggak tahu,” jawab Emir.


“Apa? Kita ciuman hampir 20 menit, bang Emir enggak tahu menikmati apa enggak?” Helena menggaruk kepalanya.


“Iya, maaf kalau aku mengecewakan mu,” ujar Emir.


“Ini enggak bisa di biarkan!” ucap Helena, lalu Emir melirik wajah Helena yang nampak tegas.

__ADS_1


“Maksud mu apa?” tanya Emir penuh selidik.


“Kita perlu mengulanginya.”


“Apa?” Emir mengernyitkan dahinya.


“Iya, untuk memastikan bang Emir merasakan hal yang sama dengan ku, yaitu perasaan nikmat deg degan dan juga bahagia, kita perlu melakukan percobaan kedua!” terang Helena.


“Dasar sinting, sudah ah! Aku mau tidur!” pekik Emir.


“Bang Emir enggak boleh kemana-mana, sebelum melakukan adegan ciuman dengan ku!” Helena yang ingin bercumbu kembali tak mengizinkan Emir pergi.


“Ngotot banget kau!” pekik Emir.


“Pokoknya ciuman! Ayo ciuman aku lagi!!!” Helena merengek bagai anak kecil, yang membuat Emir akhirnya luluh.


Ia pun mengelus puncak kepala Helena, “Baiklah!”


Dengan perlahan, Emir mengecup bibir merona Helena seraya memberi pagutan-pagutan mesra. Helena yang cepat tanggap pun memeluk tubuh Emir, agar kehangatan di antara mereka lebih erat.


Deg! Deg! Deg!


Perlahan Emir merasa getaran berbeda di dalam dadanya, ia juga tiba-tiba merasa aliran saliva dari pengecap Helena begitu manis.


Apa ini? Kenapa rasanya sama saat aku melakukannya dengan Beeve, batin Emir.


Ia pun melanjutkan aktivitas mereka hingga Helena yang telah kepanasan mencoba membuka kancing bajunya. Emir yang melihat hal tersebut menahan tangan calon istrinya.


“Kau mau apa?” tanya Emir.


“Aku mau kasih lihat punya ku yang besar,” jawab Helena.


“Ck! Dasar bodoh! Pantas saja kau di sia-siakan laki-laki sebelumnya, aku tak menggoda mu saja, dengan murah hati kau menyerahkan diri!” terang Emir.


“Apa?” Helena merasa tersentak.


“Sudahlah! Lebih baik kita tidur!” Emir pun bangkit dari duduknya.


“Jadi abang enggak mau lihat, abang yakin nih?” tanya Helena memastikan.


“Helena, jaga sikap mu ya! Kalau kau mengobral diri begitu, yang ada akan membuat aku ragu, jangan-jangan kalau aku enggak bisa memenuhi nafkah batin mu, kau malah oleng kemana-mana, kau ini orangnya mudah banget naik nafsu! Kalau aku yang menggoda mu terlebih dahulu, masih ku anggap wajar jika kau menuruti mau ku! Ini kau malah menyerahkan diri sendiri! Pikirkan apa yang aku katakan! Kalau sempat suatu saat kau main-main di belakang ku! Tiada ampun untuk mu! Langsung ku talak tiga kau di tempat!” setelah menceramahi calon istrinya, Emir kembali ke kamarnya.


Helena yang di tinggal sendirian merasa sangat malu atas sikapnya.


“Biasanya laki-laki suka kalau langsung di kasih intinya, tapi... bang Emir berbeda, iya sih aku yang bodoh, terimakasih bang sudah memarahi ku,” ucap Helena. Ia pun bergegas menuju kamar yang telah di sediakan oleh Rahma untuknya.


Rahma yang ternyata belum tidur membuat teh manis hangat di dapur sendirian.

__ADS_1


“Hem... dasar anak zaman sekarang! Belum resmi sudah bermesra-mesraan, enggak tahu tempat lagi, beruntung si ayah enggak melihat aksi bodoh mereka, kalau sampai ketahuan, bisa panjang ceritanya, hah!! Keduanya harus cepat-cepat di nikahkan, kalau enggak bisa-bisa kebablasan, enggak deh! ngeri banget kalau kejadian yang sama terjadi di keluarga ku lagi.”


...Bersambung.......


__ADS_2