Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 252 (Sakit)


__ADS_3

Keesokan harinya, acara pengajian yang telah di rencanakan pun telah tiba. Seluruh keluarga Han berangkat bersama menuju rumah orang tua Beeve.


Beeve dan seluruh keluarga Han memakai baju dengan warna senada, untuk perempuan baju gamis putih dan jilbab putih, sedangkan laki-laki mengenakan atasan putih bawahan hitam.


Mereka berangkat dengan menaiki satu mobil, selama perjalanan, mereka habiskan dengan canda tawa, kecuali Helena yang memilih untuk menyimak.


Setelah beberapa saat dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai ke tujuan.


Deg! Hati Helena seketika tersentak, badannya panas dingin, saat melihat kediaman Beeve yang ia anggap gadis miskin bak istana, ukurannya tiga kali lebih besar dari rumah orang tua Helena.


Dia orang kaya? Tapi, kenapa enggak kuliah? batin Helena.


Gerbang rumah Beeve yang setinggi 4 meter pun terbuka otomatis, perlahan mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu utama, Julian yang telah menunggu berdiri di teras.


Helena yang duduk di dekat pintu, membuka handle pintu mobil dengan tangan yang berkeringat.


Ceklek!


Ketika Helena akan turun, pertahanannya seakan roboh, hampir saja ia tumbang, beruntung Beeve yang berada di belangnya menumpu badannya.


“Kau enggak apa-apa Helena?” sapa Beeve, sebab wajah dokter cantik itu nampak pucat.


“A-ku enggak apa-apa kak.” ucap Helena dengan suara terbata-bata.


Kenapa aku jadi gentar melihat kak Beeve? Ayo Helena, biasa saja! Helena pun menyemangati dirinya sendiri.


Perlahan ia pun bangkit, Emir yang ternyata mengamati istrinya merasa kasihan, rasa marahnya perlahan berkurang, saat ia berpikir Helena kurang sehat karena sakit.


Sudahlah, tak ada gunanya masalah ini ku perpanjang, toh dia istri ku, aku harus ada di sampingnya dalam keadaan apapun, batin Emir.


Ia yang yang duduk di kursi kemudi keluar dari dalam mobil, selanjutnya merangkul bahu Helena.


“Apanya yang sakit?” tanya Emir dengan mengelus puncak kepala istrinya.


Helena mendongak, “Aku enggak apa-apa bang,” jawab Helena.


“Kau yakin Helena?” tanya Rahma memastikan kondisi menantunya.


“Iya bu,” sahut Helena.


Karena semua baik-baik saja, mereka beranjak masuk ke dalam rumah, Julian pun menyambut dengan perasaan senang.


“Bee, selamat ya dek.” Julian memeluk adiknya yang tengah berbadan dua.


“Iya bang.” Beeve pun masuk ke dalam rumah, lalu duduk di atas kursi yang telah disediakan di barisan paling depan berdampingan dengan Andri.

__ADS_1


Tak lama, para tamu undangan berdatangan, dan acara pengajian pun di mulai.


Helena terus saja melirik ke arah Beeve, yang duduk tepat di hadapannya selama acara berlangsung.


Setelah pengajian selesai, para anggota keluarga duduk di ruang tamu.


“Jul, keponakan mu sebentar lagi akan 4, kapan kau akan menikah? Usia mu juga sudah enggak muda lagi, nanti Tuhan lepas tangan loh kalau kau terlalu banyak memilih,” Andri meledek iparnya.


“Akh, kalau aku sih masih santai, enggak mau buru-buru,” ucap Julian.


“Enggak mau buru-buru, apa masih trauma untuk memulai kembali?” ujar Andri, yang tahu Julian pernah patah hati karena seorang wanita.


“Astaga... aku sudah lama melupakan hal itu, jangan kau ungkit lagi, kali ini memang murni aku belum siap, itu saja,” terang Andri.


“Jangan terlalu lama sendiri, memangnya kau enggak kesepian tinggal di rumah sebesar ini sendirian?” tanya Rahma dengan tertawa cekikikan.


“Ehm, enggak terlalu sih tan, karena aku selalu sibuk di luar, di rumah hanya tempat tidur dan mandi saja,” jawab Julian.


“Apa perlu, ku kenalkan gadis pada mu bang?” ucap Beeve yang berencana menjodohkan teman lamanya pada Julian.


“Astaga Bee, aku masih sendiri bukan karena enggak laku, aku masih ingin fokus mengelola perusahaan.” akibat gila kerja Julian sampai lupa mencari pasangan.


“Pokoknya kau harus menikah tahun ini bang, aku enggak tega kalau kau melajang terus, pokoknya wajib ya.” Beeve yang ingin melihat abangnya punya pasangan terus mendesaknya.


“Aku enggak janji,” ucap Andri.


Uhuk uhuk uhuk...


Beeve yang duduk di sebelahnya menepuk punggung suaminya.


“Mas, kau baik-baik saja?” tanya Beeve.


“Iya sayang.” Jawab Andri, namun makin lama batuk Andri kian parah.


“Nih, minum dulu.” Emir memberi air mineral kemasan botol pada Andri.


“Aku ke toilet saja,” ucap Andri.


“Mau ku temani mas?” Beeve yang tak pernah melihat Andri batuk separah itu, menjadi cemas, ia takut kalau itu salah satu penyakit komplikasi suaminya yang dulu.


“Enggak usah sayang, aku sendiri saja, kasihan kalau kau cape,” ucap Andri.


“Ya sudah, di kotak PPPK yang di dapur ada obat batuk, nanti mas sekalian minum ya,”ujar Beeve.


“Oke sayang, terimakasih banyak.” Andri pun bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


Saat masih setengah jalan ia kembali batuk, deg!


“Darah?” Andri sangat terkejut, saat mulutnya mengeluarkan darah.


“Ya Allah, ada apa lagi ini? rasanya aku sudah sehat, semoga ini bukan penyakit serius.” hati Andri sangat cemas dengan kondisi dirinya saat itu.


Ia pun buru-buru menuju wastafel yang ada di dapur untuk berkumur-kumur, namun batuknya malah semakin parah, darah yang keluar juga lumayan banyak.


Setelah menghabiskan waktu 10 menit di dapur, akhirnya Andri merasa lebih baik. Ia pun segera minum obat batuk, kebetulan di kotak PPPK terdapat sebungkus masker berwarna hitam.


Lebih baik aku pakai, takutnya kalau aku batuk berdarah lagi, semua orang akan melihat, batin Andri.


Ia yang telah selesai pun kembali ke ruang tamu, “Andri, kau baik-baik sajakan nak?” tanya Yudi yang cemas pada putranya.


“Iya yah,” jawab Andri seraya duduk di sebelah Beeve.


“Kenapa lama sekali disana?”


“Aku sekalian minum teh madu yah.” Andri memilih berbohong karena tak ingin keluarganya khawatir.


“Pulang dari sini kita langsung ke klinik untuk berobat.” ujar Rahma yang ingin memastikan kondisi putranya.


“Aku enggak apa-apa bu, enggak perlu kesana, toh aku sudah minum obat batuk tadi.” Andri menolak saran dari ibunya, sebab ia takut jika yang ia alami sekarang bukan batuk biasa.


“Ya sudah kalau begitu, tapi kau harus minum obat teratur ya,” ucap Rahma.


“Iya bu.” pukul 22:00 malam, keluarga Han telah sampai di rumah. Pada saat semua orang terlelap, mata Andri masih terbuka lebar.


Semoga saja bukan penyakit menakutkan, batin Andri.


Lalu ia pun menoleh ke wajah istrinya yang telah tidur pulas.


Sayang, ku harap kau selalu mendo'akan kesehatan ku, ya Tuhan, tolong panjangkan umur ku, aku masih ingin hidup lebih lama bersama istri dan anak-anak ku, batin Andri.


Perlahan air matanya menetes, entah mengapa ia merasa dirinya tak baik-baik saja.


Pagi harinya, sebelum ke kantor Andri menyempatkan diri untuk ke rumah sakit, ia yang telah berdiri di depan ruangan dokter spesialis paru merasa ragu untuk membuka pintu ruangan tersebut, namun ia yang ingin memastikan kondisi dirinya memberanikan diri untuk masuk.


Ceklek!


Krieeett!!


“Selamat pagi pak Andri, apa kapar?” sapa dokter kenalannya.


...Bersambung......

__ADS_1




__ADS_2