
Rasanya tubuh Sila bergetar, ia sama sekali tidak berani menatap wajah kedua wanita itu.
Begitu juga dengan Rafael, ia juga merasa terganggu dengan kedatangan ibunya dengan Aurel. Entah kenapa Rafael sangat membenci Aurel.
Maya dan Aurel berjalan mendekati Rafael dan juga Sila. Kedua wanita itu menatap dengan penuh tanda tanya.
Rafael semakin mempererat pegangan tangannya, lelaki itu benar tidak ingin jika Sila pergi.
"Sayang, sekarang kamu masuk ke dalam ya, enggak baik di luar kelamaan, nanti biar Aurel yang temenin kamu. Aurel itu kangen loh sama kamu," ucapan Maya benar-benar telah menusuk hati Sila. Sekilas Maya melirik Sila dengan tatapan tidak suka.
Aurel hendak mengambil alih kursi roda Rafael, tapi ia menghentikannya. Lalu meraih tangan Sila.
"Aku akan kembali bersama Sila, ayo Sil," ujar Rafael. Raut wajah Aurel seketika memerah menahan emosinya.
"Tap .... "
"Sila ayo," potong Rafael cepat. Sila pun bergegas mendorong kursi roda Rafael.
Aurel dan Maya merasa sangat geram, terlebih Aurel, wanita itu telah di abaikan secara blak-blakan.
Ingin rasanya Aurel mencabik-cabik wajah Sila.
"Tenang Sayang, Tante pastikan Rafael akan menjadi milik kamu," Maya mencoba menenangkan Aurel. Sementara Aurel hanya menganggukkan kepalanya.
***
Seminggu sudah Rafael sadar dari komanya, dan perlahan ingatan Rafael mulai kembali seperti semula. Hanya saja jika terlalu memikirkan hal-hal yang berat, kepalanya akan terasa sakit.
Kini Rafael sudah berada di rumah, dan seperti biasa lelaki itu sama sekali tidak ingin jauh dari Sila, istrinya.
Saat ini Sila tengah menemani Rafael di kamar, dan sekarang adalah saat yang tepat bagi Sila untuk memberitahu jika dirinya tengah hamil.
Namun sebelum itu, Sila akan memperlihatkan foto-foto pernikahannya, agar Rafael yakin jika mereka adalah pasangan suami istri yang sah. Tak lupa Sila jika menunjukkan cincin pernikahannya.
Saat ini Rafael tengah duduk di ranjang dengan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang, sementara Sila duduk di hadapannya.
"Jadi ini foto pernikahan kita?" tanya Rafael, matanya pun beralih menatap gadis yang duduk di hadapannya.
"Iya Kak, itu foto pernikahan kita," sahut Sila. Lalu ia mengambil kotak kecil yang berisi cincin tersebut.
"Itu apa?" tanya Rafael, saat melihat Sila mengambil kotak kecil itu.
Sila pun membukanya, terdapat dua cincin, miliknya dan milik Rafael.
Kemudian Sila memasangkan cincin tersebut di jari miliknya dan juga jari milik Rafael.
"Ini cincin pernikahan kita Kak," ucap Sila. Ia pun tersenyum memandangi cincin tersebut.
"Dan satu lagi Kak," sambung Sila. Ia menarik tangan Rafael, lalu ia letakkan di perutnya yang mulai membuncit.
Kening Rafael berkerut. "Kenapa." Ia masih terlihat bingung.
__ADS_1
"Sila hamil Kak, di sini ada anak kita," jelas Kaysila. Ia pun tersenyum dan mengangguk, agar Rafael percaya dan yakin.
Rafael tersenyum, lalu mengelus-elus perut istrinya yang terasa mulai membuncit.
Sila pun tersenyum, setelah hampir 3 bulan, akhirnya Sila bisa merasakan sentuhan suaminya itu.
***
Tak terasa malam telah tiba, malam ini Sila tengah menyiapkan makan malam untuk Rafael.
Saat Sila hendak mengantar makanan tersebut, tiba-tiba Maya datang menghampirinya.
"Untuk siapa makanan itu," ketus Maya. Ia menatap Sila dengan tatapan yang tidak suka.
"Buat Kak Rafael ma," jawab Sila. Ia pun hendak melangkahkan kakinya, tapi lagi-lagi Maya mencegahnya.
"Sini biar saya saja," ujar Maya. Ia pun mengambil paksa nampan tersebut.
Mau tidak mau Sila mengalah, Maya bergegas naik ke atas menuju ke kamar Rafael.
Setibanya di atas, Maya segera masuk ke dalam, terlihat Rafael tengah duduk di ranjang dengan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
Maya berjalan mendekati Rafael, lalu meletakkan nampan tersebut lalu duduk di sebelah Rafael.
Maya tersenyum, lalu mengambil piring yang berisi nasi dan lauk.
"Sayang, sekarang kamu makan dulu ya," ujar Maya. Ia pun menyuapi putranya itu.
Satu suap nasi telah masuk ke dalam mulut Rafael, baru beberapa detik, tiba-tiba Rafael memuntahkan semua makanan tersebut.
Maya terkejut. "Rafael kenapa." Wanita itu terlihat kesal.
Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Rafael langsung mengambil gelas yang berisi air minum tersebut, lalu meneguknya.
Kemudian, Maya mencoba makanan yang ia bawa tadi, dan ia juga sama memuntahkan makanan tersebut.
"Makanan apa ini, kenapa rasanya seperti ini," ujar Maya. Wanita itu terlihat geram.
"Ini pasti kerjaan perempuan itu," sambung Maya.
"Siapa ma?" tanya Rafael. Lelaki itu merasa heran.
"Siapa lagi kalau bukan istri kamu," tuduh Maya. Wanita itu memang sangat membenci menantunya itu.
Rafael menggelengkan kepalanya. "Rafael enggak percaya ma." Ia pun mengalihkan pandangannya.
"Ya sudah, itu terserah kamu, tadi dia yang nyiapin makanan ini, jadi sudah pasti, kalau ini semua ulah dia," ujar Maya. Ia pun beranjak pergi dari kamar Rafael sembari membawa nampan tersebut.
Rafael hanya bisa terdiam, ia mencoba mencerna ucapan ibunya itu. Rafael tidak yakin kalau semua itu ulah Sila, tidak mungkin istrinya berbuat seperti itu. Meski ingatannya belum kembali total, tapi Rafael percaya, istrinya tidak akan berbuat seperti yang ibunya tuduhkan.
***
__ADS_1
Maya sudah tiba di bawah, wanita itu melihat Sila tengah mencuci piring, dengan cepat Maya menghampiri Sila. Dengan kasar Maya meletakkan nampan tersebut, hal itu membuat Sila terlonjak kaget.
"Mama." Lirih Sila. Ia tidak berani menatap wajah ibu mertuanya itu.
"Kamu kasih apa makanan ini, sampai-sampai Rafael memuntahkan semuanya," tuduh Maya. Matanya menatap tajam ke arah Sila.
"Sila enggak kasih apa-apa ma," sahut Sila, ia terkejut mendengar tuduhan itu.
"Jangan bohong kamu, sekarang rasakan sendiri," seru Maya. Tangannya tiba-tiba mencengkeram rahang Sila, lalu dengan paksa menyuapi Sila dengan makanan tersebut.
Seketika Sila memuntahkan makanan itu. Ia tidak menyangka kenapa makanan yang ia siapkan sendiri berubah seperti itu.
Padahal saat Sila memasaknya rasanya tidak seperti itu.
"Enak makanannya, jangan-jangan kamu sengaja ya, mau meracuni anak saya, iya!" Bentak Maya. Lalu tiba-tiba Maya mendorong tubuh Sila dengan keras.
Kepala Sila terbentuk dinding, dan hal itu membuat pelipisnya mengeluarkan cairan pekat bewarna merah. Sila meraba pelipisnya, terasa sakit. Ia pun melihat jarinya yang terkena cairan merah tersebut.
"Jangan harap kamu bisa mendapatkan anak saya, sampai kapanpun saya tidak rela Rafael hidup bersama perempuan seperti kamu," seru Maya. Lalu ia beranjak pergi meninggalkan Sila.
Sila hanya bisa menangis, begitu berat cobaan hidupnya, andai bukan karena cinta, ingin rasanya ia pergi jauh. Di mana orang tidak bisa menemukan dirinya.
Setelah cukup lama, Sila pun bangkit, ia membersihkan lukanya sendiri.
30 menit kemudian Sila kembali ke kamar, setelah selesai mencuci piring dan membersihkan luka di pelipisnya.
Sila berharap nanti Rafael tidak melihat luka tersebut, karena itu akan menjadi masalah. Setibanya di kamar, Sila melihat jika Rafael masih terjaga.
Dengan tenang Sila berjalan menghampirinya. "Kakak belum tidur." Lalu duduk di sampingnya.
Rafael hanya menggelengkan kepalanya, lalu menatap lekat wajah istrinya itu. Sila merasa risih dengan tatapan Rafael, tidak seperti biasanya Rafael menatap Sila seperti itu.
"Ada apa Kak, apa ada yang salah?" Sila memberanikan diri untuk bertanya.
Lagi-lagi Rafael hanya menggelengkan kepalanya. "Tidur sudah malam." Tangannya menepuk sisi ranjang sebelahnya.
"Iya Kak," sahut Sila. Ia pun naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Rafael.
Rafael pun ikut merebahkan tubuhnya, Sila menarik selimutnya dan mencoba memejamkan matanya. Mungkin karena lelah, tidak butuh waktu lama Sila memejamkan matanya.
Namun tidak bagi Rafael, lelaki itu masih tetap terjaga.
Rafael pun memiringkan tubuhnya menghadap Kaysila, istrinya sudah terlelap, sementara dirinya belum bisa memejamkan matanya.
Perlahan Rafael mengusap pipi Sila, lalu menyelipkan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.
Tiba-tiba Rafael terkejut saat melihat pelipis Sila yang terluka, entah luka itu dapat dari mana, apa mungkin Sila terjatuh?.
Pertanyaan itu muncul begitu saja di benak Rafael. Perlahan ia mendekatkan tubuhnya, lalu mencium kening istrinya itu.
Setelah Rafael memeluk tubuh istrinya itu, dan mencoba memejamkan matanya. Rafael akan mempertanyakan hal itu besok.
__ADS_1