Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 66 (Sreet!!!)


__ADS_3

Dengan datar dan tanpa bersalah, Andri mengarahkan pisau tajam yang ada di tangannya ke leher Arinda, yang membuat Arinda berteriak histeris, ketika Arinda ingin bangkit, Andri mencengkram kuat tangan Arinda.


“Tolong jangan pak! Jangan!! Aku masih mau hidup pak, ampun!!” pinta Arinda, air mata ketakutannya pun telah menyatu dengan hujan, meski begitu Andri yang terlanjur gelap mata, menyayat pergelangan tangan Arinda yang ia ganggang kuat.


Sreet....


“Akhhh!!!!” semua orang berteriak dan menangis menyaksikan keganasan manjakan mereka. Winda yang sudah tak bisa membiarkan semuanya nekat mendekat dan menarik mundur tubuh Andri.


“Sadar tuan! ingat Tuhan!” ucap Winda.


“Akhh!! Akhh!!” Arinda berteriak sejadi-jadinya, darah dari pergelangan tangannya pun mulai mengucur. Dengan tatapan mata tajam Andri berkata.


“Kali ini kau ku lepaskan! Ingat aku enggak pernah main-main kalau sudah marah, dan aku juga enggak suka pada orang-orang licik seperti mu, sekali lagi kau berbuat nekat, tamat riwayat mu!” Ancam Andri dengan aura mengerikan.


“I-iya pak.” ucap Arinda gemetaran


Puas membuat Arinda ketakutan, Andri pun melepas cengkeramannya.


Arinda yang mendapatkan celah tak mensia-siakan waktu, dengan ketakutan setengah mati ia berlari ke motornya.


Dan melaju dengan kecepatan penuh meninggalkan laki-laki yang hampir saja mencabut nyawanya.


Sedang Andri menatap tajam para Art nya satu persatu, kemudian ia pun mengeluarkan ancaman selanjutnya.


“Tutup mata, telinga dan mulut kalian, anggap semua tak pernah terjadi, apabila sampai ada orang lain yang tahu tentang masalah ini, kalian semua selesai, terutama istri ku, dia enggak boleh tahu hal ini!” Semua orang menganggukkan kepalanya.


“Winda!”


“Iya tuan,” jawab Winda.


“Cepat bereskan kamar, jangan ada tanda-tanda aktivitas disana! Yang lainnya bubar!” titah Andri.


Semua Art yang ada berdiri di teras segera melaksanakan titah Andri.


30 menit kemudian, Beeve dan Emir pun tiba di rumah.


Beeve yang bertemu Winda di ruang tamu pun bertanya.


“Apa mas Andri sudah pulang mbak?”


“Sudah nyah.” jawab Winda dengan wajah tegang dan mata yang merah.


“Kau baik-baik saja mbak?” tanya Beeve karena khawatir.


“I-iya nyah, saya baik-baik saja kok nyah, permisi,” ucap Winda.


“Tunggu mbak, tolong panggil yang lainnya, kita rayakan sama-sama ulang tahun mas Andri,” ujar Beeve.


“Baik nyah.” ucap Winda, yang segera melaksanakan titah dari sang majikan.


Emir yang baru tiba ke ruang tamu dengan aksesoris ulang tahun pun bertanya.


“Ada apa Bee?”

__ADS_1


“Bukan apa-apa, tapi mbak Winda sepertinya baru menangis,” terang Beeve.


“Oh, itu sih biasa, mungkin habis makan seblak, jangan di pikirkan,”


“Iya, mas bantu aku untuk menyalakan lilin ya,” pinta Beeve.


“Oke.” Beeve pun mulai menaruh lilin dengan angka 26 di atas kue.


Emir yang memiliki pemantik mulai menyalakan lilin tersebut.


“Mas, kau ikut ke kamar kan?”


“Memangnya boleh, aku masuk ke ruang privasi mu?”


“Bolehlah mas, kau kan adik mas Andri,” ucap Beeve.


“Tapi, tetap saja aku ini orang lain,”


“Ngomong apa sih mas? Ayo ah!” ujar Beeve, dan para Art pun telah tiba di hadapan kamar Andri dan Beeve.


“Bagikan mas terompet dan balonnya pada mereka," titah Beeve.


“Nanti setelah pintu terbuka kita sama-sama menyanyikan lagu selamat ulang tahun ya,” ucap Beeve dengan semangat.


Namun semua Art nya hanya menjawab baik dengan nada yang pelan.


Emir pun membuka handle pintu, sedang Beeve memegang kue di tangannya.


Ketika pintu terbuka, mereka semua melihat Andri yang tengah duduk bersandar ke punggung ranjang.


“Selamat ulang tahun!!!! Selamat ulang tahun!! selamat ulang tahun suami ku, semoga panjang umur!!” seru Beeve.


Andri yang mendapat surprise dari sang istri sama sekali tak terkejut, namun karena ia ingin membahagiakan istrinya, ia pun pura-pura merasa bahagia.


“Ya ampun sayang!! Apa semua ini?” tanya Andri dengan mata berkaca-kaca dan senyum lebar.


“Kejutan mas!! Selamat ulang tahun ya suami ku.” Beeve mendekat ke suaminya. Lalu Andri bangkit dari ranjang dengan senyum sumringan seolah tak terjadi apapun.


“Sebelum tiup lilin buat permintaan dulu mas,” ucap Beeve.


Lalu Andri menadahkan tangannya lalu mengucap do'a dalam hati.


“Ya Allah maafkan atas kekhilafan ku, ku mohon lancarkan hubungan ku dengan istri ku, buatlah hanya maut yang dapat memisahkan kami, serta singkirkan Arinda sang benalu dari hidup ku, aamiin.” selesai memanjatkan do'a pada yang kuasa, ia pun meniup lilin berangka 26 itu.


“Yeiii!! Kau sudah tambah tua mas!” teriak Beeve, kemudian yang lainnya memberi tepuk tangan dengan wajah gelisah.


Emir yang merasa ada keanehan pada para Art pun menaruh curiga.


Andri mencium kening istrinya, “Terimakasih ya sayang, aku senang banget dan juga bersyukur di usia ku yang sekarang ada kau di samping ku,m.” ungkap Andri.


“Mana hadiahnya mas?” Beeve meminta tas kadonya pada Emir. Lalu Emir menyerahkan pada Beeve.


“Ini kado dariku mas, aku enggak tahu apa kau suka, yang jelas aku membelinya dari hati,” terang Beeve. Andri pun membuka kado pemberian istrinya, yang ternyata adalah jam tangan biasa.

__ADS_1


“Terimaksih sayang, asal itu darimu aku pasti suka,” ucap Andri.


“Maaf, aku enggak beli yang bermerek, karena sayang kalau uang kerja keras mu ku hambur kan.” terang Beeve yang kasihan lada suaminya, jika ia boros.


“Hahaha, aku enggak akan rugi sayang kalau kau membeli sedikit yang lebih mahal.” ucap Andri yang makin cinta pada Beeve.


“Dari pada itu, mending beli tanah kan mas? Bisa buat aset,” ujar Beeve.


“Sudahlah, beli saja tanah berapapun yang kau mau.” setelah meletakkan kado ke atas ranjang, Andri memotong kue yang ada di tangan istrinya.


Kemudian kue pertama ia berikan pada Beeve, selanjutnya yang kedua ia berikan pada adik tersayangnya.


“Selamat ulang tahun Ndri, mudah-mudahan panjang umur, semoga segala yang kau inginkan di ijabah oleh Allah SWT.” ucap Emir seraya memberi abangnya kado, kemudian Andri memeluk sang adik terkasih.


“Terimakasih Mir, aku senang kau ada disini,” ucap Andri.


“Ayo mbak, kalian salam mas Andri.” pinta Beeve pada para Art nya yang masih ada di depan pintu


Dengan keadaan terpaksa dan rasa takut di setiap hati masing-masing, mereka pun masuk dan memberi ucapan selamat dan do'a pada sang majikan.


Raut ketegangan nampak jelas di wajah mereka satu persatu, yang membuat Emir semakin curiga.


Ada apa ini sebenarnya? batinnya bertanya-tanya.


Sedangkan Beeve yang manis sibuk memotong-motong sisa kue yang ada, lalu membagikannya pada Art keluarga mereka.


“Loh mbak, Arinda mana? Bukannya tadi dia disini?” tanya Beeve pada Winda yang ada di hadapannya. Andri sontak melirik tajam ke arah istrinya, beruntung Beeve tak melihat sorot mengerikan itu.


Dengan gugup Winda menjawab, “Non Arinda sudah pulang nyonya,”


“Hah? Pulang? Di hujan yang deras begini dia lanjut pulang?”


“I-iya nyonya.” ucap Winda dengan perasaan gelisah, ia berharap Beeve tak melontarkan pertanyaan tentang Arinda lagi.


“Aneh ya dia, mbak jadi mengambilkan baju untuknya dari kamar tamu?”


“Iya nyonya, tapi non Arinda tak jadi memakainya,”


“Oh... gitu ya mbak, mas tadi sempat ketemu Arinda enggak?” tanya Beeve pada suaminya.


“Enggak sayang.” jawab Andri dengan santai.


“Aneh ya mas, pada hal kau dia mampir pasti mainnya lama, mungkin dia ada urusan kali ya,” gumam Beeve.


Setelah acara potong kue selesai, mereka semua pun menuju meja makan, karena Beeve dan Emir juga membeli ayam goreng dengan porsi yang banyak, untuk di santap bersama-sama.


Karena hari itu adalah ulang tahun suaminya, Beeve menaruh perhatian lebih pada Andri, ia juga menyuap sang suami dengan tangannya langsung.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....


Halo readers, jangan lupa untuk mampir ke karya author yang lagi viral saat ini.

__ADS_1




__ADS_2