
“Bu cukup, lagi pula sudah terjadi, jangan ribut-ribut lagi bu.” ucap Andri yang merasa lelah.
“Apa sih kau Ndri? Benar begitu kan? Sebenarnya kami ada hak untuk tidak bertanggung jawab pada putri mu, memalukan sekali, anda tahu! kalian ini telah gagal mendidik anak setan ini! Masuk ke kamar orang pada saat mati lampu, kan konyol! Ya wajar saja kalau anak ku berpikir itu istrinya, setelah anak mu buntin* malah sok-sok jadi korban meminta pertanggung jawaban! Akh!! Bikin kesal!” Rahma menghentakkan kakinya ke lantai.
Dimas dan Elia tak dapat mengangkat kepala saking malunya.
Arinda yang baru datang dari dapur membawa teh manis dingin di atas nampan.
Ia pun menghidangkannya pada tamu dan kedua orang tuanya.
Arinda yang tak tahu malu duduk di sebelah ibunya seraya melempar senyuman manis pada keluarga Andri.
“Dasar enggak punya malu! Bisa-bisanya kau tersenyum saat genting begini, kau pikir aku suka?!” pekik Rahma yang membuat Arinda mengehentikan senyumannya.
“Benar ini wanitanya?" tanya Rahma pada Andri, Andri pun mengangguk.
“Jelek!” ucap ketus Rahma yang membuat Arinda cemberut.
“Sudah bu, cukup ya.” ucap Yudi menenangkan istrinya, lalu Yudi pun mulai buka suara.
“Maaf atas ucapan kasar istri ku, terkait yang sudah terjadi, apa harus pernikahan solusinya?” tanya Yudi pada keluarga Arinda.
“Tentu, selain siapa yang salah atau pun benar, kami hanya mengharapkan pernikahan sebagai bentuk tanggung jawab nak Andri," ujar Dimas.
“Hum.” Yudi melirik anaknya, Andri pun mengangguk pada sang ayah.
“Benar kau sudah siap Ndri dengan segala resiko ke depannya? Karena ini berat, sangat berat,” ucap Yudi dengan serius.
“Andri siap yah,” jawabnya dengan ragu.
Rahma mendengus, hatinya sangat tak rela dengan keputusan sang anak.
“Banyak yang akan hilang kalau kau sampai melakukannya,” timpal Rahma.
“Justru itu, bantu Andri bu,” ucap Andri.
Dengan menahan setengah tangis Rahma mengangguk, meski batinnya tak dapat menerima Arinda, namun demi sang putra tercinga ia harus memberi restu.
“Mm... baiklah, kapan kita lakukan pernikahan ini?” tanya Rahma.
“Secepatnya bu,” ucap Elia.
“Tidak ada perayaan ya, hanya nikah siri,” ucap Rahma.
“Tapi tante, ini adalah pernikahan sekali seumur hidup ku, aku ingin ada resepsi, untuk mengundang teman-teman dan keluarga ku.” ucap Arinda yang memperjuangkan haknya.
__ADS_1
“Tutup mulut busuk mu! Bersyukur aku masih mau merestui kalian, meski batin ku tak terima, ini semua ku lakukan demi anak ku, ketahuilah menantu ku hanya ada satu, yaitu Beeve! Ingat itu dalam kepala kalian semua!” hardik Rahma kesal.
Seketika Arinda jadi bungkam, Rahma dengan terang-terangan menunjukkan sifat aslinya pada Arinda dan kedua orang tuanya.
“Sabar bu.” Yudi menggenggam tangan Rahma.
“Ibu benci yah sama perempuan ini, menyebalkan sakali!” Arinda yang tak dapat penghargaan dari Rahma menjadi kesal.
Beeve, Beeve, Beeve terus! Awas saja kau mertua sialan! Kalau anak mu sudah ku kuasai, akan ku balas semua perbuatan mu! batin Arinda.
Orang tua Arinda hanya menunduk, karena sudah tak punya nyali untuk menegakkan kelapa.
“Jadi kapan kira-kira waktu yang tepat?” tanya Yudi.
“Karena tak ada resepsi, bagaimana kalau besok pak?” usul Dimas pada Yudi, tanpa pikir panjang Yudi pun menyetujuinya
“Baiklah pak, besok kami akan kembali kesini, siapkan saja penghulu,” ucap Yudi.
“Baik pak,” sahut Dimas.
Setelah menemui titik terang, keluarga Andri pun memutuskan untuk kembali.
Arinda yang kini berada di kamarnya jadi senyum-senyum sendiri, sebab rencananya berjalan dengan sempurna.
“Aku tahu, ini semua akan berhasil,” gumam Arinda.
Dan Arinda juga sudah menyusun rencana, agar Andri mengantarnya pulang ke rumah.
“Sempurna!” Arinda tersenyum puas.
“Sekarang memang aku belum ada di hati mu mas, tapi anak ini akan membawa ku ke dalam hati mu, bagaimana tidak? Karena inilah anak biologis mu yang sesungguhnya, enggak apa-apa jadi istri siri, asal nantinya aku dan anak ku dapat warisan, hahaha! Terimakasih, semua berkat kehadiran mu anak ku sayang! Karena kau, takdir ibu akan berubah.” ucap Arinda seraya mengelus perutnya.
______________________________________________
Emir yang tak pergi ke kampus menghabiskan waktunya dengan meminum absinthe di sebuah cafe sendirian.
Pikirannya melayang-layang, ia begitu prihatin akan orang yang ia cintai.
“Kasihan kau Bee, nasib mu malang sekali, coba kau tak terburu-buru untuk menikah, pastinya kau takkan menderita begini.” ucap Emir seraya meneguk absinthe yang ada di gelasnya.
“Kalau kau memang ingin menikah muda, kenapa enggak bilang pada ku? Aku akan senang hati mempersunting mu, karena kau lah satu-satunya wanita yang ada di hati ku Beeve sayang!” Emir yang telah mabuk mulai meracau tak jelas.
Ia pun membuka aplikasi Whats*ppnya dan melihat status photo yang di upload Beeve dengan tulisan.
“Menunggu suami.” Emir tertawa getir, dan membanting handphonenya ke lantai, beruntung handphone mahalnya hanya lecet sedikit.
__ADS_1
“Bodoh! Mana mungkin dia datang Bee! Dia sedang sibuk mengurus pernikahan keduanya, akhh!!” Emir terus menggerutu.
Saat ia sedang asyik meneguk isi gelasnya, tiba-tiba handphonenya berdering, dengan langkah sedikit sempoyongan ia mengambil handphonenya yang ada di lantai.
Ketika ia memeriksa, ternyata yang menelepon adalah ibunya.
📲 “Halo bu,” Emir
📲 “Jam berapa kau pulang?” Rahma.
📲 “Belum tahu bu,” Emir.
“Bu, apa kita berangkat sekarang membeli seserahan?” ucap Andri dari balik telepon. Emir yang tahu kalau Andri berada di rumah menjadi gusar.
“Tunggu sebentar, ibu sedang menelepon Emir," sahut Rahma.
Apa dia lupa kalau Beeve menunggunya? batin Emir.
📲 “Pulanglah setelah selesai kelas, karena ibu butuh bantuan mu untuk membeli beberapa perlengakpan pernikahan Andri, agar semuanya cepat, karena besok pagi, kita akan ke rumah perempuan itu,” Rahma.
📲 “Aku enggak ikutan bu! Kalian saja! Sudah dulu, aku sibuk!” Emir.
Emir menutup panggilan ibunya, ia pun melihat ke jam rolex nya yang telah menunjukkan pukul 17:20.
Ia yang kepikiran akan Beeve memutuskan untuk berangkat ke kampus.
Biar aku yang menjemput mu Bee, batin Emir.
_____________________________________________
Beeve yang duduk di taman kampus mulai merasa bosan, karena Andri telah terlambat menjemputnya selama 30 menit.
“Apa mas Andri ada pekerjaan dadakan ya?” gumam Beeve.
Lalu ia mendial nomor suaminya, namun tak kungjung di angkat.
“Mungkin memang ada kerjaan lain, atau sedang macet di jalan? Makanya mas Andri telat, tapi kenapa telepon ku enggak di angkat? Ini sudah panggilan ke 5 ku,” gumam Beeve.
Ternyata handphone Andri terletak di ruang tamu rumah orang tuanya, ia yang sibuk dengan pernikahannya sampai lupa akan janjinya pada sang istri.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1