Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 122 (Acting)


__ADS_3

Andri menganggukkan kepala. Ia pun menatap lekat wajah Arinda.


“Saya permisi pak.” ucap sang dokter.


“Baik dok, terimakasih banyak.” setelah sang dokter pergi, Andri mengelus puncak kepala Arinda dengan lembut.


Beeve yang berdiri di belakang Andri menyaksikan itu semua, ia pun menelan salivanya. Beeve yang cemburu memutuskan untuk keluar dari dalam kamar Arinda dengan membanting pintu.


Andri yang sadar jika Beeve tak suka dengan hal itu segera menyusul.


“Sayang, sayang!” Andri menggenggam tangan Beeve.


“Lepas!” Beeve menghempaskan tangan suaminya. Andri yang melihat mata istrinya memerah jadi merasa bersalah.


“Sayang, maafkan aku, tapi kau lihat sendirikan kondisinya?” ucap Andri.


“Iya aku lihat, dan dia itu hanya pura-pura mas, tujuannya untuk mengambil perhatian mu!”


“Sayang, kenapa kau berpikir begitu? Dokter saja bilang kalau tensinya rendah, mengertilah sayang, dia sedang mengandung, sama seperti mu,” terang Andri.


“Iya, dia mengandung anak mu, sedangkan aku tidak, maka dari itu kemarin aku minta cerai, agar apa? Agar kau bahagia bersama dia! Dan juga anak kandung mu!” Beeve yang emosional menitihkan air mata.


“Sayang, kenapa kau mudah sekali untuk berkata cerai? Jangan katakan lagi yang, aku enggak mau kalau harus berpisah dengan mu,.” ucap Andri seraya memegang kedua pipi Beeve dengan kedua tangannya.


“Kau enggak mengerti mas, hati ku sakit saat kau perhatian padanya, batin ku tersiksa saat kau menyentuhnya, baru kepalanya saja sudah membuat ku sesak nafas, apa lagi membayangkan mu bercinta dengannya, aku hampir gila mas! Belum lagi aku sadar, tak ada restu untuk ku di keluarga mu, aku sadar posisi ku enggak ada tempat yang layak, hiks...” Beeve menangis meratapi nasibnya.


“Sayang, jangan menangis, ku mohon.” Andri mengusap air mata Beeve dengan ibu jarinya.


“Aku hanya bisa menangis untuk menenangkan hati ku, abang ku juga enggak menginginkan ku, kau pun perlahan akan membagi hati mu padanya.”


“Enggak akan sayang, cinta dan hati ku untuk hanya untuk mu.” Andri mengecup Beeve yang menangis tiada henti.


“Kau bohong mas! Perhatian mu yang tadi adalah contoh kecil kalau kau ada hati padanya, cinta itu bisa datang kapan saja, apa lagi kalau anak mu sudah lahir, jelas kasih sayang mu akan kau tuang untuknya, bukan aku, bagaimana pun, seorang ayah akan mencintai anaknya, dan anak kalianlah yang akan menyatukan kalian, mas ceraikan aku saja, biarkan aku berjuang untuk hidup ku sendiri.” Beeve benar-benar tak sanggup menghadapi kemungkinan di masa depan.


“Kalau bicara jangan sembarangan, kau enggak boleh pergi, dan enggak akan ada kata cerai di antara kita, kalau masalah anak yang kau takutkan, setelah kau melahirkan, kau bisa mengandung anak ku, dan aku akan menceraikan Arinda, dan mengambil hak asuh anak ku, apa dengan begitu kau senang?” Andri meyakinkan Beeve yang meragu.


“Aku enggak tahu mas, aku enggak tahu.” Beeve melepas pelukan Andri, namun Andri memeluk Beeve kembali.

__ADS_1


“Maafkan aku telah melukai mu, tapi bersabarlah, aku akan membahagiakan mu, tolong jangan katakan cerai, terima aku dengan kekurangan ku sayang, dan ” Andri mengecup lembut bibir istrinya.


Arinda yang mengintip dari balik pintu kamarnya hampir pingsan. Karena usahanya berbuah busuk.


Sial! Kalau begini aku akan mengadu pada orang tua mas Andri. batin Arinda.


“Sayang, apa boleh aku kembali menjaga Arinda? Kalau kau enggak mengijinkan, aku akan menyuruh Art yang merawatnya.” ucap Andri.


“Kau jangan kesana.” titah Beeve.


“Baiklah, ayo kita ke kamar,” ajak Andri


“Enggak mas, malam ini aku akan menjaga Arinda, biar aku yang merawatnya,” ujar Andri.


“Apa? Kau mau merawatnya?! Apa kau salah minum obat?” Andri tak percaya jika Beeve akan menawarkan diri.


“Iya, tapi sebagai gantinya, kau enggak boleh masuk ke dalam kamarnya,” ucap Beeve.


Andri yang tak ingin bertengkar, mengikuti kemauan Beeve, meski ia tahu semua akan kacau.


“Iya mas, tidurlah, besok kau masih harus bekerja,” ujar Beeve.


“Oke sayang.” dengan berat hati, Andri meninggalkan Beeve untuk merawat Arinda.


Ya Tuhan, semoga Beeve enggak menghajar Arinda, batin Andri.


Setelah Andri turun dengan lift, Beeve kembali ke kamar Arinda.


Arinda pun buru-buru kembali ke ranjang dengan posisi tertidur pulas.


Krieeet!!!


Beeve masuk ke dalam kamar, kemudian duduk di sofa yang ada di sebelah ranjang Arinda.


“Hem, hem! Hei, bangun kau!” ucap Beeve yang tahu Arinda berpura-pura.


Arinda yang masih berakting tak mau mau buka mata.

__ADS_1


“Kalau enggak bangun sekarang, aku guyur pakai air ya!” Beeve bangkit dari duduknya menuju wastafel yang ada dalam kamar.


Zaaarsss!!! Arinda yang membuka sedikit matanya melihat Beeve menampung air dalam gelas.


Benar-benar gila ya dia! batin Arinda.


Beeve yang kembali ke ranjang Arinda memperingatkan madunya sekali lagi.


“Masih mau pura-pura? Aku hitung sampai 3, satu, dua tiga!” tanpa pikir dua kali, Beeve menumpahkan air ke wajah Arinda, yang membuat Arinda menghentikan sandiwaranya.


“Akhh!!! Kau gila!!” hardik Arinda seraya duduk.


“Hem, benar dugaan ku! Dasar licik!” wajah menyebalkan Beeve membuat Arinda muak.


“Kau yang licik! Ingin menguasai mas Andri sendirian! Kau pikir hanya kau istrinya?! Status kita berdua sama! Jangan sampai ku ulang lagi ya perempuan gatal! Aku ini istrinya yang paling resmi, aku mengandung anak biologsnya dan aku juga suci padanya, enggak seperti mu, sudah bolong bawa anak haram lagi! Sadar diri dong!” Arinda mengungkit kembali aib Beeve.


“Oh..., kau bawa-bawa masa lalu lagi ya! Tapi setidaknya, aku enggak mengambil milik orang lain! Kalau di ingat-ingat lagi ke belakang, kau kan hanya seorang yang tak punya apa-apa, serba bergantung pada ku, bukan hanya kau, tapi juga keluarga mu! Sampai motor yang kau pakai pun hadiah ulang tahun dariku, kurang baik apa coba aku pada mu dan keluarga mu, hum?”


“Itu salah mu! Siapa suruh terlalu baik? Enggak ada yang meminta kau lakukan itu semua bolong! Hah! Kalau kau mau, ambil kembali motor itu, dan uang yang kau beri dulu, bisa ku bayar lunas sekarang juga! Mau berapa hah? Satu milyar? Aku bisa bayar!” Arinda yang kini jadi orang kaya merasa sombong.


“Iya, bayar 1milyar, lumayankan!” ucap Beeve.


Arinda tak mengira kalau Beeve akan menerima uang yang ia tawarkan.


Enak saja mau ambil uang ku! batin Arinda.


“Keluar kau! Aku enggak sudi kau ada disini!” pekik Arinda.


“Oke! Aku juga enggak mau disini, lebih baik aku tidur manja dengan suami ku, jangan turun ke lantai bawah ya, takutnya kau kejang-kejang mendengar suara kemesraan kami berdua, hahaha,” Beeve memanas-manasi Arinda.


“Akhh!!! Pergi kau!” Arinda melempar bantal pada Beeve


“Dah, jelek!” Beeve melambaikan tangan pada Arinda.


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...

__ADS_1


__ADS_2