Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 102 (Isi Hati)


__ADS_3

Arinda yang terus mencoba mendial nomor Andri lagi-lagi gagal.


Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan, cobalah beberapa saat lagi. ucap sang operator dari balik telepon.


“Kok begini sih? Tadi kan masih aktif!” Arinda yang berada di rumah sakit terus mencoba mendial nomor Andri meski tahu tak bisa di hubungi.


“Akh!! Lagi-lagi mas Andri berulah!” pekik Arinda.


Dokter yang duduk di hadapannya geleng-geleng kepala.


“Bu Arinda, jangan terlalu stres, karena itu enggak baik pada kandungan anda,” ujar sang dokter memberi saran.


“Jangam campuri apa yang bukan urusan anda dok!” ucap ketus Arinda yang membuat dokter tampan itu mengangkat bahunya.


“Ini resep yang harus ibu tebus.” sang dokter menyodorkan secarik kertas pada Arinda.


Lalu Arinda yang di bawah rasa emosi meraihnya dengan kasar.


“Terimakasih dok!” dengan gayanya yang sombong ia keluar dari dalam ruangan sang dokter.


“Kalau enggak bisa di hubungi begini, mending aku ke kantornya, lihat saja Bee, akan ku bongkar semua kebusukan mu! Sudah salah kau membuat ku babak belur begini, aku yang baik hati dan juga mau berbagai kebahagiaan dengan mu malah kau remehkan, hah!! Kau harus menerima kesakitan tiada dua dariku!” ucap Arinda seraya melihat wajah lebam dan bengkaknya pada kaca mini yang ia bawa kemana-mana.


“Tapi kenapa dia kuat banget ya? Ku pikir dia hanya perempuan yang tahunya berbohong dan menangis,” gumam Arinda.


____________________________________________


Andri yang telah kembali melihat Beeve termenung seraya meletakkan tangan ke dagunya.


“Sayang, kenapa kau melamun? Apa kau ada masalah?” tanya Andri seraya duduk di sebelah istrinya.


Beeve dengan perasaan tak karuan menggelengkan kepala.


“Aku baik-baik saja mas.” lalu Andri memeluk Beeve yang suhu tubuhnya sangat dingin.


“Sayang, kau sakit? Kenapa tangan mu dingin sekali?”


“Aku sehat-sehat saja kok mas, ayo kita makan,” ucap Beeve.


“Baiklah, makanlah lebih dulu, biar ku ambilkan air hangat, agar tubuh mu tak dingin lagi.” Andri bangkit dari duduknya menuju dispenser yang ada dalam ruangannya.


Entah kenapa, aku merasa enggak nyaman di peluk mas Andri, batin Beeve.


Andri yang duduk kembali dengan membawa dua gelas air hangat melempar senyum pada Beeve.


“Makanlah sayang, ini sudah mau jam 09:00, kasihan anak kita, pasti dia sudah kelaparan.” Andri mengelus perut istrimya. Sedangkan Beeve terus memperhatikan Andri dengan lekat.


“Anak ayah, lapar ya sayang? Lain kali kalau kau merasa lapar, tentang saja perut mama mu ya, ummuachh,” ucap Andri seraya mencium perut Beeve.


Perasaan Beeve menjadi agak aneh pada Andri, setelah ia mengetahui hubungan gelap Andri dan Arinda.

__ADS_1


Kenapa hati ku jadi panas melihat mu mas? batin Beeve.


“Lagi-lagi kau melamun? Ayo makan buburnya, nanti keburu dingin.” Andri pun berinisiatif untuk menyuap Beeve.


Namun Beeve mengambil sendok buburnya dari tangan Andri.


“Biar aku saja mas, kau sendiri enggak makan?”


“Aku kan sudah makan di rumah,” ucap Andri.


“Baiklah.” Beeve mulai menyuap bubur tersebut ke dalam mulutnya.


“Aku kaget banget saat enggak melihat mu di rumah, enggak tidur di samping mu satu malam saja membuat ku gelisah,” Andri mengungkapkan isi hatinya.


Kau bohong! pekik Beeve dalam hatinya.


“Kau tahu aku tidur jam berapa sayang tadi malam?” Beeve menggelengkan kepalanya.


“Jam 03:00 pagi, aku memikirkan mu terus, hati ku juga bertanya-tanya, kenapa kau pulang mendadak, dan paginya aku hanya makan sedikit, sama sebelum aku menikah, selama ini aku banyak makan mengikuti porsi mu sayang, makan di samping mu membuat ku selalu berselera.” terang Andri.


Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Andri membuat Beeve ingin muntah, ia yang pernah termakan gombalan dari Cristian pun merasa jijik. Pada hal semua yang Andri katakan tulus dari dalam hatinya.


“Lain kali, kalau kau pergi kemana-mana apa lagi sampai menginap, jangan sendiri ya, ajak aku,” ucap Andri.


“Insya Allah mas.” Beeve menyudahi makannya, meski buburnya masih tersisa banyak.


“Apa buburnya enggak enak?” tanya Andri, karena biasanya apapun selalu masuk ke perut Beeve.


“Kalau begitu kau harus makan di luar, beli apa yang kau suka.” ucap Andri dengan memeluk tubuh Beeve.


Kenapa rasanya aku mau marah pada mas Andri? Apa ini yang namanya cemburu? batin Beeve.


Ia pun melirik tangan suaminya yang bidang, pikiran kotornya pun berjalan kemana-mana, ia pun membayangkan bagaimana tangannya Andri menjamah tubuh Arinda.


“Kotor.” gumam Beeve tanpa sadar.


“Apa yang kotor?” tanya Andri.


“Eh, enggak kok mas, maksud ku, gigi ku yang kotor,” Beeve jadi salah tingkah.


“Mana biar ku periksa.” ucap Andri seraya membuka bibir Beeve dengan jemarinya.


“Bersih kok sayang, hemm... bilang saja kalau kau mau di cium.” Andri menggoda istri cantiknya. Beeve dengan senyum kaku menyangkal pernyataan Andri.


“Bu-bukan begitu mas, aku serius.” ucap Beeve.


“Apapun alasannya, biarkan aku mencium mu! Aku benar-benar rindu.” Andri dengan cepat mengecup bibir Beeve di sertai dengan pagutan-pagutan mesra.


Beeve yang masih marah mendorong tubuh Andri.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Andri.


“A-aku belum gosok gigi mas,” jawab Beeve dengan tatapan canggung.


“Bukan alasan, ada apa sayang? Kau juga terlihat tak menikmatinya, katakan pada ku, apa yang mengganjal di hati mu,” pinta Andri yang merasa kalau Beeve menyimpan sesuatu.


“Aku menikmati kok mas, hanya saja bau buburnya membuat ku tak percaya diri.” Beeve mengalihkan pandangannya dari Andri.


“Benarkah? Apa bau bubur lebih pekat dari pada bau jengkol yang kau makan kemarin?”


“Mas, maafkan aku kalau sudah merusak suasana.”


“Bukan soal suasananya sayang, tapi kau seperti tak menginginkannya, ada apa? Apa ibu mertua mengatakan sesuatu? Apa aku berbuat salah pada mu?” Andri menjajal Beeve dengan beberapa pertanyaan.


“Enggak mas, kami enggak membahas dirimu, selain bau bubur, aku enggak enak kalau harus melakukannya di kantor,” ucap Beeve.


Andri yang tak ingin memperpanjang masalah pun mengelus dadanya.


“Ya sudah, maafkan aku ya sayang, kalau membuat mu enggak nyaman, tapi... apa kau enggak kuliah hari ini?”


“Kuliah mas, nanti jam 13:00, ngomong-ngomong, mas Emir ambil cuti ya mas?”


“Cuti? Aku kurang tahu tuh.” ucap Andri yang tak dapat kabar apapun dari keluarganya.


“Nomorya juga enggak aktif, apa mas punya kontak terbarunya?”


“Sejak kapan dia ganti nomor? Lagi pula kenapa dia harus cuti?” ucap Andri yang tak tahu apapun soal adiknya.


“Oh, ku pikir kau mas tahu.”


Apa Emir pergi karena ku? Batin Andri.


“Ya sudah mas kalau begitu, aku pulang ya, lagi pula kau juga harus kerja,” ucap Beeve.


“Oke sayang, hati-hati di jalan ya.” keduanya pun berdiri dan saling berpelukan.


“Mas, apa aku boleh tanya sesuatu pada mu?”


“Apa sayang?”


“Seberapa cinta kau pada ku?”


“Hmm, seberapa besarnya aku enggak tahu, yang jelas, tanpa mu aku gila, dan apapun yang terjadi, hati kecil ini selalu memilih mu, enggak akan pernah ke lain hati.” terang Andri, lalu Beeve mendongak, menatap lekat wajah suaminya.


“Benarkah mas?”


“Buktikan saja.” ucap Andri mengeratkan kembali pelukannya pada Beeve.


Aku enggak tahu takdir apa yang menunggu ku di hari esok, yang jelas aku mencintai mu Bee, batin Andri.

__ADS_1


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2